
Oleh : Hendri D
DI TENGAH malam nan pekat. Embun bercampur keringat membasahi rambut dua pria. Mereka menerobos rerimbunan dedaunan di salah satu hutan di Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Tak sempurnanya semburat pendar cahaya bulan memeluk bumi membuat suasana lain menyembul dari dalam hutan. Hembusan angin serta suara binatang malam seperti burung hantu, tonggeret, jangkrik dan lainnya menjadikan malam itu berbeda dengan malam-malam sebelumnya.
Waktu menunjukan sekitar pukul 22.00 WIB. Dua orang berjalan meninggalkan hutan tanpa nama menuju pulang. Jarak antara rumah dengan hutan sekitar 10 kilometer. Mereka adalah Hermansyah dan Jupri, pemburu madu lebah hutan warga tempatan.
Hanya bermodalkan semburat cahaya bulan dan alat penerangan seadanya berupa senter, mereka berjalan kaki mengikuti jalan setapak. Terkadang tak jarang menerobos semak belukar sekedar memburu sarang lebah madu hutan.
Mereka tak mempedulikan malam yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Sambil terus berjalan dibenak mereka terbayang lembaran-lembaran rupiah yang
bakal diterima menyusul sarang madu yang ditaruh dalam ember bekas cat ukuran 25 kilogram.
Selain ember, mereka juga membawa parang atau pisau tajam untuk memotong sarang madu.
Dalam mencari madu lebah liar di hutan, mereka terbilang nekat. Hanya mengenakan sandal jepit. Beruntung tidak digigit ular atau binatang berbisa lainnya.
Namun tak urung kaki mereka menjadi sasaran empuk kawanan semut hitam atau bermandikan lumpur tatkala terperosok di kubangan kecil.
Dua pria itu terus berjalan dan berjalan menembus gelapnya malam. Kendati demikian, batin Hermansyah membatin tidak bisa menafikan perasaan ganjil yang mulai menggayut.
Biasanya, dia berjalan kaki dengan waktu tempuh yang sama maka dari kejauhan sudah terlihat perkampungan.
Pada malam-malam sebelumnya dengan menelusuri jalan pulang sekitar 40 menit atau satu jam mereka sudah sampai di tempat parkir motor yang diparkirkan di pinggir hutan. Namun kali ini tidak, sepanjang mata memandang yang terlihat hanya rerimbunan pepohonan. Buru-buru Hermansyah membuang jauh-jauh perasaan ganjil berikut beragam pikiran buruk di benaknya. Dia tetap berjalan menelusuri sejengkal demi sejengkal jalan setapak di hutan. Sementara rekannya, Jupri mengikuti dari belakang.
Harmansyah tidak tahu pasti sudah berapa lama dia berjalan menelusuri hutan. Namun untuk kali ketiga mata elangnya kembali melihat pohon yang sama dengan ciri-ciri tertentu yang membuat lelaki berbadan tegap itu hapal di luar kepala penampakan fisik pohon tersebut.
Setelah pusing sana, pusing sini (berputar-putar, red) dengan kembali ke pohon yang sama, akhirnya sadar bahwa mereka telah tersesat
Lantas apa yang dilakukannya setelah sadar bahwa dia tersesat? Hermansyah pun memberitahukan rekannya Jupri bahwa mereka tersesat dan berputar-putar di tengah hutan.
Hermansyah seolah-olah masuk ke dalam mesin lorong waktu yang melemparkannya ke masa sekitar 7 tahun silam tepatnya sekitar 2018 (dia lupa tanggal dan bulan peristiwa itu, red).
Sang kawan yang berada di belakangnya hanya bisa menganggukan kepala seraya berkata pelan. “Iya, bang?” Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Hermansyah dan Jupri tetap mencari jalan keluar dengan cara terus menelusuri jalan setapak.
Sambil melangkahkan kaki, kedua orang itu larut dalam pikiran masing-masing. Malam kian hening dan sunyi hanya suara binatang terdengar dan desiran angin.
Rambut yang tadi sudah basah dengan keringat bercampur embun kian membasahi tubuh mereka. Kondisi itu membuat adrenalin kedua pria itu kian meninggi.
Menghadapi keadaan di luar kendali tersebut, dua lelaki itu lebih memilih banyak diam. Kalaupun berbicara hanya seperlunya. Seperti mengingatkan sesama mereka jika ada ranting kayu, lubang dan sebagainya agar waspada.
Hermansyah dan Jupri tanpa kenal lelah terus mencari jalan pulang. Sementara nun jauh di sana di tengah keheningan malam seorang perempuan mulai resah dan gelisah.
Ya, Nuraini nama perempuan itu yang tak lain istri Hermansyah.
Detak jantungya mulai tidak beraturan.
Nuraini mahfum dalam mencari madu di hutan tak jarang bisa terjadi halangan seperti hujan atau lainnya.
Kalau pun pulang terlambat, sang suami mengobrol saat bertemu kawan di jalan atau dengan sesama pencari madu lainnya. Yang terang tidak sampai larut malam bahkan subuh menjelang.
Hermansyah mengaku kegelisahan sang isteri, karena tidak seperti biasanya pulang terlambat lama. Ya, ini merupakan kejadian kali pertama tersesat di hutan.
Nuraini resah dalam penantian. Dia merasa jarum jam begitu lambat berjalan, dari detik ke menit. Setiap melihat alat penunjuk waktu hanya gelisah yang didapat.
Malam terus merambat. Asa perempuan itu teramat sederhana. Ia hanya berharap pria dari ayah tiga anak buah pernikahan mereka tidak mengalami masalah serius di hutan.
Setelah kesekian kalinya Hermansyah dan Jupri pusing sana, pusing sini mencari jalan keluar akhirnya pemilik nama pertama memutuskan untuk beristirahat sesaat.

Keputusan beristirahat sejenak diambilnya untuk menenangkan diri. Karena Hermansyah berpendapat saat seseorang tersesat di hutan maka pikiran mereka dipengaruhi oleh yang tak tampak (istilah Hermansyah untuk mahluk astral, red).
Setelah istirahat dinilai cukup sambil berdoa, dalam hati tak urung dia bergumam. “Kami cuma cari makan, jangan ganggu.”
Entah kepada siapa kalimat itu ditunjukannya, yang terang mereka terus berusaha mencari jalan pulang.
Apakah Hermansyah dan Jupri bisa ke luar dari hutan? Ternyata belum. Kendati begitu, rasa tenang mulai menyelimuti langkah kakinya. Tidak seperti sebelumnya.
Meski jalan pulang belum ditemukan. Namun kedua pria itu tetap melangkahkan kakinya. Sementara hati mereka terus memanjatkan doa semampunya.
Dikala asa mulai beringsut ke titik nadir, sayup-sayup terdengar suara adzan. Hermansyah dan Jupri tersentak kaget dan gembira berbaur menjadi satu karena waktu subuh menjelang.
Sontak Hermansyah ingat petuah orang tua-tua di kampung yang mengatakan kalau tersesat di hutan dan mendengar adzan maka ikuti garis lurus dengan suara panggilan untuk orang salat.
Selain suara adzan maka ada juga petuah yang menyebutkan kalau tersesat ikuti aliran air, karena akan menuju ke laut atau hilir. Hanya saja waktu itu Hermansyah tidak menemukan aliran air.
Memang, Hermansyah dan Jupri berhasil menemukan jalan pulang setelah diduga ‘disesatkan’ mahluk astral. Namun mereka ke luar bukan di tempat awal masuk ke dalam hutan melainkan di lokasi lain. Alih-alih siang harinya barulah dia menjemput motor yang tetap setia terparkir di pinggir hutan menunggu induk semang.
Lantas berapa kilometer mereka berjalan menelusuri hutan jika dihitung mulai dari pukul 22.00 WIB hingga sekitar pukul 05.00 WIB?
Hermansyah mengaku tidak tahu persis berapa kilometer dia berjalan. Tapi, melihat lama waktu tempuh pulang ke rumah. Dia menduga belasan atau puluhan kilometer.
Saat dilayangkan pertanyaan menggoda mengapa mereka tidak membalikkan semua pakaian yang dikenakan seperti kesaksian sejumlah orang yang pernah tersesat di hutan atau tips yang berseliweran di Media Sosial (Medsos)? Hermansyah cuma menjawab bahwa yang ia tahu dari petuah orang tua-tua suara adzan dan mengikuti aliran air. Kalau yang lain dirinya tidak tahu.
Meski hutan tanpa nama itu masuk ke dalam jenis hutan sekunder, yakni hutan yang tumbuh kembali setelah adanya gangguan pada hutan alam, seperti penebangan atau kebakaran.
Namun demikian tak kalah wingit dengan hutan primer yakni hutan tua atau hutan perawan yang belum pernah mengalami gangguan signifikan oleh aktivitas manusia.
Paling tidak, saat berjalan mereka kerap mencium aroma tertentu seperti bau masakan rendang, kentang hangus, wangi bunga dan sebagainya.
Tak hanya sampai di situ, saat berada di tengah hutan berburu madu pada malam hari, Herman mengaku kerap mendengar orang main kompang (alat musik tradisional Melayu berbentuk bundar dan pipih, mirip rebana yang cara memainkannya dengan dipukul menggunakan telapak tangan, red) dan gamelan (ansambel musik tradisional dari Jawa, red).
Masih kata Hermansyah bahkan memanggil nama. Kalau siang, lanjut dia, mungkin tidak menjadi masalah, tapi di tengah malam tentu lain, jelas pria itu tersenyum kecil penuh arti.
Kalau sudah begitu sontak bulu kuduk Hermansyah dan kawan seperjalanan berdiri. Dia pun berargumen bahwa hal itu bisa jadi salah satu resiko pekerjaan.
Tidak hanya sebatas berhadapan dengan mahluk astral atau hal-hal yang berbau mistis. Namun ancaman tak kalah serius yang sewaktu-waktu bisa mengancam nyawa mereka tatkala berhadapan dengan binatang buas.
Dilain waktu Hermansyah samar-samar berpapasan dengan mahluk berbulu hitam lebat, sesaat pria itu terdiam menerka-nerka mahluk apa yang berada dhadapannya?
Gelapnya malam membuat hanya mata mahluk itu terlihat plus bulu hitam. Namun teka-teki itupun terjawab seiring dengusan napas mahluk tersebut keluar menimbulkan irama tertentu.
Ternyata yang menghadangnya adalah beruang madu (Helarctos Malayanus). Tanpa membuang waktu pria itu balik kanan.
Hermansyah sempat down. Ya, dia hanya bisa mengambil langkah seribu menerabas apa saja dihadapannya
Tak hanya beruang yang diketahui penggemar berat madu. Namun ancaman yang tak kalah serius juga datang dari ular.
Pernah suatu ketika mereka hendak memanjat untuk mengambil sarang lebah. Ee, ular piton sudah duluan membelit pohon besar. Tidak ingin urusan menjadi panjang mereka pun meninggalkan lokasi.
Kisah Rahmadi pemburu madu lebah liar lainnya juga tak kalah mencekam. Seperti biasanya dia dengan beberapa kawan masuk ke hutan mencari cairan kaya khasiat yang memiliki nama ilmiah Apis Dorsata.
Namun belum sempat asa berlabuh. Rahmadi menghadapi kondisi yang membuat nyalinya sempat ciut.
Ternyata pria berambut lurus itu berhadapan dengan Macan Akar (Felis Bengalensis). Meski tidak sebesar Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae) tapi memiliki belang layaknya raja hutan. Hanya saja tubuhnya sebesar anjing.
Terkait keberadaan mereka di hutan yang kerap mengalami peristiwa mencekam, Rahmadi menilai namanya juga di hutan tentu sering bertemu dengan hal yang mengerikan.
Dia pun mengutip peribahasa Melayu, “Kalau takut dilambung ombak, jangan berumah di tepi pantai.
Kendati begitu, Rahmadi masih bisa bernapas lega dan bersyukur, karena selama berburu madu lebah di hutan belum pernah bertemu Harimau Sumatra.
Kendati begitu, dia berharap jangan sampai bertemu harimau, namun demikian tak urung tapi dia kerap menjumpai jejak kaki si raja hutan.
Lantas mengapa para pencari madu lebah hutan beroperasi pada malam hari? Rahmadi menjelaskan dipilihnya waktu itu bukan tanpa alasan.

Tapi saat memanen madu di hutan mereka menggunakan Alat Perlindungan Diri (APD) berupa pakaian tebal seperti baju, celana panjang dan sarung tangan termasuk topi khusus (sebo) menghindari sengatan lebah.
Dengan kata lain, memanen madu hutan kapan saja bisa dilakukan. Apakah siang dan sore hari? Tapi dengan perlengkapan pakaian seperti itu tentu panas. Makanya mereka lebih memilih mengambil madu lebah hutan saat malam hari untuk mengurangi rasa panas.
Penasaran dengan jejak kaki Harimau Sumatra yang kerap dijumpai pemburu
madu lebah liar saat berada di hutan, www.temporiau.co pun mewawancarai Ketua Yayasan Penyelamatan Konservasi Harimau Sumatra (YPKHS) Bastoni, untuk mengetahui mengapa jejak binatang buas banyak ditemui di hutan tanpa nama.
Toni –demikian Bastoni akrab disapa, red- menjelaskan bahwa di Riau bagian pesisir meliputi Kabupaten Bengkalis, Siak, Rokan Hilir (Rohil) dan Kota Dumai tidak terkecuali Desa Tanjung Leban merupakan pelintasan hewan carnivora.
Penggiat lingkungan yang mulai aktif sejak tahun 1985 di sejumlah taman nasional dan konservasi hewan langka sebelum berlabuh di Kota Dumai pernah memonitor keberadaan Harimau Sumatra di Hutan Senepis, menjelaskan beberapa waktu lalu dia dan instansi terkait mengevakuasi seekor harimau di daerah Bukit Batu yang jaraknya tidak begitu jauh dengan Desa Tanjung Leban .
Ditambahkannya bahwa wilayah itu termasuk pelintasan Harimau Sumatra notabene banyak ditemukan jejak kaki hewan buas itu.
Lantas kapan waktu dinilai aman untuk menyelusuri hutan? Bastoni menjelaskan bahwa kucing besar itu masuk ke dalam kategori binatang nocturnal, hewan memiliki sifat atau kebiasaan untuk aktif pada malam hari.
Namun demikian, buru-buru Toni menambahkan bukan berarti siang atau sore hari aman berada di kawasan hutan.
Masih kata dia, dari pengamatan puluhan tahun terhadap kebiasaan ‘tuk belang’ melalui kamera trap maka waktu itu dinilai juga tidak aman.
Sebagai informasi kamera trap berfungsi untuk memotret semua objek yang melewati teknologi buatan Inggris. Cara kerjanya pun terbilang simpel, memanfaatkan sensitivitas sinar infra merah yang berasal dari transmeter selanjutnya melalui resirver dikirim ke kamera.
Dua alat itu letaknya tak jauh dari kamera yang dipancangkan ke kayu dengan ketinggian sekitar 70 cm, saat “tuk belang” lewat, “Pree…tt!”, raja hutan itu tak sadar jika ia sedang berpose.
Lebih lanjut Toni menjelaskan dari puluhan tahun pengamatan yang dilakukannya terhadap Harimau Sumatra mulai dari taman nasional Way Kambas hingga Kerinci Sebelat dan lainnya termasuk Hutan Senepis di Kota Dumai, diketahui hewan itu tidak pernah tertangkap kamera trap dari pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 12.00 WIB.
Berdasarkan pengamatan melalui kamera trap sebagai kesimpulan awal, kata Toni, bisa jadi waktu pagi hingga menjelang zuhur terbilang aman diduga binatang itu masih istirahat. Yang paling aman, ya, tidak melakukan aktivitas di hutan.
Kendati begitu, Toni menilai tidak tertutup kemungkinan kebiasaan ‘tuk belang’ berubah mengingat rusaknya ekosistem hutan pasca alih fungsi dan sebagainya yang membuat hewan itu kesulitan untuk mendapat makanan.
Lebih lanjut dijelaskannya bahwa dalam piramida makanan posisi harimau berada paling atas atau di puncak.
Namun dengan banyaknya hutan beralih fungsi otomatis hewan itu sulit mendapatkan makanan, karena santapan tradisionalnya seperti babi, rusa, kancil dan sebagainya juga diburu. Patut diduga ini salah satu menjadi penyebab mengapa mereka masuk ke kawasan pemukiman yang berujung terjadinya konflik.
Seperti diketahui di beberapa daerah menjadi tabu ‘menyapa’ nama harimau dengan sebutan nama langsung. Selalu ada gelar seakan sebagai bentuk penghormatan.
Di Riau bagian pesisir, misalnya, kucing besar itu dipangil ‘datuk’, ‘tuk belang’ atau ‘pak belang’. Sementara di daerah Sumatra Barat (Sumbar) sekitarnya binatang carnivora itu dijuluki ‘inyiak’ yang artinya kakek
Ya, Harimau adalah pemburu handal. Selain dilengkapi taring dan sederetan kuku tajam plus empat kaki berotot baja, binatang carnivora itu juga memiliki sepasang mata dingin memancarkan aura tertentu.
Kata orang Melayu, pengeringnya dahsyat. Jika bertatapan dengan ‘pak belang’ (sebutan lain warga tempatan untuk harimau, red) seakan memutuskan urat takut.
Walau demikian, konon harimau lebih takut pada tatapan tajam manusia, makanya kalau memangsa manusia, tak pernah dari depan, tetapi dari belakang. Selalu yang jadi sasaran adalah tengkuk atau kuduk. Mengerikan, memang.
Sejatinya, ‘tuk belang’ enggan menganggu manusia. Hanya karena empat faktor lah yang membuat ‘sang datuk’ naik pitam.
Adapun pemicu mengapa mereka menyerang manusia maupun hewan ternak, habitatnya terganggu, terluka, sakit dan memasuki usia senja atau pikun. Namun, ya itu tadi, faktor pertamalah menjadi penyumbang terbesar mengapa konflik harimau versus manusia terjadi.
Apa boleh buat, sempitnya areal hutan akibat dugaan praktek illegal loging dan alih fungsi hutan melalui pembukaan lahan baru yang diduga dilakukan orang-orang kota berkantong tebal –biasanya dipanggil ‘taoke’- membuat mereka terdesak, benturan kepentingan antara manusia dengan ‘tuk belang’ tak terelakan lagi. Ujung-ujungnya membuat ‘sang datuk’ meradang. Masuk kampung ke luar kampung menunjukan bagaknya sambil mencari makan.
Dicibir. .
Suatu siang menjelang sore, Rahmadi muda resah membuang gundah. Suasana hatinya sunyi. Kehidupan pun serasa raib.Tampaknya ada pergulatan batin hebat di sana.
Ya, lelaki itu baru saja menamatkan pendidikannya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama di Kota Pekanbaru tepatnya tahun 2015.

Tidak seperti kebanyakan pemuda di negeri ini setelah menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S1), misalnya, lalu memburu lapangan pekerjaan di kota meninggalkan desa tempat mereka lahir dan dibesarkan.
Hal itu tidak berlaku bagi lelaki kelahiran 25 Januari 1995 ini. Ketika duduk di bangku kuliah Rahmadi sudah bertekat usai menamatkan pendidikan ia akan kembali ke desa dan membangun tanah kelahirannya.
Rahmadi menjelaskan, dari SD hingga perguruan tinggi sudah merantau meninggalkan kampung. Makanya saat kuliah dia bertekad usai diwisuda kembali ke kampung, kalau tidak kita siapa lagi yang membangun desa.
Itupula yang mendorong Rahmadi terjun ke tengah aktivitas warga desa, mulai dari menjaring ikan di laut, ke kebun dan sebagainya. Disamping mencari peluang potensi apa yang bisa di kembangkan di tanah leluhur.
Siang menjelang sore itu, Rahmadi tidak sendirian dia ditemani beberapa warga lainnya. Selain menikmati belaian angin khas kawasan pesisir lahan gambut, suasana itu dimanfaatkannya untuk refresing sekalian mencari inspirasi.
Dalam suasana hati yang lelah dan hampir patah, pandangannya seperti disedot oleh kedatangan beberapa kawanan lebah turun ke sebuah parit dan meminum air yang ada di sana.
Tak luar biasa, sebenarnya. Tetapi, entah mengapa, pemandangan itu mulai mengusik benaknya.
Rahmadi terkesima. Ya, sunyi tak lagi mati, tetapi menjanjikan kehidupan baru. Sore itu ia menangkap pesan. Memang, tak jarang alam bekerja dengan cara ajaib, dalam situasi yang paling mustahil untuk menyodori kehidupan.
Karena alam merupakan ibu bagi setiap orang. Ya, dia mampu menjadi sekolah yang mengajarkan anak-anaknya tentang berbagai kehidupan untuk memberikan semangat baru.
Pria itu pun teringat petuah orang tua-tua di kampung bahwa sebelum lebah pulang ke sarang untuk “menyetor” sari bunga ke sang ratu mereka terlebih dahulu meminum air.
Rahmadi dan beberapa kawannya mengikuti ke mana lebah terbang. Ternyata hewan yang masuk ke dalam jenis serangga itu hinggap di sebuah pohon yang didapati ada sarangnya.
Sambil mengikuti arah terbang lebah, dalam jarak tertentu mereka memberi tanda dengan jalan mematahkan ranting pohon yang dijumpai.
Itulah awal perkenalan Rahmadi dan kawan-kawan dengan lebah madu hutan. Beberapa waktu kemudian dengan berbekal pengetahuan seadanya mereka pun mendatangi sarang lebah mengikuti ranting yang telah dipatahkan untuk mengambil madunya.
Profesi mengambil lebah madu di hutan yang dilakoninya, bukan turun menurun, karena orang tua dia seorang petani. Namun demikian, memang ada juga sebagian warga yang turun menurun.
Lantas mengapa lebah itu turun sesaat meminum air? Rahmadi menjelaskan hal itu dilakukan hewan tersebut untuk menjaga ke kentalan madu.
Kendati menuju sarang lebah telah di beri ranting sebagai pertanda. Dan selanjutnya sore hari sekitar pukul 15.00 WIB meninggalkan rumah pergi ke hutan.
Namun tidak serta merta sarang lebah yang sudah diincar itu menjadi hak milik mereka sepenuhnya. Tidak jarang ke duluan pemburu lebah madu hutan lainnya.
Rupa-rupanya tulisan di belakang bis kota atau Angkot seperti; “Sesama angkutan umum dilarang saling mendahului” tidak berlaku.
Tidak hanya didahalui pencari madu lebah lainnya. Namun dilain waktu Rahmadi dan kawan-kawan kalah cepat dengan beruang.
Kalau sudah begitu mereka hanya bisa mengurut dada serya berucap di dalam hati bahwa sarang madu itu rezeki beruang, bukan rezeki mereka. Rahmadi hanya bisa pasrah. Ya bukan rezeki mau bilang apa?
Kendati sarang lebah yang akan dipanen telah ditentukan ternyata tidak semua sarang menjanjikan hasil panen yang melimpah.
Untuk yang satu ini, Kepala Divisi Teknis Kelompok Madu Biene Hermansyah menjelaskan bahwa banyak atau tidaknya madu dalam sarang tidak tergantung besar kecilnya benda yang biasa menempel di dahan pohon.
Akan tetapi, lanjut Hermansyah, tergantung kepala madu yang berbentuk sedikit gembung berada di atas sarang.
Dia menjelaskan fungsi kepala madu seperti gudang dan berwarna putih, kalau sarang lebah belum mempunyai kepala madu berarti belum bisa di panen. Bukan berarti di dalam sarang itu tidak ada madu.
Kalaupun di panen hasilnya tidak optimal. Semakin besar kepala madu berarti banyak madunya.
Dalam memanen lebah madu hutan, sambung Hermansyah, tidak dilakukan serampangan. Diusahakan yang diambil adalah kepala madu.
Sementara bagian sarang disisakan atau diupayakan tetap utuh, karena mengandung telur dan larva lebah. Sehingga koloni dapat tetap berkembang notabene lebah dapat kembali membangun serta memproduksi madu berikutnya.
Selain memastikan kepala madu, saat panen dilakukan maka dipastikan madu yang dipanen adalah madu matang, yang ditandai dengan sel sarang yang tertutup lilin (wax capped).
Akan tetapi, kalau kepala madu susah diambil. Mau tidak mau mereka terpaksa mengambilnya berikut arang-sarangnya.
Lalu berapa madu dihasilkan jika sarang lebah memiliki kepala madu besar? Hermansyah menjelaskan kalau nasib lagi mujur dengan gembung kepala madu besar maka sekali panen bisa dua ember bekas cat tembok ukuran 25 kg dibawa pulang.
Memang, jika dewi fortuna menaungi maka perasan keringat bertukus lumus mencari madu di hutan terasa impas dengan madu yang dihasilkan.

Akan tetapi, jika nasib baik menjauh seperti sasaran buruan telah didahului orang atau ketika akan memanen madu tiba-tiba hujan turun. Selain berteduh menunggu hujan reda terkadang mereka mengurungkan niat memanen madu dengan pertimbangan pohon yang akan di panjat basah serta kadungan air di sarang lebah diperkirakan tinggi. Kalau sudah begitu mereka pulang dengan tangan kosong.
Perjuangan berat Rahmadi dan kawan-kawan untuk mendapatkan setetes madu hutan tidak sampai di situ. Agar bisa sampai ke lokasi melewati semak belukar dan rerimbunan pepohonan.
Memang, ada sarang lebah berada di pohon relatif pendek itupun bisa dihitung dengan jari. Namun tidak jarang mereka harus memanjat pohon kayu berlingkaran mencapai 1 meter lebih serta ketinggian mencapai 10 meter hingga 20 meter bahkan ada yang mecapai 30 meter, dengan kondisi batang terbalut kulit kayu yang sudah mengelupas.
Apakah mereka tidak takut resiko jatuh yang berakibat fatal? Dia hanya berujar sudah resiko pekerjaan.
Sebelum memanen lebah madu, biasanya mereka melakukan pengasapan (smoker) salah satunya bertujuan untuk menenangkan lebah.
Asap membantu mengurangi agresivitas lebah tanpa membuat mereka stres berlebihan atau melarikan diri dari sarang karena merasa terancam. Disamping menghindari sengatan binatang itu.
Terkait pengasapan, Rahmadi menjelaskan mereka menggunakan sabut atau daun kelapa kering yang dibakar untuk mengusir lebah agar madu bisa di panen.
Teknik itu berbuntut panjang yang tidak mengenakan bagi mereka. Apa pasal? Tatkala Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terjadi mereka menjadi kambing hitam sebagai penyebab peristiwa tersebut.
Dulu, jelas Rahmadi, mereka biasa mencari madu di dalam hutan dengan sistem pengasapan menggunakan sabut kelapa atau daun kelapa kering yang dibakar. Ini dilakukan untuk menghalau lebah, agar bisa dipanen madunya. Karena kebiasaan tersebut para pencari madu selalu dijadikan kambing hitam penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi.
Rahmadi menjelaskan setelah mendapatkan sarang lebah madu. Selanjutnya api dipadamkan agar tak terjadi kebakaran.
Lebih jauh Rahmadi menjelaskan, ketika Karhutla terjadi, dia dan sejumlah rekannya terpaksa “dirumahkan” tanpa pesangon. Yang terang ini bukan akibat lesunya perekonomian menyusul gonjang-ganjingnya ekonomi global. Namun mereka tidak bisa ke hutan mencari madu yang dihasilkan lebah liar.
Imbas Karhutla sangat memukul mata pencariannya. Karena bencana itu hanya menyisakan abu dan dedaunan yang merengas serta mimpi buruk.
Masih kata dia, selain ancama penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Siapa yang sanggup menghadang bara api yang sewaktu-waktu bisa mengancam hidup mereka.
Kata Rahmadi, kalau mereka melakukan pembakaran sama saja dengan bunuh diri. Karena mencari lebah madu di hutan menyangkut masalah periuk nasi. Tidak mungkin periuk nasi sendiri mereka tutup.
Terkait tudingan bahwa pencari madu di hutan diduga menjadi penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa (Kades) Tanjung Leban Jhon Ikbal mengatakan memang mereka menjadi kambing hitam menyusul peristiwa itu.
Padahal membara-nya hutan bisa saja disebabkan oleh sepuntung rokok.
Oleh karena itu, sambung dia, pengasapan sudah dilarang karena memiliki potensi Karhutla. Sekarang pencari madu lebah hutan saat memanen sudah menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
Untuk mengetahui seberapa jauh rawannya lahan gambut terhadap Karhutla, beberapa waktu lalu awak media ini mewawancarai sejumlah warga di Kampung Jawa, Kelurahan Sungai Pakning dan Kampung Baru, Desa Batang Duku, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Menurut warga setempat, jika tanah gambut digali dengan kedalaman 60 sentimeter masih belum ditemukan air maka mereka akan was-was.
“Ini berarti kekeringan dan kita khawatir. Jika kondisi seperti itu maka dengan hanya sebatang puntung rokok, ya, kejadian (lahan terbakar, red),” terang salah seorang warga.
Tak terasa hampir empat tahun Rahmadi serta kawan-kawan bertukus lumus lalang melintang memburu madu di hutan dari tahun 2015. Akhirnya sekitar tahun 2019, dia dan sejumlah warga lainnya memutuskan untuk menghentikan pekerjaan penuh resiko.
Lalu apa yang membuat ayah Muhammad Fairus (3) dan kawan-kawannya meninggalkan pekerjaan yang menyimpan segudang kisah yang terkadang membuat adrenalin mereka meninggi dan bulu kuduk berdiri?
Apakah keputusanya tidak lagi mencari madu ke hutan terkait menjadi kambing hitam menyusul Karhutla?
Dengan sendirinya, tidak ada cerita lagi di masyarakat kalau pencari madu yang menjadi penyebab Karhutla.
Rahmadi juga menepis resiko yang diterima para pencari madu liar di hutan juga ikut mempengaruhui keputusannya mundur dari profesi yang digelutinya sekitar empat tahun itu.
Berkenaan dengan resiko yang di tanggung, lanjut dia, tak pernah jadi permasalahan. Karena segala resiko itu sudah terjadi pada mereka.
Lantas apa yang membuat Rahmadi dan kawan-kawan memutuskan untuk tidak berburu madu di hutan? Lelaki itu mejelaskan keputusan tersebut diambil karena kian sempit lahan mata pencarian seiring hutan belukar semakin sedikit akibat lahan telah beralih fungsi.
Dahulu, sambung dia, masyarakat tak mau menanami lahan karena trauma dengan kebakaran.
Namun sekarang rata-rata masyarakat telah memanfaatkan lahannya untuk ditanami sawit. Sehingga hutan belantara sekarang semakin sedikit jumlahnya. Ya, membuat para pencari lebah liar perlu ke daerah lain untuk memperluas jangkauan mencari madu.
Akhirnya melalui pembicaraan yang intensif sesama mereka maka disepakati untuk membentuk kelompok ternak madu yang mereka beri nama “Biene”. Awal berdiri kelompok itu berjumlah 20 orang. Namun seiring perjalanan waktu tersisa 6 orang, Rahmadi didapuk menjadi ketua.

Awalnya menilai nama itu merupakan singkatan ternyata keliru besar. Ya, kata itu berasal dari Bahasa Jerman.
Lalu apa alasan Rahmadi menamai kelompoknya dengan kata terasa asing di telinga kebanyakan orang?
Jawabannya diluar dugaan. Ternyata Rahmadi pengagum berat Presiden RI ke 3 Prof BJ Habibie. Lantas apa hubungannya?
Dia berpendapat selain di tanah air, Pak Habibie juga terkenal di Jerman. Karena pengagumnya.
Ya, mereka memakai kata “Biene” dalam bahasa sana yang berarti lebah terangnya.
Setelah kelompok terbentuk mereka dihadapkan sejumlah persoalan yang tak kalah krusial. Diantaranya, permodalan, minim pengetahuan seputar budidaya lebah hutan dan sebagainya.
Tak hanya itu mereka juga mendapat cibiran karena sebagian warga berpendapat bahwa lebah hutan tidak bisa dibudidayakan. Cibiran ini menjadi memotivasi untuk maju dan menjadi ajang pembuktian.
Menurut Rahmadi sebenarnya lebah bisa dibudidayakan. Persoalannya kala itu kami tidak memiliki pengetahuan.
Rahmadi tidak menampik bahwa perasaan ragu menyelimuti dia dan anggota kelompok lainnya. “Apakah ini berhasil?” gumamnya membatin.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Keinginan Rahmadi dan kawan-kawan untuk berubah tidak lagi mencari madu di hutan, tapi menjadi peternak lebah disabut baik PT KPI RU Dumai-Sungai Pakning.
Kendati begitu, rasa ragu masih tersisa.Keraguan Rahmadi dan kawan-kawan bukan tanpa sebab. Karena usaha mengembangbiakan lebah tak sama dengan mencari madu di dalam hutan.
Lebih lanjut dia menjelaskan ketika melihat sarangnya langsung bisa diambil. Berbeda dengan pembudidayaan lebah. Ya, bagaimana agar kawanan lebah itu bisa berkembang pada penangkaran yang dibuat.
Namun dengan segala keberanian, tekad berbaur menjadi satu mereka mencoba melakukan pembudidayaan lebah demi mengubah nasib.
Untuk mendapatkan peralatan dan sebagainya mereka mengajukan proposal kepada bagian Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning.
Bak gayung bersambut perusahaan yang berdiri 10 Desember 1957 itu mengabulkan proposal mereka. Inilah awal mereka berhubungan dengan PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning sebagai mitra binaan.
Alasan disetujuinya proposal itu dikatakan Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Kilang Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) II Dumai-Sungai Pakning Agustiawan ST bahwa program budidaya madu yang dirintis Kelompok Madu Biene sejak tahun 2019 diawali dengan edukasi dan penyuluhan terkait wawasan lingkungan dan panen madu tanpa proses pengasapan.
Masih kata dia, awalnya warga masih awam tentang program tersebut, namun lambat laun mulai menunjukkan minat setelah diberikan pelatihan budidaya lebah madu yang bisa dilakukan di sekitar rumah mereka sendiri tanpa harus ke hutan.
Tak hanya Agustiawan, Jr PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning Iswandi pun angkat bicara terkait awal bergabungnya Kelompok Madu Biene menjadi mitra perusahaan yang dulu berlogo kuda laut kembar.
Menurut Perwira (singkatan dari Pertamina Wira yang merupakan sebutan untuk pekerja Pertamina, red) itu, mereka pun mendatangkan trainer dalam pembudidayaan lebah.
Karena tidak memiliki keahlian dan belatar belakang pendidikan lebah maka bagian CSR perusahaan itu mendatangkan trainer. Sementara untuk menambah wawasan dan pengetahuan maka kami membawa mereka ke sentra peternakan lebah yang ada di Riau seperti di Kabupaten Pelalawan.
Usai proposal disetujui, PT KPI RU II Dumai Pakning menggelontorkan 45 gelodok (kotak tempat lebah hutan membuat sarang, red) termasuk memberi pelatihan setiap tahun bagi peternak lebah madu .
Awalnya, selain Kelompok Madu Biene perusahaan itu juga membina kelompok madu lainnya di daerah lain tapi masih di Kabupaten Bengkalis. Namun tak begitu jelas mengapa program di kelompok tersebut tidak berjalan.
Dari 45 gelodok bantuan PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning maka dibudidayakan lebah jenis Apis Mellifera. Sementara bibitnya dibeli dari Jawa seharga Rp2,5 juta per kotak.
Sedangkan untuk bibit lebah kelulut atau trigona, sambil jalan-jalan sore di hutan, ketika menemukan sarang lebah di dahan pohon lalu Rahmadi memotongnya dibawa pulang ke rumah.
Setelah mendapat perlakuan khusus sekitar satu bulan maka dipasang toping yakni tempat madu yang berada di bagian atas gelodok.
“Ranting yang ada sarangnya diaambil terus ditempatkan di gelodok, agar lebah tidak kabur maka disekitar halaman rumah ditanam bunga sebagai pakan lebah.
Kata Rahmadi untuk membuat satu unit gelodok dibutuhkan dana sekitar Rp600 ribu. Dengan rincian log atau kayu sekitar Rp500 ribu dan toping sekira Rp70 ribu.
Hingga setakat ini perusahaan plat merah itu menghibahkan untuk lebah Apis Cerana 300 gelodok, Apis Melifera 45, Apis Trigona atau kelulut sebanyak 50 gelodok.
Namun pada lebah jenis Apis Cerana bantuan gelodok terdapat penurunan. Sementara untuk Apis Trigona meningkat dari tahun sebelumnya.
Penasaran dengan madu diproses awak media ini menanyakan hal itu kepada Rahmadi? Dia menjelaskan ketika musim panas maka banyak bunga berkembang. Nah, disitulah madu berlimpah.

Madu merupakan cairan kental keemasan dihasilkan oleh lebah yang rajin dibuat menggunakan nektar tanaman berbunga dan lain lainnya.
Sedangkan nektar atau sari bunga sambung dia, merupakan cairan manis kaya dengan gula diproduksi bunga dan bagian tumbuhan lainnya.
Masih kata dia, adapun cara lebah membuat madu, nektar akan dihisap lebah menggunakan lidah yang panjang dan berbentuk tabung.
Selanjutnya nektar disimpan di perut ekstra.
Nektar bercampur dengan enzim yang mengubah komposisi kimia dan pH (derajat keasaman (acidity), red). Itu membuatnya lebih cocok untuk penyimpanan dalam waktu jangka panjang.
Dengan kata lain, lanjut Rahmadi, ketika lebah madu kembali ke sarangnya, lebah akan memindahkan nektar ke lebah lain dengan memuntahkan cairan ke dalam mulutnya. Tapi sebelumnya lebah-lebah itu akan mengunyah nektar selama kurang lebih 30 menit.
Kemudian mereka meneruskannya ke lebah lain.
Nah, saat nektar berpindah dari satu lebah ke lebah lainnya, nektar tersebut berubah menjadi madu.
Proses tersebut diulang sampai nektar yang dicerna sebagian akhirnya disimpan ke dalam sarang madu.
Setelah nektar menjadi madu, lebah akan menyimpannya dalam sel-sel sarang yang berfungsi sebagai stoples kecil yang terbuat dari bahan mirip lilin.
Lebah kemudian mengepakkan sayapnya di atas madu agar lebih kental dan lebih menyerupai sirup.
Setelah madu siap, lebah akan menutup sel tersebut menggunakan penutup lilin untuk menjaga madu tetap steril dan higenis.
Madu yang disimpan di dalam sarang untuk dimakan lebah selama masa musim penghujan atau saat pakan langka karena sulit ditemukan di hutan.
Kendati begitu untuk membuat berapa cc madu maka butuh ribuan lebah keluar masuk sarang.
Selain proses pembuatan madu, mereka juga dibekali dengan jenis madu lebah. Rahmadi menuturkan membudidayakan lebah madu Apis Cerana, Apis Mellifera, dan Apis Trigona (warga setempat menyebutnya kelulut, red).
Seperti diketahui perbedaan utama antara lebah madu jenis Apis Cerana, Apis Dorsata, dan Apis Trigona terletak pada ukuran tubuh, perilaku, habitat, dan jenis madu yang dihasilkan.
Disebutkannya madu trigona merupakan produk unggulan kelompok Madu Biene yang merupakan madu dihasilkan dari lebah bukan penyengat sehingga menghasilkan cita rasa yang berbeda dibanding madu pada umumnya.
Madu spesies trigona (Trigona Sapiens dan Trigona Clypearis) mampu bertahan hidup dengan cara menggigit bukan menyengat.
Tak hanya itu madu trigona lebih mahal meski tidak sepopuler madu biasa, budidaya madu trigona memiliki sisi ekonomis bagi peternaknya.
Paling tidak dari harganya, madu ini lebih mahal ketimbang madu biasa karena memiliki kelebihan dibanding jenis lebah lain. Meski tidak menghasilkan madu yang berlimpah seperti lebah Apis Mellifera.
Rahmadi menerangkan, untuk kelulut paling banyak menghasilkan sekitar 400 mili liter satu gelodok. Sedangkan Apis Mallifera bisa menghasilkan sekitar 2 kilogram.
Perbedaan mencolok antara kelulut dengan jenis lebah lain, jelas Rahmadi, jika sarang lebah lain ratu menaruh larva selanjutnya dimasukan dalam madu terus ditutup dengan tujuan larva memakan madu notabene bisa jadi ada larvanya.
Sebab, masih kata dia, kalau kelulut ratu menempatkan tempat madu dan larva pada tempat berbeda. Jadi saat panen tidak mungkin larva dan madu bercampur. Disamping madu yang dihasilkan kelulut lebih tahan lama. Begitu juga dengan kadar air, sarang yang tertutup berarti kadar airnya rendah.
Namun hal itu tidak berlaku di hutan, karena pencari madu tidak tahu ditutup atau tidak, sebab kalau tidak cepat di panen orang.
Itupula yang membuat peminat madu lebah trigona atau kelulut terbilang banyak. Ya, madu yang dihasilkan madu jenis itu diketahui bermanfaat meningkatkan imun terlebih saat Pandemi Covid 19. Rahmadi dan kawan-kawan pun banjir orderan.
Permintaan tak hanya dari dari Bengkalis, Dumai, Pekanbaru dan luar daerah lainnya. Namun kerap menjadi buah tangan dibawa ke Malaysia dan Singapura.
Selain diketahui meningkatan kekebalan tubuh lebah trigona juga menghasilkan bee pollen dan propolis yang sering diolah menjadi produk kesehatan karena memiliki manfaat bagi manusia.
Disamping itu, lebah kelulut relatif lebih mudah dibudidayakan tidak bersifat agresif dalam mempertahankan sarangnya sehingga berisiko kecil menimbulkan cedera pada manusia akibat sengatan lebah.
Pengamatan awak media ini lebah trigona, berwarna hitam, berukuran kecil sekitar 4 milimeter dan tidak menyengat.
Biasanya hewan itu bersarang pada lubang pepohonan, membentuk sarang berbentuk bulat-bulat kecil menyerupai gentong berdiameter sekitar 1 sentimeter. Sementara sarang lebah madu spesies apis berbentuk heksagonal.
Rahmadi dan kelompoknya membudidayakan lebah madu di sekitar rumah. Gelodok tempat sarang lebah terbuat dari papan berukuran 30 X 30 sentimer diletakkan di atas bangku kecil.

Di atasnya terdapat potongan kayu batang pohon berukuran 30 sentimeter setinggi 40 hingga 50 sentimeter di halaman rumah. Sehingga mereka tidak perlu repot- repot berburu madu ke hutan.
Kendati tidak perlu repot-repot lagi berburu madu ke hutan pasca pembudiyaan madu di sekitar perkarangan rumah. Akan tetapi bukan berarti penangkaran lebah trigona atau kelulut itu semulus jalan tol Pekanbaru-Dumai atau Permai yang bebas hambatan.
Lantas apa yang menjadi hambatan dan ancaman terhadap lebah trigona atau kelulut ? Rahmadi menuturkan sekira empat hari sebelum kedatangan awak media ini untuk melihat budidaya lebah madu kelulut kelompok Madu Biene, diketahui seekor beruang merusak dan memanen madu milik mereka.
Menyusul peristiwa itu Rahmadi melaporkan kejadian itu kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Bukit Batu. Karena delapan gelodok dirusak beruang.
Lalu apa penyebab binatang yang dalam teka-teki bernuansa kelakar atau joke segar dinilai paling kaya di dunia (karena namanya mengandung arti memiliki atau mempunyai uang, red) itu menyerang dan memanen gelodok mereka?
Ramhmadi mengutip kata petugas bahwa hewan itu keluar karena diduga ada penebangan pohon di hutan.
Tidak hanya beruang, tapi ancaman yang tak kalah serius terhadap lebah kelulut datang dari tembuan atau tawon endas.
Mereka, lanjut Rahmadi, memakan anak lebah. Untuk mengusirnya menggunakan racun dencis atau pada malam hari sarangnya yang ada di pohon sawit, karet dan sebagainya dibakar.
Lantas bagaimana perbandingan pendapatan antara memburu madu di hutan dengan beternak lebah di sekitar pekarangan rumah?
Untuk yang satu ini, Rahmadi menjelaskan, mencari madu lebar liar di hutan ibarat “rezeki harimau”.
Pernah suatu saat mereka mendapatkan sarang lebah mengandung madu terbilang banyak. Alhasil mereka mengantongi cuan sebesar Rp2 juta.
Ibarat air laut, hidup tidaklah selamanya pasang terkadang mengalami masa surut. Kendati harus menghadapi berbagai resiko ke luar masuk hutan, akan tapi tidak ada jaminan mendapatkan madu dalam jumlah banyak.
Rahmadi mengisahkan pernah suatu hari, ia bersama kawan-kawan masuk ke hutan. Mereka hanya mendapatkan madu sebanyak 1000 mililier. Sementara harga 500 militer cairan penuh khasiat itu dibandrol Rp100 ribu.
Merka mendapatkan uang sebesar Rp200 ribu. Itupun dibagi enam (saat masuk ke hutan mereka berenam orang, red).
Rahmadi mengakui bahwa pendapatan dari beternak lebah madu berkali lipat ketimbang memburu hewan jenis serangga penghasil cairan multifungsi itu di hutan lepas.
Untuk pendapatan dari hasil memelihara lebah, terang Rahmadi, maka dibagi dua jenis. Yakni penghasilan kelompok dan pribadi.
Penghasilan kelompok, jelas lelaki berambut lurus itu, berasal dari 45 gelodok lebah jenis Apis Mellifera yang bibitnya berasal dari PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning.
Puluhan gelodok nama lain sarang lebah itu mereka titipkan ke pihak ketiga di Bukit Sembilan, Dusun Air Raja (masih berlokasi di Desa Tanjung Leban, red) yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Dusun Bakti kediaman anggota Kelompok Madu Biene lainnya.
Dipilihnya Bukit Sembilan sebagai tempat penititipan gelodok lebah jenis Apis Mellifera mengingat pakan lebah seperti pohon akasia carva berlimpah di wilayah itu.
Di daerah mereka memang ada juga pohon akasia carva, namun karena tidak mendapat perawatan khusus seperti di Bukit Sembilan yang kebetulan tidak jauh dari kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) hasil madunya tidak optimal.
Ya, di tempat mereka pakan lebah masih kurang makanya untuk mendongkraknya PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning memberi bantuan bibit pohon santos temon,
kalau sudah memadai maka akan dilakukan pembudidayaan lebah Apis Mellifera.
Adapun pola kerjasama antara Kelompok Madu Biene dengan warga Bukit Sembilan yang mengelola 45 gelodok milik kelompok itu bagi hasil menjadi 40 persen : 60 persen. Bagian kelompok Madu Biene 40 persen, 60 persen buat mereka.
Dari kerjasama itu, lanjut suami Suci Rahmadani ini, per bulan didapat hasil sekitar Rp1,5 juta kotor.
Uang itu untuk biaya operasi seperti ada tamu mengunjungi kelompok dan sebagainya maka diambil dari sana. Ya, pertiga bulan k mereka mendapat Rp300 ribu.
Sementara pendapatan pribadi, jelas dia, dihasilkan dari gelodok milik pribadi.
Jadi tergantung berapa mereka punya gelodok. Seperti dia yang memiliki 30 gelodok per bulan bisa menghasilkan sekitar Rp1,5 juta. Namun ada kawan yang mempunyai 70 gelodok otomatis penghasilannya lebih besar lagi.
Perbandingan pendapatan antara berburu madu di hutan dan budidaya lebah juga dikemukakan Hermansyah.
Menurut lelaki itu, saat keluar masuk hutan mencari madu penghasilan didapat sekitar Rp700 ribu per bulan.
Namun sekarang dengan budidaya lebah penghasilan sekitar Rp2 juta per bulan.
Untuk menjual madu hasil budidaya itu Kelompok Madu Bein mengemasnya dalam kemasan 225 mililiter dijual dikisaran Rp65 ribu hingga Rp 75 ribu.
Sedangkan untuk kemasan 650 mililiter atau sebotol kecap kaca mereka jual sekitar Rp250 ribu.

Kemasan pertama ternyata banyak dibeli masyarakat sebagai buah tangan untuk dibagikan kepada handai taulan, tetangga, karabat, relasi, teman kantor dan sebagainya.
Mereka juga menjual madu curah dengan merek “Biene”. Untuk jenis itu kerap dikirim ke Pekanbaru serta luar daerah lainnya.
Seiring era digital, mereka juga memanfaatkan media sosial (Medsos) termasuk online di market place dengan pembeli beragam dari tanah air.
Produk madu yang dihasilkan Kelompok Madu Biene sudah mengantongi izin Pangan, Industri Rumah Tangga (PIRT) plus sertifikasi halal dari instansi terkait.
Lalu berapa penghasilan Kelompok Madu Biene? Untuk yang satu ini, Rahmadi menjelaskan bahwa pendapatan dari tahun 2022 s/d 2024 sekitar Rp250 juta.
Penghasilan terbilang fantastis itu tak ayal mendapat pujian dari Jr Comrel PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning Iswandi.
Lebih jauh Iswandi menjelaskan bahwa nilai bantuan kepada Kelompok Madu Biene berbentuk paket program dengan nilai berfluaktasi mulai dari awal penjajakan, dan pengembangan.
Masih kata dia, sekarang sudah masuk tahun kelima mereka tetap eksis, maka kita lihat progres dan grafik. Setelah dilihat sudah bisa mandiri dilepas.
Atas keberhasilan Kelompok Madu Biene itu, Iswandi berharap mereka menjadi embrio untuk memancing masyarakat agar menjadi peternak lebah tanpa harus ke hutan memburu madu.
Diakuinya produksi lumayan bahkan nilainya fantastis. Tapi, pemasaran belum maksimal. Makanya untuk mengembangan pemasaran nanti akan kita sediakan alat untuk menjaga kualitas biar bisa diterima pengumpul.
Keberhasilan Rahmadi dengan Kelompok Madu Biene beternak lebah membuat warga lain ingin belajar bagaimana cara budidaya hewan penghasil madu itu.
Sekitar tahun 2021 Rahmadi dengan
kelompoknya memberikan pelatihan seputar budidaya madu se-Kecamatan Bandar Laksamana.
Total peserta pelatihan sekitar 110 orang, dengan rincian 50 orang asal Desa Tanjung Leban. Sementara 60 orang lagi dari luar desa.
Tak berlebihan Rahmadi dan kelompoknya menjadi pionir dalam aktivitas budidaya madu hutan gambut di kawasan Kecamatan Bandar Laksamana.
Mereka mengikuti pelatihan hingga selesai. Salah satu materi yang disampaikan yaitu penerapan budidaya dan memanen lebah madu yang berorientasi ramah lingkungan.
Diterangkan Rahmadi, karena satu dusun maka mereka kerap datang ke lokasi budidaya lebah milik kelompok untuk konsultasi dan koordinasi tentang perkembangan lebah milik mereka.
Berkah dari kesuksesan Kelompok Madu Biene beralih profesi dari pemburu madu di hutan menjadi peternak lebah juga dirasakan .
Kepada awak media, warga Desa Tanjung Leban mengaku banyak manfaat yang ia peroleh dari pelatihan tersebut.
Tidak hanya ilmu seputar budidaya lebah yang diperoleh. Namun lelaki yang sehari-hari berprofesi petani menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual madu di rumah.
Dijelaskannya dari 5 gelodok milik dia yang ditaruh sekitar rumah. Pendapatan yang saya peroleh sekitar Rp800 ribu per bulan.
Syukri optimis budidaya madu hutan sangat menjanjikan dan membuat kehidupannya terlebih ekonomi terasa menjadi lebih manis lagi. Apalagi jika jumlah gelodoknya bertambah otomatis pendapatan bertambah. Sudah terbayang oleh syukri lembaran-lembaran rupiah yang bakal menghampirinya.
Selain memberi pelatihan, peralatan dan sebagainya. Dilain waktu PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning menggelontorkan bantuan berupa pembangunan sawung untuk Kelompok Madu Biene.
Menurut Rahmadi pembangunan sawung tempat eduwisata lebah itu menghabiskan dana sekitar Rp20 juta.
Menariknya tempat rekreasi gratis tersebut dilengkapi fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang juga bantuan PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning. Mereka terima bersih, karena bahan material, upah tukang dan sebagainya ditanggung perusahaan plat merah itu.
Edu wisata madu lebah yang dikelola Kelompok Madu Biene di lahan seluas sekitar 2,8 hektar itu terletak di pinggir Jalan Lintas Dumai-Sungai Pakning tepatnya di Dusun Bakti RT/RW 003/002 Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Untuk masuk ke sana pengunjung tidak dipungut karcis alias gratis.
Sekitar 100 meter dari pinggir jalan terpangpang gapura bertuliskan “Edu Wisata Madu Lebah”. Saat www.temporiau.co mengunjungi lokasi itu, Sabtu (24/1), sejumlah warga dari luar daerah tampak sedang beristirahat di sawung menikmati arena wisata sederhana tapi berkesan penuh makna dengan angin khas pesisir berlahan gambut yang siap membelai wajah pengunjung, nakal.
Atraksi yang tak takkalah seru dan mendebarkan, pengunjung boleh mencicipi madu langsung dari sarang lebah tanpa takut disengat hewan itu dengan cuma-cuma.
Untuk yang satu ini, anggota Kelompok Madu Biene yang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) berwarna putih-putih mirip astronot mendampingi pengunjung.
Mereka akan menuntun pengunjung menimakti sensasi yang tidak pernah dibayangkan, menengguk tetes demi tetes madu menggunakan sedotan atau pipet kecil yang biasa digunakan untuk menyedot air mineral berbentuk gelas.
Selain menggunakan APD anggota Kelompok Madu Bein dilengkapi inovasi teknologi kreasi PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning berupa alat ekstraktor madu yang telah mendapatkan hak paten dengan nomor S00202410485.
Dengan menggunakan alat ekstraktor saat panen dilakukan maka sarang lebah tidak perlu dirusak atau diperas. Cukup bagian atas sarang berbentuk toping dilukai sedikit. Selanjutnya alat itu akan menghisap madu yang disalurkan ke tempat yang telah dipersiapkan (tabung dari kaca berbentuk botol namun ada alat ukur sebagai petunjuk jumlah madu dipanen dalam mililiter, red).

Seperti diketahui jika sarang rusak maka lebah memerlukan waktu berbulan-bulan untuk membuat sarangnya kembali otomastis menganggu produksi madu. Namun dengan alat itu maka sekitar 20 hari setelah madu diambil, peternak lebah bisa kembali memanen madu.
Penasaran dengan sensasi meminum madu lebah trigona atau kelulut langsung dari sarang, www.temporiau.co pun mencobanya.
Saat kali pertama cairan madu menyentuh lidah maka merasakan cita rasa madu trigona terbilang unik. Ya, memiliki rasa “nano-nano”, karena disitu ada rasa manis, asam dan sedikit asin.
Ternyata rasa sedikit asam saat mengkonsumsi madu lebah trigona atau kelulut karena kadar keasaman madu ini mencapai 3,05-4,55. Tekstur madu ini lebih encer dari madu biasa. Sebab kadar airnya lebih banyak, yakni berkisar antara 30-35 persen.
Usai merasakan madu langsung dari sarang lebah maka ada diantara pengujung memesan madu kepada Kelompok Madu Biene.
“Saya pesan dua botol madu kemasan 225 mililiter,” kata Yoris warga asal Kota Dumai. “Untuk oleh-oleh,” tambahnya.
Berkembang pesatnya peternakan madu lebah menyusul pelatihan yang diberikan Kelompok Madu Biene berikut kisah sukses dari mulut ke mulut komunitas itu, membuat sebagian besar warga Desa Tanjung Leban dan sekitarnya mengikuti langkah Rahmadi dan kawan-kawan.
Ya, persaingan pun tidak bisa dielakan. Untuk yang satu ini, Rahmadi menjelaskan, dulu banyak para pejabat dari Kota Duri sekitarnya termasuk warga kebupaten jiran, Rokan Hilir dan Kota Dumai saat ke Pulau Bengkalis (pusat pemerintahan kabupaten, red) berhenti sebentar ditempatnya untuk sekedar membeli madu.
Namun karena sudah banyak peternak mungkin mereka membeli ke tempat lain. Bisa juga membeli kepada saudara atau kerabat mereka yang juga beternak lebah madu.
Apakah dengan kondisi ini Rahmadi dan kelompoknya menyesal telah ‘menurunkan’ ilmu seputar penangkaran lebah madu yang menjadi periuk nasinya kepada orang banyak?
Hal ini menyusul peternak lebah madu banyak dijumpai di Desa Tanjung Leban sekitarnya bahkan kini sekitar 90 persen warga memiliki gelodok yang disebar di pekarangan rumah serta merambah ke sejumlah desa lainnya? Ternyata mereka tidak pernah menyesal. Karena yakin bahwa rezeki tidak pernah tertukar.
Sebaliknya mereka tetap optimis dengan peternakan lebah madu. Karena rezeki setiap orang berbeda.
Menurut mereka apa pun kalau dijalani dengan ikhlas maka semuanya akan terasa ringan dan cukup. Yang terang harus banyak bergerak (membaca peluang, red), dan yang pasti rezeki tidak pernah tertukar. Kendati sekarang ini di Desa Tanjung Leban terdapat lebih dari 7000 gelodok milik warga.
Dibalik kian ketatnya persaingan menyusul banyak peternak lebah madu baru bermunculan, bagi Rahmadi dan kawan-kawan menyimpan kebahagiaan tersendiri, kok bisa?
Ya, sdlu waktu ingin berternak madu lebah banyak orang cime’eh (mencibir dalam bahasa setempat, red) kami, karena menganggap lebah hutan tidak bisa dibudidayakan.
Padahal, kata Rahmadi, ilmunya saja yang belum dimiliki. Dengan kondisi sekarang cibiran itu patah sendirinya.
Verifikasi Produk
Kian banyaknya warga lebih memilih beternak madu ketimbang memburu cairan yang dikenal dengan segudang khasiat itu membuat madu berlimpah di wilayah itu. Lantas langkah apa yang diambil menyikapi kondisi tersebut?
Beruntung dalam sebuah kesempatan awak media melihat dari dekat pelatihan mengelola sejumlah produk berbahan baku madu di Kantor Desa Tanjung Leban yang berjarak sekitar 53 kilometer arah timur Kota Dumai.
Hari igtu suasana kantor desa itu tampak berbeda dengan hari biasanya. Paling tidak sekitar 200 meter sebelum memasuki pusat pemerintahan desa didapati baliho dan umbul-umbul.
Kesibukan terlihat di kantor itu.
Sejumlah orang lalu lalang. Tidak itu saja puluhan kendaraan roda dua dan beberapa unit mobil berjejer rapih.
Ternyata hari itu Tim Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) II Dumai-Sungai Pakning bersama stakeholder memberikan pelatihan kepada warga dan ibu rumah tangga untuk pembuatan sejumlah produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbahan baku madu. Diantaranya, sabun, permen, kue dan sebagainya.
Tujuannya apalagi kalau bukan komoditas itu ke depan memberikan nilai tambah bagi peningkatan pendapatan masyarakat termasuk peternak lebah madu.
Nurbaeti (43) salah satu peserta pelatihan sangat antusias mengikuti kegiatan.
Kendati di rumah ibu tiga anak itu tidak memiliki gelodok (sebutan untuk kotak atau tempat yang digunakan dalam budidaya lebah madu, red). Namun tidak menghalanginya untuk tetap semangat mendengarkan semua pemaparan materi yang disampaikan sejumlah narasumber.
Bagi Nurbaeti pelatihan itu merupakan peluang emas untuk meningkatan pendapatan keluarga. Maklum, setakat ini ketiga anaknya sedang menempuh pendidikan di jenjang SMP, SD dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Nurbaeti berpendapat biaya pendidikan yang dikeluarkan keluarganya akan terus bertambah seiring meningkatnya jenjang pendidikan yang ditempuh ketiga buah hatinya.
Itupula yang mendorong dia dan empat orang kawannya membuat kelompok untuk memaksimalkan komoditas madu bagi peningkatkan ekonomi keluarga.
Awalnya Nurbaeti beserta kawan-kawan ingin mendirikan kelompok untuk mengelola verifikasi produk berbahan dasar madu. Namun hal itu terpaksa diurungkannya menyusul saran bagian CSR PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning agar mereka bergabung dengan kelompok Madu Biene dengan tujuan memudahkan pengurusan izin dan birokrasi. Diantaranya saat perusahaan plat merah meluncurkan bantuan kepada ibu-ibu yang bergerak di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbahan dasar madu.
Meski tidak jadi membuat kelompok, namun Nurbaeti tetap optimis. Adapun alasannya bahwa madu akan manis bagi kehidupan mereka, karena pasokan cairan bergizi tinggi tidak sukar didapat di sekitar kediamannya.
Dia berpendaat bahwa warga banyak yang memiliki gelodok. Tentu kalau sudah mampu mengelola madu menjadi beraneka ragam komoditas bisa menjadi sumber pendapatan baru.
Kendati batal mendirikan kelompok dan bergabung dengan kelompok Madu Biene. Namun perlahan tapi pasti asa untuk mendapatkan penghasil tabahan untuk menunjang ekonomi keluarga mulai bertepi.

Paling tidak, dia dengan ibu-ibu lainnya di kelompok Madu Biene mulai memproduksi kue nastar dan cookies berbahan baku madu.
Memang, untuk sementara waktu mereka menunggu pesanan. Namun meningkatkan produksi bagian CSR PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning tidak tinggal diam. Mereka memesan produk mereka untuk acara di lingkungan perusahaan.
Tidak sampai distu, bagian CSR PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning juga menawarkan dan menitipkan kue buatan ibu-ibu kelompok Madu Biene disejumlah took mau pun mini market disejumlah titik, sebut saja di Sungai Pakning, Kepulauan Bengkalis dan Kota Dumai.
Peran mereka membuka jalan bagi ibu-ibu. Setelah kue-kue itu habis selanjutnya “Kartini” era digital itu tampil ke depan. Untuk mengantar ataupun menagih barang dagangan. Ya, untuk kaum Hawa, mendapatkan penghasilan harian agar asap dapur mengepul menjadi berkah tersendiri.
Hal itupula yang dirasakan Nurbaeti dan kawan-kawan itu pasca menggelontorkan produk hasil pelatihan berbahan dasar madu.
Bagi Nurbaeti dan anggota kelompok Madu Biane keberadaan pembudidayaan madu yang dilakukan banyak warga di kampungnya akan menjadi berkah tatkala mereka bisa memanfaatkan peluang yang ada.
Karena tetes demi tetes madu itu menjadi pundi-pundi rupiah yang tidak pernah habis selama mau mengelola cairan berwarna kuning kehitaman dengan sungguh-sungguh.
Sebab perasan keringat dan kerja keras adalah ‘mantera’ mumpuni agar rupiah datang menghampiri mereka.
Rasa-rasanya asa Nurbaeti dan kawan-kawan menjadikan madu sebagai pendapatan baru agar dapur mereka tetap mengepul bukan lagi sekedar mimpi yang tak bertepi, tapi bakal terealisasi.
Sebab Jr Officer II Commrel & CSR PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning, Iswandi saat berbincang-bincang dengan awak media mengemukakan bahwa kilang Putri Tujuh (sebutan warga Dumai dan Sei Pakning untuk kilang milik perusahaan plat merah itu yang diambil dari legenda terbentuknya Kota Dumai, red) ingin menjadikan Desa Tanjung Leban sebagai sentra madu di Provinsi Riau.
Adapun alasan dijadikannya wilayah tersebut sebagai pusat penghasil madu mengingat pembinaan yang dilakukan PT KPI RU II Dumai-Sei Pakning terhadap kelompok Madu Biene dinilai berhasil. Tak hanya itu, setakat ini nutrisi berkhasiat itu dibudidayakan massal oleh warga.
Bedasarkan hal tersebut membuat perusahaan plat merah ini ingin Desa Tanjung Leban menjadi sentra madu di Riau. Oleh karenanya itu pelatihan pengelolahan madu dilakukan intensif. Ya, dari hulu ke hilir dimanfaatkan dengan baik agar memberi nilai tambah. Jadi tidak terfokus kepada penjualan madu saja tapi terhadap turunannya.
Bak gayung bersambut. Rupa-rupanya inisiatif PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning menjadikan Desa Tanjung Leban sebagai sentra madu di bumi lancang kuning sampai ke telinga Wakil Bupati (Wabup) Bengkalis Bagus Santoso. Lantas apa pendapat pejabat publik yang pernah menjadi loper koran itu?
Bahkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis menyambut positif penuh sukacita. Karena program CSR itu akan membawa kemajuan dan kebaikan bagi daerah.
Menurut Bagus Santoso, dijadikannya Desa Tanjung Leban sebagai sentra madu mulai dari hulu ke hilir di Provinsi Riau, wilayah yang disebut-sebut sebagai tempat lahirnya Bahasa Indonesia itu memiliki dua manfaat bagi daerah.
Pertama untuk menggali sumber daya alam. Kedua akan menambah penghasilan pendapatan bagi warga tempatan khususnya yang memang membudidayakan lebah itu.
Bagus Santoso berharap kerjasama antara perusahaan dengan masyarakat akan membawa kemajuan desa serta meningkatkan pendapatan warga.
Kendati begitu, Bagus Santoso berharap kilang yang diresmikan 9 September 1971 oleh Presiden Soeharto itu tidak hanya sebatas menjadikan Desa Tanjung Leban sebagai sentra madu di Riau. Namun juga merambah ke desa lainnya yang juga memiliki potensi peternakan lebah.
Masih kata dia, Pemkab sangat berharap ini akan menjadi contoh desa-desa lainnya yang mempunyai potensi yang sama.
Sebab, yang punya potensi lebah madu itu bukan hanya di Desa Tanjung Leban, tapi di beberapa desa-desa yang lain terutama yang berbatasan dengan Hutan Tanaman Industri (HTI) akasia, sawit, karet dan sebagainya. Untuk budidaya lebah seperti di Desa Bukit Kerikil juga di desa-desa lainnya juga memiliki potensi.
Dengan dijadikannya Desa Tanjung Leban dan sejumlah desa lainnya sebagai sentra produksi madu di Riau tersebut maka akan menjadi salah satu tambahan potensi sumber daya alam dari Bengkalis.
Ditambahkannya Kabupaten Bengkalis selain dikenal dengan ikan terubuk yang menjadi ikon daerah notabene penghasil ikan, kerupuk ikan, belacan (sebutan untuk terasi dalam bahasa setempat, red) kemudian ditambah lagi madu. Nah, itu akan menjadi komplit sempurnalah dari UMKM yang memang mengolah sumber daya alam, tentu hal itu akan disupport supaya berhasil.
Menariknya, ternyata Bagus Santoso adalah salah satu pelaku yang memiliki usaha lebah madu di Desa Tanjung Leban.
Dijadikannya Desa Tanjung Leban sebagai sentra madu di Riau mendapat atensi serius dari Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa (Kades) Tanjung Leban Jhon Ikbal.
Lebih jauh Jhon Ikbal menjelaskan bahwa hampir 90 persen dari sekitar 4000 jiwa warga di daerah itu telah beternak lebah madu jenis kelulut (sebutan warga tempatan bagi lebah madu jenis Apis Trigona, red).
Diterangkannya jumlah Kepala Keluarga (KK) di Desa Tanjung Leban sekitar 900 KK. Bisa dikatakan 100 persen tidak asing lagi dengan kelulut.
Jhon Ikbal yakin keinginan PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning menjadikan Desa Tanjung sentra madu di Riau bakal memberikan multiplier effect terhadap warganya.
Tak hanya pemilik gelodok saja, lanjut dia, tapi warga yang tidak memiliki peternakan lebah akan ikut terimbas melalui diversifikasi madu yang hasilnya memiliki nilai tambah bagi warga yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan.
Antusiasme dijadikannya Desa Tanjung Leban sebagai sentra madu di bumi lancang kuning juga datang dari peternak lebah (apikulturis), Syukri, lelaki ini berpendapat kalau itu terealisasi maka pendapatanya meningkat dan memiliki pangsa pasar yang pasti.

Alasannya pun teramat sederhana, kata Syukri, dengan dijadikannya desanya sebagai sentra madu di Riau. Karena madu milik dia bisa terjual banyak. Sebab menjadi bahan baku produk UMKM berbahan dasar madu. Alih-alih Syukri tidak perlu lagi menunggu pembeli datang ke rumah.
Penganekaragaman madu menjadi sejumlah produk yang berujung Desa Tanjung Leban menjadi sentra madu di Provinsi Riau mendapat dukungan penuh dari Ketua Kelompok Madu Bein, Rahmadi, ayah satu putra itu menilai selain bakal meningkatkan pendapatan peternak lebah maupun masyarakat juga mengangkat nama desa.
Jika rencana Tanjung Leban menjadi sentra madu di Provinsi Riau teralisasi maka tagline “Ingat Madu, Ingat Tanjung Leban” menurut hemat www.temporiau.co terasa pas dan tepat.
Maju pesatnya pembudidayaan lebah madu sehingga bakal dijadikannya Desa Tanjung Leban sebagai sentra madu di Riau juga mendapat apresiasi dari Hubungan Masyarakat (Humas) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bengkalis Erwin Syahputra.
Hanya saja tokoh pemuda negeri junjungan itu lebih menitikberatkan efek berganda dari aspek ketenagakerjaan terlebih bagi generasi muda.
Dia menilai terbatasnya lapangan kerja membuat sejumlah pemuda berbondong-bondong meninggalkan desa menuju kota.
Lebih jauh dikatakannya, di kota lapangan kerja juga terbatas. Disisi lain mereka juga kerap kalah bersaing karena persaingan ketat dan keras.
Dengan dijadikannya Desa Tanjung Leban sebagai sentra madu di Riau maka banyak peluang yang bisa dimanfaatkan untuk masa depan mereka.
Diingatkannya bahwa pemuda atau generasi muda tidak terpaku menjadi ASN, pekerja dan sebagainya. Sektor wirausaha juga menjanjikan jika digarap serius dan sungguh-sungguh. Banyak generasi muda yang sukses menjadi pengusaha. Tidak terkecuali menggeluti bisnis madu mulai dari hulu hingga hilir.
Oleh karena itu, dia menyambut positif keinginan PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning menjadikan Tanjung Leban sebagai sentra madu di Riau.
Lain Erwin Syahputra lain pula pendapat pemerhati ekonomi Riau bagian pesisir, Arif Azmi SE. Alumni salah satu Perguruan Tinggi (PT) di Kota Pekanbaru ini lebih menititikberatkan pemberdayaan Badan Usaha Milik Desa (BumDesa) menyusul dijadikannya Desa Tanjung Leban sebagai sentra madu di Provinsi Riau.
Lebih lanjut Arif –panggilan akrab Arif Azmi, red- mengingatkan bahwa tujuan utama pendirian BUMDes adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pemberdayaan potensi ekonomi lokal dan pengelolaan aset desa.
Masih kata dia, pendirian BUMDes juga bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya alam dan manusia desa, meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat, serta membuka lapangan kerja.
Kata dia, berdasarkan tujuan berdirinya BumDes maka Arif berharap lembaga itu mengambil peranan. Ya, dari desa untuk desa. Intinya dia sangat mendukung dijadikannya Tanjung Leban sebagai sentra madu di Riau, karena multiplier effect sangat luar biasa bagi kemajuan desa berikut warganya.
Untuk mendukung argumentasinya bahwa peran BumDes sangat besar dalam rangka meningkatkan kesejahteraan warga Desa Tanjung Leban melalui pembudidayaan lebah madu, dia pun mengutip data milik Ketua Kelompok Madu Biene, Rahmadi yang menyebutkan bahwa di daerah itu terdapat sekitar 7000 gelodok.
Lebih lanjut Arif menjelaskan, dari sumber data yang sama menyebutkan bahwa satu gelodok per 20 hari menghasilkan madu rata-rata sekitar 1,5 kilogram.
Kendati panen madu antara satu gelodok dengan lainnya bisa berbeda, tidak sekaligus bersamaan. Namun hasil kalkulasi kasarnya di daerah itu per 20 hari menghasilkan madu sebanyak 7000 gelodok x 1,5 kilogram madu = 10,500 kilogram madu atau setara dengan 10,5 ton madu. Angka yang sangat luar biasa.
Menyiasati melimpahnya hasil madu per 20 hari di Desa Tanjung Leban, kata Arif, salah satu solusinya yakni dilakukan hilirisasi. Jika tidak maka harga madu murni akan anjlok yang tidak tertutup kemungkinan terciptanya persaingan tidak sehat sesama peternak lebah terlebih dalam menetapkan harga.
Turunnya harga madu diakui salah seorang pemilik gelodok yang juga mantan pemburu lebah madu hutan Hermansyah. Dia menduga hal itu terjadi karena komoditas itu berlimpah.
Menyusul kondisi itu, Arif berpendapat hal tersebut sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran yang menjelaskan bahwa harga suatu barang atau jasa ditentukan oleh interaksi antara jumlah yang diminta konsumen dan jumlah yang ditawarkan produsen.
Makanya, lanjut dia, hilirisasi madu dalam bentuk produk makanan dan sebagainya melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sangat dibutuhkan. Rasanya sulit untuk menjual 10,5 ton madu murni ke pasar.
Dia menilai disini peran BumDes, mereka bisa sebagai pengumpul (madu murni serta produk olahan, red) sekaligus memasarkan diversifikasi produk madu yang dihasilkan warga melalui home industry.
Terkait dijadikannya Desa Tanjung Leban sebagai sentra lebah hutan penggiat lingkungan yang juga Ketua Yayasan Penyelamatan Konservasi Harimau Sumatra (YPKHS) Bastoni menyambut positif.
Toni –panggilan akrab Bastoni, red- melihat dua aspek dari rencana itu. Pertama, terkait ekonomi diantaranya meningkatnya pendapatan masyarakat yang berujung peningkatan kesejahteraan.
Sementara aspek kedua, lanjut Toni, lingkungan hidup, pemanasan global dan keselamatan warga.
Dengan banyaknya warga lebih memilih melakukan budidaya lebah madu tanpa harus memburu nutrisi bergizi itu ke hutan notabene mengurangi potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menjadi penyumbang pemanasan global berujung perubahan iklim. Dengan minimnya Karhutla, lanjut Toni, hal itu bagus bagi lingkungan. Karena salah satu sumber emisi karbon pemicu pemanasan global yang berujung perubahan iklim berasal dari asap Karhutla.
Dengan berkurangnya
aktivitas warga di hutan mengurangi potensi konflik manusia versus binatang buas seperti harimau. Sebab, persoalan keselamatan menjadi masalah serius.
Apa yang dikemukakan Toni itu tidak berlebihan. Kendati hutan tanpa nama yang menjadi tempat perburuan madu lebah termasuk “hutan bukan perawan”, yakni yang secara literal berarti hutan telah mengalami gangguan atau perubahan akibat aktivitas manusia.
Sehingga tidak lagi memiliki karakteristik alami dan utuh seperti hutan perawan (hutan primer).
Namun demikian masih menjadi tempat mencari makan dan perlintasan sejumlah binatang buas yang sewaktu-waktu bisa mengancam jiwa para pemburu madu.
Dibagian lain Toni berpendapat apa yang dilakukan PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning melakukan sejumlah program yang berujung beralihnya warga dari profesi memburu madu di hutan menjadi budidaya lebah di sekitar pekarangan rumah patut diapresiasi.

Sebab, jelas dia, tidak mudah mengubah habit atau kebiasaan seseorang, kelompok termasuk komunitas, apalagi ini menyangkut hajat hidup orang banyak (warga, red). Selain perlu waktu juga dibutuhkan sejumlah solusi bernas agar peralihan itu tidak berdampak terhadap pendapatan dan sebagainya.
Sementara Manager Production Kilang Sungai Pakning R Muh Kun Tauchid mengatakan, korelasi antara program TJSL PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning dengan lingkungan hidup menyusul isu pemanasan global berujung perubahan iklim terkait pembudidayaan lebah madu, menjaga kelestarian lingkungan terutama dalam merespons dampak perubahan iklim membutuhkan kerja sama lintas stakeholder.
Menurut dia, perubahan iklim saat ini sudah terlihat dengan sangat jelas dampaknya bagi kehidupan sehingga peran dari pihak pemerintah, perusahaan, serta masyarakat harus di sinergikan untuk dapat menjawab situasi tersebut.
Lantas apa komentar Area Manajer Communication, & CSR PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning, Agustiawan ST terkait sejumlah apresiasi dan penghargaan yang diperoleh perusahaan plat merah itu apakah itu dari lembaga pemerintah, swasta, tokoh masyarakat, penggiat lingkungan dan sebagainya?
Agustiawan menjelaskan program itu dirancang untuk mengubah praktik tradisional berburu madu hutan dengan api yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, menjadi budidaya lebah madu yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Melalui kelompok Madu Biene, lanjut dia, masyarakat membudidayakan lebah gambut dari berbagai spesies seperti Apis Cerana, Apis Dorsata, Apis Trigona dan Apis Mellifera.
Lebih jauh Agustiawan mengatakan bahwa program budidaya lebah gambut ramah lingkungan mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat,yang tercermin dari capaian Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) kategori A dengan nilai 83,86.
Kini, program tersebut juga telah berkembang menjadi kawasan eduwisata lebah madu gambut di Riau dan ditetapkan sebagai lokasi Program Kampung Iklim (Proklim) oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI pada tahun 2023, serta berkontribusi terhadap pengendalian perubahan iklim.
Masih kata Agustiawan, program itu juga meraih penghargaan di ajang TJSL & CSR Award 2025 oleh BUMN Track.
Dijelaskannya bahwa kelompok Madu Biene menjadi bukti bahwa inovasi ramah lingkungan dapat tumbuh dari kearifan lokal. Melalui pendekatan berkelanjutan,
PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning ingin memastikan manfaat program ini terus dirasakan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian gambut.
Ditambahkan Agustiawan, inisiatif ini mendukung pencapaian 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) atau pembangunan berkelanjutan terlebih poin ke 1 tanpa kemiskinan (no poverty) yakni mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuk di mana pun atau end poverty in all its forms everywhere.
Poin ke 2 dari SDGs tanpa kelaparan (zero hunger) adalah mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, memperbaiki nutrisi dan mempromosikan pertanian yang berkelanjutan.
Sementara poin ke 13 SDGs berupa penanganan perubahan iklim Penanganan perubahan iklim (climate action) yakni mengambil tindakan sesegera mungkin untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya.
Terakhir poin ke 15 menjaga ekosistem darat (peace, justice, and strong institutions) yang bertujuan melindungi, merestorasi dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem daratan.
Agustiawan menambahkan bahwa program tersebut sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan, dengan praktik tata kelola yang baik atau Good Corporate Governance (GCG) dan bertanggung jawab.
Jadi, sambung dia, program tersebut tak hanya memberi peluang ekonomi baru, tapi juga menjadikan masyarakat sebagai pahlawan lingkungan yang aktif menjaga ekosistem gambut dari ancaman Karhutla berperan dalam mengurangi emisi karbon pemicu pemanasan global.
Sementara itu, pasca budidaya madu dikembangkan di Kecamatan Bandar Laksamana, fungsi hutan alam sebagai penyangga oksigen di bumi lancang kuning bagian pesisir perlahan tapi pasti mulai menampakan hasil.
Di sisi lain, strategisnya letak Desa Tanjung Leban yang berada di kawasan pesisir pantai pulau Sumatra yang berbatasan dengan negeri jiran Malaysia membuat prospek hasil madu berkualitas dari daerah itu kian menjanjikan untuk pasar ekspor.
Penasaran dengan keberhasilan PT KPI RU Dumai-Sungai Pakning mengubah kebiasaan sejumlah warga yang sebelumnya memburu madu di hutan menjadi peternak madu di sekitar pekarangan rumah, www.temporiau.co meminta pendapat Ketua Kelompok Madu Biene Rahmadi sebagai mitra binaan perusahaan itu.
Rahmadi mengakui bahwa sentuhan perusahaan itu dalam membina mereka sangat humanis. Tidak hanya sebatas memberi bantuan berupa peralatan, pelatihan, sawung, PLTS dan sebagainya. Namun lebih jauh mereka datang lazimnya seperti keluarga.
Dilanjutkannya, ketika ada perbedaan di internal, mereka menasehati serta mengingatkan kami tentang tujuan kelompok berdiri. Hal tersebut sangat humanis.
Diakuinya secara pribadi maupun kelompok mereka tidak bisa melupakan jasa dan peran PT KPI RU II Dumai-Sungai sehingga bisa seperti sekarang
Ya, semenjak mendapat sentuhan humanis dari sang putri, Rahmadi, Hermansyah, Kamaruzaman, Ridwan, Muhammad Hanafi, Abdul Majid dan warga lainnya tak lagi bertaruh nyawa memanen madu menjalani kehidupan di hutan tanpa nama.
Akan tetapi, kini mereka memanen madu di pekarangan rumah demi menjaga lingkungan hutan tanpa nama sambil menikmati manisnya hidup bersahabat dengan alam.***