
Gerbang masuk ke arboretum gambut Marsawa eduwisata berbasis lingkungan menjadi pusat konservasi tanaman langka berlokasi di Kampung Jawa, Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis.
Oleh : Hendri D
“SREE….EEEK” bunyi sapu lidi tatkala menyentuh tanah dikala tangan lelaki paruh baya sedang menyapu di areal arboretum Marsawa yang berlokasi di Kampung Jawa, Kelurahan Sungai Pakning, Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Sabtu (7/9). Kendati tak beraturan terkadang bunyi seretan sapu lidi menciptakan irama tersendiri.
Sadikin (53) nama pria itu tidak menyadari kehadiran www,temporiau.co tatkala memarkirkan kendaraan tidak jauh dari gerbang arboretum. Ternyata deru suara kuda besi keluaran Jepang tidak mampu mengusik keseriusan dia memungut dedaunan yang menguning kecoklat-coklatan yang dihembus angin pantai pesisir Pulau Sumatera.
Sebuah kata salam akhirnya menghentikan lelaki itu menyapu di sekitar saung —bangunan seperti rumah di sawah atau kebun, red- utama yang berjarak sekitar 150 meter dari gerbang utama. Selanjutnya, awak media ini pun mengungkapkan maksud kedatangan di arboretum itu.
Tak lama berselang Sadikin pemilik dan pengelola arboretum menghentikan membersihkan sejumlah pepohanan di lahan seluas 1,1 hektar. Selanjutnya awak media ini pun bercakap-cakap dengan lelaki itu.
Saung utama dan saung lainnya hanya dipisahkan jalan kecil berbalut batu alam. Sementara sisi kanan dan kiri ditanami pohon-pohon kecil. Sejauh mata memandang yang didapati rerimbunan pepehonan sesekali belaian angin sepoi-sepoi.
Meski ini merupakan pertemuan kali pertama. Namun www.temporiau.co merasakan aura bersahabat terpancar dari lelaki yang siang itu mengenakan kaus hitam berpadu celana hitam.
Setelah memperkenalkan diri dan mengutarakan kedatangan untuk melakukan wawancara, awak media ini terlibat pembicaraan hangat dengan ayah tiga anak ini seputar arboretum berikut pernak-perniknya termasuk suka dukanya sebelum kerja kerasnya berbuah manis yakni meraih penghargaan tertinggi untuk penggiat lingkungan di negeri yang berpenduduk lebih dari 250 juta ini yaitu Kalpataru tahun 2020.
Mungkin bagi sebagian orang istilah arboretum terdengar asing? Oleh karena itu, sekedar berbagi informasi apa sebenarnya arboretum itu secara definitif menurut hemat www.temporiau.co tidak ada salahnya diinformasikan.
Ya, dalam bahasa latin, arboretum berasal dari kata arbor yang berarti pohon, dan retum yang berarti tempat. Sedangkan arboretum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diartikan sebagai tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan. Istilah arboretum sendiri pertama kali digunakan oleh John Claudius Loudon pada tahun 1833.

Agar kebersihan tetap terjaga pengelola arboretum gambut Marsawa, Sadikin, sedang menyapu halaman utama obyek eduwisata berbasis lingkungan.
Musibah Pun Datang
Dibalik musibah ada skenario terindah yang bakal dikirim Sang Pencipta bagi mahluknya. Begitula kata-kata orang bijak.
Musibah itu pun datang, tepatnya sekitar tahun 2010. Ini diduga berawal dibukanya perkebunan sawit skala besar di wilayah itu. Belakangan ditenggarai luas lahan hutan hampir 3000 hektar beralih fungsi menjadi perkebunan. Alih-alih pasca hutan dirambah dan membuat kanalisasi. Selanjutnya terjadi kekeringan.
Akibat terjadi kekeringan pada tahun 2011, kebun sayur milik warga tidak menghasilkan lagi. Begitupula dengan tanaman keras lainnya.
Mulai dari tahun 2011 Sadikin dan sejumlah warga nyaris tiap hari mengejar api untuk dipadamkan.
Titik api muncul dari segala penjuru mata angin. Siang-malam mereka berjbaku memadamkan api. Belum tuntas asap di barat muncul di selatan. Begitupula di timur dan selatan. Alih-alih oleh petugas kampung itu dijuluki “kampung neraka”
Selama mengejar api itu, bisa dikatakan Sadikin dan warga lainnya tidak mempunyai pendapatan. Karena pohon produksi atau menghasilkan seperti karet, pinang, sayur mayor dan sebagainya milik warga juga ikut terbakar.
Memang kebakaran diperiode itu terbilang hebat. Paling tidak, peneliti dari Rona Lingkungan Hidup Universitas Riau (Unri) Tengku Ariful Amri mengakui hal itu. Kendati begitu, menurut dia yang terbesar masih dipegang Karhutla 1997 silam. Dampaknya amat parah, termasuk jatuhnya pesawat dan efek asap yang sampai ke negara-negara tetangga, bahkan hingga Australia.
Terlepas dari Karhutla periode mana yang besar atau hebat. Yang terang asap akibat Karhutla tidak hanya menganggu sektor ekonomi, sosial kemasyarakatan termasuk kesehatan. Namun yang mengkuatirkan dampak asap itu yakni hilangnya generasi atau lost generation.
Menurut Senior Humanitarian Policy Advocacy Manager Save The Children Indonesia, Rinsan L Tobing, masalah asap akibat kebakaran hutan bisa mengganggu kesehatan anak. Salah satunya merusak paru-paru dan otak, termasuk proses tumbuh kembang.
Rinsan dalam ‘Diskusi Karhutala dan Lost Generation’ di Seribu Rasa, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu mengatakan, kejadian itu selalu berulang setiap tahun selama 22 tahun belakangan. Jika ini tidak dicari solusinya, proses tumbuh kembang anak akan terganggu karena terus terpapar asap.
Efek terpapar asap dalam jangka panjang bisa menimbulkan kerugian saat anak beranjak dewasa. Terutama saat memasuki usia produktif.
Masih kata dia, anak terdampak asap puluhan tahun, pemulihannya akan butuh biaya besar. Untuk pemeliharaan, pengobatan, perawatan, dan penyediaan fasilitas. Kalau tidak ditangani, bisa tidak produktif dan menjadi beban negara.
Yang jelas dibanding rekan-rekannya yang tergabung dalam Koperasi Tunas Makur (sebelumnya berstatus Kelompok Tani (Koptan), red) Sadikin masih beruntung. Paling tidak lahan yang dihibahkan orang tuanya seluas 1,1 hektar tidak ikut terbakar. Tidak hanya itu, profesi supir yang dilakoninya kala itu masih bisa diandalkan agar dapur tetap mengepul.

Pengelola arboretum gambut Marsawa, Sadikin, menujuk ke pohon kantong semar (nepenthes spp) tumbuhan pemangsa serangga yang menjadi salah satu tanaman langka koleksi arboretum binaan PT KPI RU II Sungai Pakning yang berada di bawah Koperasi Tunas Makmur.
Ternyata kerugian akibat kebakaran lahan tidak hanya sebatas materi dan ekonomi. Akan tetapi, ikut memakan korban. Adalah Adinda Anugrahaini seorang bocah berusia sekitar tiga tahun yang tak lain putri bungsu Sadikin.
Kata Sadikin, Dinda (sapaan akrab Adinda Anugrahaini) menderita kelainnan pada jantung notabene ketika udara tidak sehat, misalnya, tangan putri kesayangannya itu langsung membiru.
Akhirnya buah hatinya itu dilarikan ke rumah sakit daerah di Bengkalis, Dinda sempat mengalami sesak napas dan demam.
Selanjutnya Dinda dirujuk ke rumah sakit provinsi, RS Arifin Achmad di Pekanbaru. Anak itu hanya sempat dirawat dua hari terus menghebuskan napas terakhir.
Dicemooh
Meski Karhutla 2011 s/d 2015 sudah mulai mereda. Namun menyisakan dedaunan yang merengas di lahan gambut akibat terik matahari dan sisa-sisa abu dedaunan yang terbawa angin.
Demi menyambung hidup, Sadikin dan Koperasi Tunas Makur pun melakukan pembudidayaan lebah madu. Mereka berpendapat akan memudahkan lebah untuk mencari asupan makanan seperti bunga, serbuk putik pepohonan dan lainnya yang masih dijumpai disisa-sisa lahan terbakar. Akhirnya dilahan 1,1 hektar milik Sadikin dibangun 30 gelodok (tempat pembudidayaan lebah madu, red)
Sayang, asa yang berlapis-lapis itu sirna sebelum mereka panen didahului binatang buas. Ternyata beruang gemar dengan madu. Mereka belum tahu kapan panen, ee… binatang itu sudah tahu duluan. Ya, sebelum mereka memanen didahului oleh hewan yang membuat mereka ketajutan.
Beruntung sekitar tahun 2017, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) PI Pertamina Refinery Unit (RU) Sungai Pakning memberikan bantuan melalui program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) berupa pembudidayaan nanas kepada Koperasi Tunas Makur.
Inilah awal kebangkitan Sadikin, selain mendapat pemasukan dari hasil penjualan aneka ragam makanan dari nanas juga perusahaan itu menawarkan kepada warga lainnya program kerjasama yang berkaitan dengan kondisi alam Kampung Jawa terlebih antisipasi Karhutla.
Pucuk dicinta ulampun tiba, Sadikin menawarkan kepada perusahaan agar lahan seluas 1,1 hektar dijadikan arena bermain dan pusat wisata alam. Pertamina pun menyetujui usulannya itu
Langkah itu diambil Sadikin, karena merasa sayang jika pohon yang sudah mulai membesar di lahan hibah dari orang tuanya ini ditebang untuk menanam sawit, misalnya. Belakangan dia baru tahu ada sejumlah tumbuhan tergolomng langka.
Lazimnya kasih seorang ayah kepada sang anak itupula yang dilakukan Sadikin terhadap pohon dan tumbuhan yang ada di lahan milikya. Dia sangat telaten menjaga dan merawat aneka ragam tumbuhan itu.
Kecintaan itu dibuktikan Sadikin tatkala dia rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli tanaman terbilang langka untuk menambah koleksi lahannya. Meski dia tidak memiliki pekerjaan tetap alias serabutan. Sadikin pun berpendapat jika tidak membeli bibit pohon terbilang langka maka koleksi pohon di arboretum tidak akan bertambah.

Atas dedikasinya menjaga lingkungan Sadikin yang juga binaan PT KPI RU II Sungai Pakning menerima penghargaan Kalpataru dari pemerintah di kategori perintis lingkungan. Peanugerahan diberikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, Siti Nurbaya Bakar, di Jakarta, Senin (21/12/2020) .
Seperti pohon jerenang dari Aceh, ya bibitnya sekitar Rp200 ribu. Selain jerenang maka di lahan itu tumbuh berbagai macam tumbuhan terbilang langka, sebut saja kantong semar (8 jenis) , meranti (10 jenis) selusu, pangor, marsawa dan sebagainya.
Tak hanya sekedar mengeluarkan kocek dalam-dalam, dia pun menjaga tanaman itu dirusak oleh tangan-tangan jahil dengan jalan menempatkan baliho besar peringatan plus denda sebesar Rp500 ribu jika pengunjug kedapatan merusak tanaman.
Begitu telatennya Sadikin menjaga dan merawat tumbuhan. Tak ayal prilaku lelaki 53 tahun silam itu terbilang aneh dimata sebagian besar warga dan kenalannya. Alih-alih dia menjadi bahan cemoohan dan cibiran. Sebab, ketika sebagian besar mereka berlomba-lomba menanam pohon yang menghasilkan atau memiliki nilai ekonomis seperti sawit, misalnya, ayah tiga anak ini sebaliknya tetap “kekeuh” mempertahankan keasrian lahan seluas 1,1 hektar itu.
Diakui Sadikin dari segi materi memang tidak diperolehnya. Tapi dia mengaku mendapatkan kepuasan batin, dan itu harganya tidak ternilai.
Lantas apa yang dilakukan Sadikin menyikapi cibiran itu? Dia menganggap angin lalu. Sebaliknya cemoohan itu membuat pria berwajah bulat ini lebih bersemangat untuk bekerja. Beruntung keluarganya mendukung sehingga menjadi energi tersendiri menghadapi sejumlah cibiran tersebut.
Usaha tidak akan menghianati hasil begitupula yang terjadi dengan Sadikin. Taman bermain dan wisata rekreasi itu diberi nama “Tasya” yang terinsiprasi dari sebuah film kartun kegemaran Adinda putri bungsunya, mulai maju dan berkembang serta menghasilkan rupiah demi rupiah.
Namun nama itu diganti pasca Adinda berpulang menghadap Sang Kholik menjadi “Marsawa” selain nama pohon langka juga kepanjangan Marsela putri sulungnya, Sadikin,Wati sang istri dan Wahyu anak lelakinya. Belakangan atas masukan sejumlah kalangan akhirnya taman bermain itu berubah menjadi arboretum
Sikap berani Sadikin untuk menanam tumbuhan yang dianggap sebagian besar warga tidak bernilai ekonomis di tengah getol-getolnya orang menanam sawit diapresiasi Pengamat Ekonomi dan Pariwisata Riau Annora Arsan SE.
Menurut dia, selain pusat pendidikan dan penelitian maka arboretum milik Sadikin bisa dijadikan wisata konvensi, yakni pertemuan sekelompok orang yang secara bersama-sama bertukar pengalaman dan informasi melalui pembicaraan, mendengar, belajar dan mendiskusikan topik tertentu.
Mantan manajer disejumlah hotel berbintang di Dumai, Pekanbaru dan Batam ini menjelaskan sinergisitas pengoperasian jalan Tol Pekanbaru-Dumai (Permai) yang diresmikan Presiden Joko Widodo dengan destinasi wisata tidak terkecuali arboretum milik Sadikin. Menurut dia kemudahan mengunjungi sebuah destinasi wisata menjadi salah satu pertimbangan seorang untuk menjatuhkan pilihan mengunjungi lokasi wisata termasuk ke arboretum Marsawa.
Hiruk pikuknya kehidupan modern, lanjut Annora, membuat banyak orang lebih memilih wisata alam seperti hutan dan sebagainya untuk dikunjungi.
Bahkan di bebarapa daerah, kata dia, bagaimana cara menanam padi dan sebagainya mulai dijadikan destinasi wisata, bagi generasi mileneal yang tinggal di kota-kota karena bagi mereka hal itu terbilang unik.

Didamping Wakil Bupati Bengkalis Bagus Santoso, pejabat PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning dan Sadikin, Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Drs Alue Dohong MSc PhD, menanam pohon kantong semar.
Pendidikan dan Penelitian
Dari taman bermain lahan milik Sadikin pun berubah menjadi arboretum yang menurut catatan awak media ini waktu itu kali pertama ada di Riau bagian pesisir meliputi Kota Dumai, Kabupaten Kepulauan Meranti, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) dan Kabupaten Siak.
Kehadiran arboretum yang diresmikan Manager Refinery Environment PT Pertamina (Persero) Pusat M Leodan Kamis (08/11/18) menjadi pembicaraan hangat masyarakat.
Belakangan, 28 Sekolah Dasar (SD) yang berada ditiga kecamatan di Kabupaten Bengkalis, Kecamatan Bandar Laksamana, Bukitbatu dan Siak Kecil melakukan kerjasama dengan arboretum milik Sadikin.
Selain masyarakat umum, arboretum itu menjadi bagian dari pelajaran muatan lokal, yakni “sekolah cinta gambut”. Sadikin pun senang karena apa yang dilakukannya bermanfaat bagi generasi penerus bangsa.
Tidak hanya pelajar sekitar arboretum yang memanfaatkannya sebagai sarana pendidikan. Namun, sejumlah mahasiswa dan civitas Universitas Riau (Unri) kerap datang mengunjungi tempatnya. Bahkan peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) juga datang kesini, merekalah yang memberi nama pohon berikut bahasa latinnya.
Masih kata dia, gambut telah menjadi tempat pendidikan dan riset lembaga pendidikan dan mahasiswa kerap memanfaatkan arboretum ini menjadi tempat penelitian hingga sekarang. Bahkan sudah 20 sarjana dihasilkan dari arboretum milik Sadikin.
Dibagian lain, kalangan ahli menilai positif upaya Pertamina dan Sadikin melestarikan lahan gambut yang berbasis pemberdayaan masyarakat melalui program arboretum gambut.
Salah satunya datang ahli biologi tanah IPB Gunawan Djajakirana mengatakan, konservasi dan eduwisata lahan gambut dengan memberdayakan masyarakat, memang harus dilakukan.
Dikutip dari antara ilmuwan ini menilai jika kegiatannya memang begitu, secara general memang baik. Artinya, gambutnya dikonservasi, dimanfaatkan sebaik-baiknya bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, daripada dibiarkan begitu saja, kalau dimanfaatkan lebih.
Menurut dia, gambut memang termasuk tanah yang unik, namun kondisinya berbeda dari satu tempat dan tempat lain. Sebagai tanah organik, gambut berasal dari tumbuhan di wilayah tersebut. Karena Indonesia merupakan wilayah mega biodiversity, dengan aneka ragam tumbuhan maka antara satu wilayah dan wilayah bisa sangat beragam.

Gubernur Riau H Syamsuar berdialog dengan Sadikin pasca dianugerahkan Kapaltaru di arboretum gambut Marsawa.
Sebelumnya Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Riau Riko Kurniawan berpendapat, pengolahan gambut melalui kegiatan-kegiatan positif seperti itulah yang memang harus dilakukan. Yaitu, bagaimana beraktivitas di lahan gambut yang tidak hanya menguntungkan masyarakat, namun sekaligus tidak merusak gambut.
Terkait keberadaan kantong semar yang menjadi ikon arboretum Marsawa, peneliti tumbuan itu Drs Muhammad Mansur, mengatakan langkah konservasi serius perlu dilakukan untuk nepenthes atau tanaman kantong semar terutama yang hanya bisa ditemukan di Indonesia.
Masih kata peneliti di Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) (sebelum dilebur menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 78 Tahun 202, red) terlebih nepenthes yang endemik perlu benar-benar ada perhatian untuk konservasi, terutama yang ada di Indonesia karena itu merupakan aset dunia.
Dikatakannya jika nepenthes clipeata kalau sampai punah bukan hanya kerugian bagi Indonesia, tapi seluruh dunia akan merasa kehilangan karena spesies itu sangat langkah.
Nepenthes clipeata atau kantong semar sudah ditetapkan pada 2014 oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) masuk dalam “red list” sebagai flora yang berada dalam kategori sangat berisiko punah.
Terkait tanaman langka itu, arboretum milik Sadikin menjadi rujukan penelitian baik dari UNRI, Politeknik Bengkalis (Polbeng) juga dari UGM, IPB , USM, LIPI dan lembaga lainnya.
Selain dijadikan tempat pendidikan dan penelitian, ternyata arboretum milik Sadikin pernah juga didatangi sejumlah kalangan yang ingin belajar dan selanjutnya mendirikan arboretum di daerah mereka. Apakah Sadikin tidak takut suatu saat akan menjadi kompetitor arboretum miliknya? Dia senang bisa berbagi. Soal rezeki Sadikun berpendapat sudah ada yang mengatur.

Pengelola arboretum gambut Marsawa, Sadikin, mendampingi pejabat PT Pertamina (Persero) menanam sejumlah pohon langka untuk menambah koleksi arboretum.
Dosen Terbang
Kerjaja keras Sadikin tidak sia-sia Keringat bercucuran menghadang matahari saat merawat arboretum serta merogoh kocek dalam—dalam sekedar membeli tanaman penambah koleksi dan cemoohan atau cibiran yang ia rasakan selama ini berbuah manis.
Paling tidak semuanya terobati pasca Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia No SK.302/MENLHK/PSKL/PEG.7/7/2020, ia dinobatkan menjadi penerima penghargaan Kalpataru Tahun 2020 untuk kategori perintis lingkungan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Siti Nurbaya.
Menyusul prestasi membanggakan ini, Gubernur Riau (Gubri) kala itu dijabat Syamsuar memberikan apresiasi kepada PT Pertamina (Persero) atas terpilihnya putera Riau menjadi penerima Kalpataru Tahun 2020 dalam kategori Perintis Lingkungan.
Orang nomor satu bumi lancang kuning ini berharap, langkah Sadikin yang aktif dalam penanggulangan kebakaran lahan dan hutan gambut dapat diikuti oleh masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan terutama lahan gambut yang memang banyak terdapat di Provinsi Riau.
Sementara General Manager (GM) PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning yang saat itu dipegang Didik Bahagia juga memberikan apresiasinya kepada Sadikin atas konsistensinya sejak awal mengembangkan kawasan arboretum gambut dan telah dengan setia menjadi mitra binaan Pertamina RU II.
Didik juga mengakui Sadikin merupakan pribadi yang tangguh dan tulus memiliki kepedulian terhadap lingkungan telah berupaya mempertahankan hutas asli menjadi taman arboretum gambut bersama PT KPI RU II Sei Pakning sebagai tempat edukasi generasi muda.
Dikatakannya ketulusan Sadikin dalam melestarikan lingkungan gambut bersama dengan pendampingan yang dilakukan oleh Pertamina, telah membuahkan hasil yang bisa dirasakan oleh masyarakat di Sungai Pakning.
Lalu bagaimana dengan Sadikin terkait capaian yang membangakan itu? Dia tidak menampik Kalpataru memang sangat membanggakan. Namun yang takkalah membuat dirinya bahagia pasca menerima penghargaan itu, dia kerap diundang menghadiri sejumlah acara terkait lingkungan. Seperti Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementeria KLH membahas lahan gambut di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), konsep sekat nanas penghambat Karhutla yang digelar di Kalimantan serta daerah lainnya.

Selain menjadi eduwisata berbasis lingkungan dan penelitian arboretum gambut Marsawa juga dijadikan tujuan wisata sejumlah warga untuk refreshing diakhir pekan .
Masih kata dia, sebelum meraih Kalpataru untuk pertemuan tingkal lokal perkataannya pun tidak diacuhkan. Ya, semenjak meraih penghargaan itu perlakuan berbeda pun dirasakannya.
Ditambahkannya kalau saja dulu dia menanam sawit mana bisa kemana-mana. Untuk ongkos saja tidak cukup, belum lagi dihargai orang.
Kebanggaan tak ternilai bagi Sadikin, yakni dikala Marsela putri sulungnya yang kuliah di Unri mengaku bangga atas raihan prestasi ayahnya itu.
Lantas seberapa besar bantuan Pertamina kepada Sadikin? Diapun menjelaskan hampir 90 persen berasal dari perusahaan plat merah itu, modal dirinya cuma lahan dan pohon.
Terkait hal itu Manajer Communication & CSR (Comrell) PT KPI RU II Dumai-Sungai Pakning, Agustiawan ST kepada www.temporiau.co.menjelaskan, Koperasi Tani Tunas Makmur yang mengelola arboretum gambut Marsawa mendapat dukungan penuh PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU II Sungai Pakning dalam bentuk pelatihan menyusul pengelolaan wisata, Pembangunan fasilitas pendukung seperti rumah ibadah, kafe, rumah produksi UMKM hingga area konservasi kantong semar.
Masih kata dia, upaya pemberdayaan masyarakat ini turut didukung dengan adanya kolaborasi bersama Pemerintah Kelurahan hingga Universitas setempat agar dapat memberikan dampak program yang berkelanjutan. Perusahaan turut menjadikan produk UMKM milik kelompok perempuan di Koperasi tani tunas Makmur sebagai salah satu produk utama hingga kini produk tersebut telah tersebar ke seluruh Indonesia.
Besarnya dampak dan perubahan yang telah dilakukan oleh kelompok bersama perusahaan, kini Lokasi wisata arboretum gambut ini telah dikunjungi oleh 14 Negara dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia Siti Nurbaya.
Turun
Impian Sadikin teramat sederhana. Namun hasilnya tidak lagi sederhana. Dia berharap dari arboretum ini bisa mejumput rupiah demi rupiah untuk menopang kehidupan keluarganya. Disamping menjadi paru-paru udara di wilayahnya.
Namun apa daya, pandemi Covid-19 memporak-porandakan mimpi kecilnya itu. Sebelum virus yang kali pertama ditemukan di Wuhan, Tiongkok itu melanda dunia hasil dari arboretum itu terbilang menjanjikan.
Palimg tidak dari hasil tiket masuk Rp5000 per orang maka dalam sebulan didapatkan penghasilan sekitar Rp15 juta, dengan perincian 10 persen untuk Koperasi Tunas Makmur (arboretum merupakan divisi wisata di koperasi itu, red) 25 persen untuk Sadikin sebagai pengelola selebihnya untuk biaya perawatan dan pemeliharaan. Bahkan saat pengunjung ramai mereka mempekerjakan orang untuk membantu.
Sadikin menjelaskan disaat akhir pekan, misalnya, sepanjang sisi kanan dan kiri jalan menuju arboretum dipenuhi kendaraan roda dua dan empat.
Pengunjung tidak hanya dari wilayah sekitar mau pun daerah lainnya di Provinsi Riau, namun dari sejumlah provinsi tetangga seperti Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan lainnya pun berdatangan. Mereka penasaran dengan tumbuhan langka itu yang ada di arboretum itu.
Lazimnya di era digital, Sadikin pun memanfaatkan Media Sosial (Medsos) seperti faceebok, instagram dan lainnya untuk mempromosikan arboretum miliknya.
Semenjak pandemi Covid-19 melanda arboretum mulai sepi. Ini sesuai protokol kesehatan salah satunya menghindari kerumunan. Kendati demikian, hampir setiap hari Sadikin dan keluarga mendatangi tempat tersebut melakukan perawatan.
Tak hanya itu, sembari menunggu wabah Covid-19 mereda Sadikin membangun home stay berukuran kecil agar memudahkan peneliti melakukan riset. Pembangunan itu menyusul permintaan peneliti biar mereka mudah ke lokasi penelitian. Semua bahan pembuatan home stay dan lainnya bantuan dari Pertamina.
Kendati pembatasan kerumunan orang dicabut pemerintah menyusul meredanya wabah virus Covid-19. Namun kondisi arboretum gambut Marsawa relatif masih sepi dibanding sebelum datangnya virus yang disebut-sebut berasal Tiongkok itu.
Terkait hal itu, Sadikin menjelaskan bahwa saat ini banyak berdiri arboretum disekitar objek wisata dan penelitian miliknya termasuk dari kabupaten tetangga. Ya, banyak diantara mereka pada awalnya belajar dengan pria itu selanjutnya mendirikan atau membuat arboretum. Apakah Sadikin menyesal? Jawabnya tidak, karena dia berprinsip kian banyak orang menjaga dan mencintai alam maka semakin baik bagi dunia dan generasi selanjutnya.
Menyikapi kondisi itu Manajer Communication, & CSR (Comrel) PT KPI RU II Dumai Agustiawan menjelaskan bahwa kunjungan di lokasi arboretum memang menurun sejak pandemi yang terjadi dari tahun 2020 hingga akhir tahun 2021, saat ini.
Untuk meningkatkan kembali kunjungan masyarakat di arboretum perusahaan berupaya untuk melaksanakan iven-iven seperti kunjungan tamu perusahaan dan acara pembelajaran luar kelas yang melibatkan siswa sekolah untuk menarik kembali pengunjung, perbaikan dan renovasi fasilitas juga dilakukan untuk memperbaiki fasilitas yang rusak sejak pandemi.
Masih kata dia perusahaan juga berencana menyusun rangkaian wisata dengan menyatukan beberapa lokasi binaan seperti ekowisata mangrove, pertanian hortikultur, pertanian nanas, dan arboretum menjadi sebuah rangkaian wisata agar menjadi daya tarik wisata di Kabupaten Bengkalis.
Ditambahkannya program yang dilaksanakan PT KPI RU II Unit Produksi Sungai Pakning bersama masyarakat mewujudkan arboretum gambut sebagai implementasi dari salah satu Sustainable Development Goals (SDGs) ke-15 yakni menjaga ekosistem darat dan SDGs ke-8 pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.
Lantas ada pertanyaan menggoda apa yang membuat Sadikin bertukus lumus menjaga dan memelihara pepohonan yang ada di arboretum itu, meski saat ini kurang menghasilkan atau sepi dari pengunjung?
Mendapat pertayaan itu, Sadikin pun menjawab bahwa kesetiannya menjaga lahan hutan gambut warisan orangtuanya agar ke depan tidak ada lagi korban saat Karhutla terjadi. Dengan tegas dia mengatakan bahwa cukup anaknya menjadi korban akibat kabut asap Karhutla.
Kendati Sadikin hanya tamatan SMA. Namun pandangannya terhadap lingkungan hidup patut diapresiasi. Dia berpendapat bahwa setiap mahluk hidup berhak menikmati udara bersih, sehat dan segar, karena itu adalah anugerah Tuhan.
Dia ingin arboretum gambut Marsawa menjadi paru-paru di wilayah itu biar setiap mahluk hidup mendapatkan udara bersih, sehat dan segar.
Suasana arboretum kembali sunyi, berbagai suara binatang tedengar dari rerimbunan pepohonan. Hembusan angin sepoi-sepoi kembali melanda. Meski tempat yang dikelolanya tidak seramai dulu lagi menyusul berdirinya sejumlah arboretum, namun Sadikin tidak gundah kelana. Karena dia berpendapat kian banyak orang mecintai alam pertanda baik bagi dunia. Bukankah alam guru hidup bagi manusia? ***