
PESONA BATIK DUMAI: Ketua Tim Penggerak PKK Kota Dumai Hj. Leni Ramaini didampingi Eva Zahari memamerkan pesona batik Dumai, Jumat (18/9) yang merupakan kolaborasi bersama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) f Hendri D
Selembar kain batik tak hanya bernilai ekonomis, tidak sekadar motif dan warna. Di balik setiap goresan canting tersirat kayataan budaya, legenda, lingkungan dan lainnya. Ini tercipta ketika manusia dan alam saling memahami peran
Oleh : Hendri D
MATA elang Wati sesaat menatap ke arah wajan berisi cairan malam yang berfungsi sebagai bahan perintang atau penghalang warna agar bagian kain yang tertutup malam tidak terserap oleh cairan pewarna saat proses pencelupan atau pelukisan, Jumat (18/9).
Di bawah wajah kompor has berukuran 3 kilogram terus memancarkan api. Asap mulai mengepul.
Di depan perempuan itu terhampar kain putih dengan panjang sekitar 2,5 meter lebar sekira 1,5 meter.
Dirasa panas cairan malam sudah bisa digunakan perempuan itu menyiapkan berapa motif batik berbentuk segi empat dengan ukuran sekitar 40 sentimeter x 20 meter terbuat dari kayu dilapisi plat besi dibagian bawahnya bergambar motif atau beragam corak batik yang merupakan kreasi penggiat seni Dumai yang diperoleh melalui sayembara.
Tidak bisa dipungkiri batik bukan berasal dari Sumatera. Bagi masyarakat pulau Andalas mereka lebih mengenal tenunan songket.
Batik sendiri awalnya berkembang sejak zaman Kerajaan Majapahit (abad ke-13) hingga Kesultanan Mataram di Solo dan Yogyakarta. Pada masa ini, batik merupakan pakaian eksklusif bagi raja, bangsawan, dan keluarga istana sebagai simbol status sosial (motif tertentu seperti parang atau kawung dilarang untuk rakyat biasa).
Penyebaran ke Masyarakat: Mulai meluas ke luar lingkungan keraton pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, kemudian dikerjakan secara mandiri oleh masyarakat umum terutama kaum perempuan.
Diketahui pengaruh budaya dan kolonial: Berakulturasi dengan budaya luar seperti India (impor kain mori), Tiongkok, Timur Tengah, dan Belanda (munculnya batik pesisir yang lebih berwarna).
Terkait inovasi teknik: batik sekitar tahun 1920 (pasca Perang Dunia I) diketahui, teknik batik cap mulai diperkenalkan untuk mempercepat proses produksi selain menggunakan canting (batik tulis).
Panjangnya sejarah di nusantara sehingga menyebar luas ke pelosok negeri tidak sekedar di pulau Jawa yang disesuaikan dengan akar budaya lokal notabene batik massif diproduksi nyaris di seluruh daerah di Indonesia.

MEMANASKAN MALAM : Sakah seorang pembatik sedang memanaskan malam atau lilin khusus batik di wajan. Setelah mencair selanjutnya wajan ditutup untuk mendinginkan pada suhu tertentu. Selanjutnya digunakan untuk membatik, Jumat (18/9). F Hrndri D
Alih – alih pada tanggal 2 Oktober 2009, batik resmi diakui oleh UNESCO sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional melalui Keppres No. 33 Tahun 2009. Lantas bagaimana Wati memperoleh keahlian membatik?
Ini berawal dari kehadiran Ketua TP PKK Dumai, Hj. Leni Ramaini dalam pertemuan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekrasnada) Riau di Pekanbaru sekitar tahun 2023.
Dalam pertemuan itu kecuali Kota Dumai maka 10 kabupaten dan kota di Riau menampilkan batik kreasi mereka yang disesuaikan dengan budaya, tradisi, alam wilayah setempat.
Melihat kondisi ini, istri orang nomor satu Kota Dumai ini terpacu untuk menggarap budaya dan tradisi wilayah yang dihuni lebih dari 300 ribu itu.
Jelas motivasinya bukan “adu ego” dengan daerah lainnya di bumi lancang kuning. Namun dia menilai bahwa batik bisa dijadikan cara efektif memperkenalkan budaya adi luhung kota yang terletak di pantai timur pulau Sumatra ke publik plus nilai ekonomis dalam kerangka memberdayakan perempuan.
Tanpa membuang waktu Leni dan pengurus TP PKK Kota Dumai lainnya sepakat memboyong narasumber asal Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIPY) Ashar Fauzi Hanayang dikenal dengan dedikasinya terhadap dunia batik.
Selanjutnya Ashar Fauzi berbagi ilmu mulai dari teknik dasar mencanting hingga pewarnaan alami yang ramah lingkungan dan semua ilmunya berhasil diserap oleh peserta pelatihan.
Dari yang sebelumnya tidak bisa membatik, kini puluhan tangan perempuan Dumai terlihat lincah memainkan canting di atas kain putih
Karya tersebut kemudian dikenal sebagai batik Dumai atau batik Putri Tujuh, yang mengangkat berbagai motif terinspirasi dari alam pesisir dan budaya Melayu Kota Dumai.
Ketua TP PKK Kota Dumai, Leni Ramaini, mengaku tidak menyangka pelatihan yang awalnya hanya ditujukan untuk memberikan keterampilan kepada anggota PKK kini berkembang menjadi kegiatan produktif. Pelatihan membatik itu sendiri diikuti sekitar 20 anggota TP PKK tingkat Kota hingga kecamatan dan dilaksanakan selama dua bulan.

MENCAP KAIN: Setelah kain dasar dipersiapkan berikut pola atau corak batik apa yang akan dibuat seprang pembatik, Jumat (18/9) mulai melakukan pengecepan pola ke kain. F Hrnfri Dbatik
Tidak hanya menghasilkan kain bermotif indah, keterampilan tersebut juga mulai membuka peluang ekonomi baru bagi para pengrajinnya.
Di tangan mereka, selembar kain putih disulap menjadi karya batik dengan motif khas Kota Dumai. Berawal dari pelatihan membatik yang digelar bersama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), para anggota TP PKK Dumai kini mampu memproduksi batik sendiri.
Sebelumnya pengurus TP PKK Dumai dan juga koordinator galeri batik, Eva Zahari menjelaskan bahwa batik Dumai diberi nama Batik Putri Tujuh diambil dari legenda lokal yang sangat melekat dengan identitas Kota Dumai.
Selain melambangkan identitas daerah maka penamaan tersebut sengaja dipilih agar batik yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa cerita daerah.
Mereka ingin batik tidak hanya indah dipandang, tetapi juga membawa cerita dan makna dari daerah yang menghadap selat Malaka.
Keindahan Batik Putri Tujuh tidak lepas dari kekayaan motif yang diciptakan oleh para pengrajin. Beberapa motif yang kini menjadi ciri khas antara lain Pucuk Rebung, yang melambangkan pertumbuhan dan harapan, Bunga Tanjung, simbol keanggunan dan keharuman budi.
Sementara, Periuk Beruk atau Kantong Semar, yang menggambarkan kelestarian alam pesisir, serta Selembayung, ornamen Melayu yang mencerminkan kemegahan dan adat istiadat masyarakat Dumai.
Lalu motif apa saja yang mereka perkenalkan ke publik? Ya, motif utama mereka adalah motif batik sunting yang melambangkan kecantikan, kelembutan, dan kehormatan perempuan Melayu.
Eva menjelaskan motif itu mencerminkan nilai kesopanan, kemuliaan, dan martabat yang dijunjung tinggi dalam adat. Selain motif batik sunting yang menjadi andalan, mereka juga mengembangkan beberapa motif lain yang terus kembangkan agar variasinya semakin banyak.
Diantara motif batik itu, periuk beruk atau kantong semar, yang menggambarkan kelestarian alam pesisir, serta Selembayung, ornamen Melayu yang mencerminkan kemegahan dan adat istiadat masyarakat Dumai.

MENGIKUTI POLA : Khusus untuk batik tulis pembatik membuat pola selanjutnya menggunakan cating mengikuti pola itu, Jumat (18/9). F Hendri D
Melalui pelatihan membatik, para peserta tidak hanya belajar teknik pembuatan batik, tetapi juga diajak memahami filosofi di balik setiap motif yang mereka hasilkan. Kini, hasil karya mereka tidak hanya mempercantik kain, tetapi juga memperkuat jati diri budaya lokal.
Keberhasilan Galeri Batik Dumai tidak lepas dari peran berbagai pihak yang mendukung pelatihan dan pemberdayaan pengrajin batik. Diantaranya PT Pertamina Hulu Rokan yang menjadikan mereka sebagai mitra dalam program Tanggungjawab Sosial Lingkungan (TJSL) perusahaan semi plat merah itu. Kontribusi perusahaan yang alih kelola Blok Rokan per 9 Agustus 2021 itu diakui Ketua TP PKK Kota Dumai, Leni Ramaini.
Bantuan tidak hanya sebatas peralatan dan lainnya, namun perusahaan yang berdiri 20 Desember 2018 itu juga membantu pemasaran batik kebanggaan masyarakat Dumai ini. Seiring perjalanan waktu, batik Dumai semakin terkenal setelah dikenakan orang nomor satu di Kota Dumai, i H. Paisal yang selalu mengenakan batik Dumai dalam sebuah momen penting seperti membuka dan menghadiri acara – acara resmi.
Wako mengaku saat mengenakan Batik Dumai sangat bangga, dan banyak yang menilai motifnya bagus. Dia berharap kontribusi PT PHR dalam memberdayakan UMKM dan perempuan diikuti perusahaan lainnya yang beroperasi di wilayah itu.
Mantan Kadiskes Kota Dumai itu berharap batik Dumai terus tumbuh kembang, tidak hanya di provinsi Riau, tapi nasional termasuk mancanegara.
Setakat ini batik Dumai diproduksi secara masal dan otomatis menghadirkan peluang ekonomi baru bagi TP PKK yang dulunya hanya bermimpi bisa menjual karya mereka sendiri.
Batik yang menjadi wajah kota itu dibuat di aula Balai Khairul Anwar dan saat ini menjadi Dapurnya Galeri Batik Dumai yang beralamat di Jalan Putri Tujuh Kompleks Perumahan Walikota Dumai, tepatnya di sisi kiri rumah dinas walikota Dumai.
Sebelumnya, Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian Kota Dumai Nurzerwan mengatakan, Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian memberikan apresiasi kepada TP PKK Kota Dumai, yang telah berinisiatif dan berperan aktif dalam melaksanakan pelatihan membatik bagi masyarakat.
Apresiasi juga juga kami diberikan kepada PT PHR yang telah memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan pelatihan membatik.
Berkat kolaborasi yang baik antara TP PKK dan PT PHR, sebut dia, pelatihan berhasil membekali seluruh peserta dengan keterampilan membatik hingga mampu menciptakan motif dan produk batik khas Dumai yang memiliki nilai seni dan nilai ekonomi tinggi.

PELEPASAN MALAM: Setelah pembatikan selesai selanjutnya memasuki tahap pelorotan malam atau melepaskan malam untuk meluruhkan drluruh malam yang melekat pada kain dengan meRebus kain di dalam air mendidih yang sudah dicampur dengan larutan (misalnya water glass atau soda abu), Jumat (18/9), Hendri D
Corporate Secretary PT PHR Regional 1 Sumatra, Eviyanti Rofraida, menegaskan bahwa dukungan terhadap pelatihan dan produksi batik bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga strategi pemberdayaan masyarakat.
Lebih lanjut dikatakannya, pemberdayaan UMKM tidak hanya diarahkan pada peningkatan kapasitas bisnis, tetapi juga bagaimana usaha dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk tumbuh dan mandiri.
Bagi PT PHR, lanjut dia, batik merupakan contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ya, pasca diperkenalkan, antusiasme masyarakat terhadap Batik Dumai terus meningkat. Dalam sebulan, Galeri Batik Dumai bisa menjual hingga 100 lembar kain batik, baik untuk kebutuhan pribadi maupun oleh – oleh khas daerah dan pesanan dari berbagai instansi dan perusahaan.
Untuk memperluas pemasaran, TP PKK Kota Dumai membuka Galeri Batik Dumai di pusat pertokoan Dumai Islamic Center (DIC), Jalan HR Subrantas Dumai dan juga di media sosial galeri batik Dumai.
Pengurus TP PKK Kota Dumai Eva menjelaskan bahwa dalam satu bulan, Galeri Batik Dumai bisa menjual hingga 100 lembar kain batik. Pembelinya tidak hanya masyarakat Dumai, tetapi juga warga dari luar daerah.
Untuk harga, batik cap dibandrol sekitar Rp250 ribu per lembar, sedangkan batik tulis dihargai sekira Rp350 ribu per lembar.
Dari yang sebelumnya tidak bisa membatik, kini puluhan tangan perempuan Dumai terlihat lincah memainkan canting di atas kain putih Ya, warna-warna hangat berpadu indah di etalase kaca, dari kejauhan terlihat jelas corak batik hasil karya tangan-tangan terampil pengrajin lokal.
Bukan hanya menghasilkan kain bermotif indah, keterampilan tersebut juga mulai membuka peluang ekonomi baru bagi para pengrajinnya.

KAIN BATIK DILIPAT: Setelah dilkukan proses pelorotan maka kain batik dijemur ditempat teduh agar tidak langsung terkena sinar matahari yang akan merusak kualitas wana batik. Selanjutnya batik yang telah dijemur siap dilipat untuk dijual, Jumat (18/8). F Hendri D
Bagi para peserta pelatihan, batik bukan sekadar kain. Ia adalah simbol perjuangan. Dalam setiap tarikan canting, terselip asa demi kehidupan yang lebih baik plus warisan kepada generasi mendatang. ***