Sentuhan Humanis ala PT PHR Membuat Perempuan Bermental Baja Itu Sukses Menggapai Mimpi dan Selalu Siap Berbagi

 

F Hendri D
Pendiri Kelompok Usaha Bersama (KUB) Rumah Jahit Lestari (RJL) Suci Sustari bersama salah seorang pekerja memperlihatkan salah satu hasil produksi kebanggaan mereka.

Oleh : Hendri D
KATA orang bijak bahwa kesuksesan menyertai orang-orang pemberani. Ya, disini makna berani bukan berarti membabi buta tanpa perhitungan. Akan tetapi siap mengambil resiko dari sebuah keputusan dengan tetap mengkedepankan sikap kehati-hatian.
Ya, pagi menjelang siang, Sabtu (15/6), seorang perempuan paruh baya serius memberi arahan kepada tiga pekerjanya yang masih berusia muda.
Meski akhir pekan, aktifitas PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) plus perusahaan mitra kerja sebagai penggerak roda perekonomian wilayah itu libur, namun kendaraan tetap ramai lalu lalu lalang di Simpang Geroga yang memisahkan dua jalan utama di Kota Duri, Jalan Sudirman dan Jalan Hangtuah.

Jalan Hangtuah, misalnya, merupakan jalan lintas bagi masyarakat yang hendak ke provinsi tetangga Sumatera Utara (Sumut) lewat Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) termasuk ke Kota Dumai melalui jalan non tol Pekanbaru-Dumai atau Pertmai.
Disalah satu Rumah Tokoh (Ruko) di jalan utama itu perempuan yang mengenakan batik dengan corak khas tertentu berwarna hijau dongker tidak menyadari kehadiran www.temporiau.co dan awak media lainnya.

Tanpa bermaksud menguping pembicaraan, tidak sengaja terdengar samar-samar arahan itu terkait peran media sosial (Medsos) menyusul meningkatkan brainding produk dan sebagainya.

Ketiga anak muda itu tampak serius mendengarkan arahan tersebut terkadang mereka mencatat poin-poin yang dianggap penting.

 

F Hendri D

Seorang perempuan muda yang tergabung dalam PT RJL (sebelumnya KUB RJL) sedang menggunting kain sebagai bahan dasar membuat pesanan 

Setelah mengetahui kehadiran awak media ini, perempuan itu pun sesaat menghentikan pertemuan dan dia menyatakan siap untuk diwawancarai setelah www.temporiau.co memperkenalkan diri serta menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan singgah ke Ruko miliknya.
Ya, perempuan itu, Suci Sustari SPd kelahiran Palembang 17-7-1979 ini begitu semangat menjalankan dan melakoni peran sebagai pengusaha sekaligus kakak dan ibu bagi puluhan pekerjanya.

Siapa sangka bermodal pantang menyerah dan rasa tanggungjawab menjaga kepercayaan dan nama baik mengantarkan perempuan itu ke puncak kesuksesan. Tidak hanya bagi dia pribadi tapi orang-orang sekitarnya pun kecipratan berkah dari usahanya.
Semuanya berawal saat suami Yan Sofyan pada tahun 2019 memutuskan untuk resign dari tempat dia bekerja disebuah perusahaan yang bergerak dibidang Minyak Gas (Migas) di salah satu daerah di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Lazimnya suami-isteri, Suci –panggilan akrab Suci Sustari, red- dan pria yang telah memberikannya 6 orang buah hati berdiskusi langkah apa selanjutnya pasca resign atau berhenti dari perusahaan yang selama ini menjadi tempat gantungan hidup mereka.
Akhirnya mereka sepakat memutuskan untuk pindah ke Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Alasannya pun teramat sederhana dan masuk akal.

Ya, Yan Sofyan lahir dan besar di kota ‘petro dollar’ itu sebelum merantau ke Sumsel 18 tahun lalu. Kendati kedua orang tuanya berdarah Melayu Bagansiapiapi tepatnya dari Kabupaten Rokanhilir (Rohil).
Berbekal latar belakang pernah bekerja di perusahaan yang bergerak di sektor Migas plus era otonomi daerah (Otda) notabene pemberdayaan masyarakat lokal atau tempatan disegala bidang menjadi isu sentral yang pada gilirannya menjadi perhatian pemangku kebijakan terlebih di perusahaan yang beroperasi di daerah.

Dengan berbekal uang tabungan yang ada, keluarga itu pun meninggalkan Kota Palembang berikut segala kenangan indah yang kerap menari-nari di pelupuk mata mereka.
Sesampainya di Kota Duri memang mereka harus menata kehidupan baru atau dari nol. Dan Susi pun harus rela berhenti mengajar atau ‘Cikgu’ Mata Pelajaran (Mapel) bahasa Inggris yang ditekuninya bertahun-tahun.
Seperti kata orang bijak bahwa salah satu cara menarik rezeki yakni memperbanyak silaturrahmi termasuk relasi. Ini pula yang dilakukan pasangan suami isteri itu.

F Hendri D
Tidak hanya Ibu Rumah Tangga (IRT) memanfaatkan keberadaan PT RJL sebagai penopang ekonomi keluarga. Namun perempuan muda ini mendapatkan berkah karena bisa menyalurkan hobi menjahit sekaligus memperoleh penghasilan.

Jika sang suami, Yan Sofyan aktif atau bergabung di Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) dan sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) lainnya maka Suci bergabung di Balai Kreativitas Anak Melayu (BKAM) melalui lembaga sekitar tahun 2020 Suci mengajukan proposal ke operator lama pengelola Wilayah Kerja (WK) Blok Rokan (sebelum alih kelola 9 Agustus 2021, red).

Lazimnya merintis dalam hal apa pun tentu asa atau ekspektasi tidak semulus apa yang diharapkan. Begitu juga yang dialami perempuan itu. Namun Suci tak mengenal putus asa terus mencari cara, peluang, bagaimana bisa bertemu dengan orang-orang berwenang atau pengambil kebijakan di perusahaan operator lama pengelola Blok Rokan.
Meski baru bertemu menurut redaksi media ini Susi terbilang supel, humble dan sebagainya. Ya bagi perempuan ini tidaklah sukar bagi dia bergaul dengan orang-orang perusahaan besar. Sebab sewaktu masih di Palembang pergaulannya pun luas dan merambah kesegala srata sosial masyarakat .
Bisa dikatakan dia mengerti seluk beluk dunia BUMN (Badan Usaha Milik Negara) serta peluang-peluang yang bisa diambil dari perusahaan-perusahaan yang pasti memiliki program Corporate Social Responsibility (CSR).

Alih-alih proposal yang diajukannya sampai di tangan Manager Coorporate Affairs Asset North. Selanjutnhya perempuan ramah dan murah senyum itu menjalani interview seputar proposal yang diajukannya.
Jalan Terjal dan Berliku
Seperti kata orang bijak bahwa kesuksesan diraih tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Banyak aral melintang. Syahdan kesabaran dan ketekunan menjadi kunci sukses.
Ya, bak kata pribahasa “Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba” sekitar bulan Mei 2021 proposal Susi pun dieksekusi.
Entah mimpi apa semalam tiba-tiba ada mobil parkir di depan rumah kontrakan kecil Suci di sekitar daerah Geroga, Kamis (27/5/21). Dari kendaraan roda empat itu diturunkan lima unit mesin jahit portable.

Inilah awal dari perubahan besar dalam kehidupan Suci. Kendati begitu perempuan berwajah bulat sesaat terdiam melihat 5 unit mesin jahit yang mulai dirakit sang suami.
Persoalannya dalam proposal yang diajukan Suci ke perusahaan operator lama pengelolah Blok Rokan dia ingin mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) seperti kejar Paket A untuk meraih ijazah SD, Paket B bagi SLTP dan C meraih sertifikat menyelesaikan sekolah setingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ( SLTA) termasuk les bahasa Inggris, pemberdayaan ekonomi kreatif plus membuat sanggar seni.

Ini mengingat dia memiliki lembaga sejenis sewaktu berdomisili di Kota Palembang. Memang, dalam proposal mengajukan untuk pelatihan menjahit. Hanya saja baginya tidak terbayangkan 5 unit yang dihibahkan.
Menyoali permasalahan ini, Suci dan sang suami sempat berdiskusi menyusul keberadaan 5 unit mesin jahit tersebut.
Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan pasangan suami-isteri itu sebelum mengambil keputusan. Diantaranya jika 5 unit mesin jahit itu diserahkan untuk dikelola orang lain bagaimana pertanggungjawabannya. Sebab, proposal atas namanya.

F Hendri D
Manfaat keberadan PT RJL juga dirasakan Zul (67) pria lanjut usia (Lansia) sebagai bukti bahwa usia tidak menjadi penghalang seseorang untuk tetap produktif. Hal yang sama juga dirasakan penderita disabilitas Jauri (19).

Keputusan terpahit, misalnya, mengembalikan 5 unit mesin jahit ke operator lama pengelola Blok Rokan notabene memiliki konsekuensi atau resiko yang takkalah berat, yakni ke depan tentu dia akan sulit berhubungan dengan perusahaan. Ya, bisa dikatakan menyangkut reputasi, komitmen dan sebagainya.
Alih-alih Suci dan sang suami sepakat bahwa lima unit mesin jahit yang ada akan dijalani terlebih dalam bidang konveksi dan turunannya. Meski mereka tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang tersebut.

Meski diluar ekspetasi, namun Suci tetap bersyukur karena mesin jahit yang dihibahkan jenis portable notabene menghasilkan beraneka ragam manfaat tidak sekedar menjahit. Diantaranya, bisa buat pola dan lainnya. Sementara mesin jahit hitam konvesional atau lama bisa dipastikan model jahitnya lurus semata.

Agar memudahkan konsumen dan melakukan promos, Suci pun mengontrak rumah toko (Ruko) di daerah seputaran Jalan Tribrata sebesar Rp1 juta per bulan.
Sambil menunggu konsumen, Suci pun belajar menjahit secara autodidak melalui tutorial you tube . Permasalahannya untuk mengikuti kursus diperlukan biaya sekitar Rp1 juta. Tidak hanya itu, dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan agar dia bisa menjahit.
Disisi lain uang tabungannya kian berkurang mengingat menyewa Ruko termasuk kontrak rumah.

Dikala itu Suci berpikir belajar menjahit memanfaatkan youtube adalah salah satu jalan yang perlu dicoba mengingat dia hanya mengeluarkan uang untuk membeli paket data.
Berangkat dari latarbelakangnya sebagai guru yang mana mempunyai salah satu filsafah atau prinsip: “yang tidak bisa (dipelajari, red) akan menjadi bisa atau biasa”.

Dengan berbekal keyakinan itu perempuan berkaca mata ini ingat sekali pelajaran menjahit pertama yang disimaknya melalui media sosial (Medsos) yaitu bagaimana memasang atau memasukan benang ke jarum mesin jahit.
Lazimnya suami istri, mereka pun berbagi tugas atau peran. Yakni Suci terus mendalami ilmu menjahitnya melalui youtube maka sang suami, Yan Sofyan bertugas sebagai marketing yakni menawarkan jasa jahit seragam kantor ke sejumlah perusahaan yang ada di Kota Duri.

Luasnya pergaulan plus aktif disejumlah organisasi tidak terlalu sulit bagi pria kelahiran 20-2-1976 di Bagan Siapi-api, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) untuk mendapatkan Purchase Order (PO).
Setelah dinilai fix, akhirnya sang suami Yan Sofyan mengabarkan berita gembira kepada Suci bahwa dalam waktu dekat ada perusahaan yang datang untuk membuat seragam kerja.

F Hendri D
Sebelum pesanan diserahkan ke konsumen sejumlah perempuan muda di PT RJL sedang memasang kancing serta melakukan cek akhir selanjutnya di packing.

Meski belum mahir menjahit dan masih dalam tahap belajar melalui youtube. Namun kabar itu tak urung membuat hati Suci berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Dibenaknya tergambar keuntungan yang bakal diperoleh termasuk prospek ke depan.

Tidak lama berselang berapa pekerja sub kontraktor perusahaan operator lama pengelola Blok Rokan (Baca: PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), red) mendatangi Ruko sederhananya untuk memesan baju seragam sebanyak 40 piecies .
Tidak seperti biasanya, para pekerja itu menentukan harga, mereka menggunakan tarif yang biasa berlaku bagi para pekerja di sejumlah penjahit di Kota Duri. Akhirnya disepakati harga Rp 200 ribu. Suci pun setuju dengan harga yang disodorkan karyawan perusahaan itu.
Baginya saat itu berprinsip biarlah memperoleh keuntungan sedikit atau tipis yang penting usaha yang dirintisnya berjalan. Apalagi di Kota Duri terdapat sekitar 400 perusahaan yang mayoritas bergerak di bidang Migas tentu ini merupakan pangsa pasar terbilang besar. Disamping lembaga pendidikan, pemerintahan dan sebagainya.

Mengingat kemampuan menjahitnya belum bisa dikatakan mahir maka dengan menggunakan sepeda motor dia mendatangi sejumlah taylor atau penjahit di Kota Duri untuk menawarkan jasa menjahit bagi mereka menyusul pesanan 40 piecies baju seragam.
Dari sejumlah pembicaraan yang dilakukannya kepada penjahit disepakati bahwa upah menjahit Rp125 ribu untuk baju atau setengah dari harga upah menjahit sepasang atau satu stel baju seragam yakni sekitar Rp250 ribu.
Kendati begitu para pemilik taylor tidak bisa menampung semua pesanan Suci. Ya, ada diantara mereka mengambil orderan dari perempuan itu sebanyak 3 sampai dengan 4 potong. Alasannya pun masuk sangat masuk akal yakni mereka juga harus menyelesaikan jahitan konsumennya.

Waktu itu Suci berpendapat masih tersisa sekitar Rp75 ribu dari upah yang disepakati dari perusahaan yang memesan jahitan kepadanya. Sayang seribu kali sayang, perempuan itu lupa bahwa kain sebagai bahan dasar baju seragam kantor belum dihitung.
Belakangan Suci baru tahu bahwa untuk membuat baju tangan pendek dibutuhkan kain sekitar 1,5 meter. Sementara untuk tangan panjang dengan dilengkapi kantong semua maka diperlukan bahan kain sekira 2 meter.
Kian dekatnya waktu penyerahan atau deadline pesanan konsumen pertamanya membuat Suci tanpa berpikir panjang atau bertanya perihal harga kain.

F Hendri D
Dalam menjaga brainding PT RJL serta dikenal lebih luas lagi, Suci memanfaatkan media sosial (Medsos) yang dijalankan anak milenial. Mereka selalu melakukan rapat untuk memperoleh inovasi dan informasi terkini seputar perkembangan produk.

Akhirnya dia membeli kain di Kota Duri. Belakangan dari informasi sejumlah kalangan baru diketahui perbedaan antara kain di Pekanbaru dengan Kota Duri selisihnya sekitar Rp15 ribuan. Namun apa daya semunya sudah terbeli.
Melihat kerugian tinggal di depan mata Suci pun tidak mati akal. Kembali berbekal motor dia menelusuri pelosok Kota Duri untuk mencari penjahit perempuan. Ya, mana tahu ongkos jahit lebih murah dari taylor atau penjahit pria begitula alur pikiran perempuan itu.
Apa yang dipikirkan Suci ternyata tepat, karena banyak penjahit perempuan sepi orderan. Perempuan itu menawarkan pekerjaan untuk menyelesaikan seragam kantor.

Ibu enam anak ini meminta kepada para penjahit perempuan itu untuk tidak mematok tarif tinggi mengingat ini orderan pertamanya.
Akhirnya tiga orang penjahit perempuan bersedia membantunya dan sepakat biaya satu stel baju seragam sebesar Rp70 ribu. Mereka pun berbagi peran, yakni Suci bertugas memasang kancing, menggosok pakaian seragam yang telah selasai termasuk mengemasnya menggunakan plastik sederhana.
Kendati biaya upah jahit sudah bisa ditekan dari Rp125 ribu menjadi Rp70 ribu, tapi Suci mengalami kerugian terlebih disebabkan harga kain di Duri yang lebih mahal Rp15 ribu dari Pekanbaru.

Disamping dia sudah terlanjur memberikan pekerjaan kepada penjahit pria dengan tarif taylor (upah menjahit terdapat perbedaan antara kategori taylor dan konveksi, red)
Alih-alih setelah dihitung Suci baru tahu untuk pesanan pertamanya dia mengalami kerugian sebesar Rp3 juta. Meski tabungannya kembali terkuras perempuan itu tidak patah semangat, apalagi patah arang.
Bagi Suci kerugian ini menjadi pelajaran teramat berharga. Paling tidak, dari sana dia tahu ada perbedaan harga upah menjahit antara taylor dan konveksi. Selain harga kain plus informasi lainnya yang takkalah krusial untuk menjalani bisnisnya ke depan.

Solusi Bernas dan Manfaatkan Medsos
Kendati pil teramat pahit ditelan Suci menyusul pesanan perdana baju seragam kantor ternyata tidak membuat nyali perempuan itu ciut, apalagi surut ke belakang ‘melempar handuk’.
Tidak butuh waktu lama untuk move on dilain waktu ada perusahaan mendatangi Ruko sederhananya yang berlokasi di Jalan Asrama Tribrata, Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Kedatangan mereka apalagi kalau bukan memesan pakaian seragam. Hanya saja kali ini wearpack (pakaian seragam untuk di lapangan, red).
Utusan atau perwakilan perusahaan itu menanyakan kepada Suci apakah mereka bisa membuat wearpack mengingat membutuhkan keterampilan khusus. Konon diketahui saat itu diarea lokal belum ada mengerjakannya.
Sekali lagi Suci menunjukan perempuan bermental baja. Tanpa tendeng-tendeng aling dia pun menyanggupi permintaan tersebut. Apalagi pesanannya terbilang besar sekitar 80 piecies.

Setelah perwakilan itu pergi menyerahkan ukuran wearpack barulah Suci kelabakan bagaimana menyelesaikan pesanan itu tepat waktu. Apalagi kemampuan menjahitnya yang diperoleh melalui tutorial belum bisa diandalkan.

F Hendri D
Dengan menyewa dua Ruko di jalan utama Hangtuah Kota Duri memudahkan konsumen untuk mengorder berbagai macam busana atau pakaian ke PT RJL selain meningkatkan prestise perusahaan.

Waktu delapan belas tahun yang dihabiskan menjadi guru ternyata tidak sia-sia. Paling tidak, disaat genting tersebut ide atau solusi bernas pun bermunculan datang.

Tanpa membuang waktu lagi Suci pun meminta suaminya, Yan Sofyan untuk meminjamkan wearpack dari kawannya mulai dari ukuran M, L, XL dan XXL. Permintaan itu pun disanggupi sang suami. Selanjutnya pakaian lapangan itu dibongkar Suci.
Seterusnya dengan kertas karton dia membuat mall dan pola. Untuk satu ini, Suci sudah mampu membuatnya. Setelah dirasa cukup pakaian lapangan itu kembali dijahit dan dikembalikan kepada yang punya.

Ya, satu masalah yakni membuat mall atau pola pakaian lapangan sudah tuntas. Nah persoalan lainnya pun menghadangnya yaitu siapa yang mengerjakan atau menjahitnya?
Suci tentu tidak ingin pengalaman pahit tekor Rp3 juta saat pesanan perdana kembali terulang. Dari kejadian itu dirinya banyak memperoleh pengalaman.

Ya, Suci kembali menunjukan perempuan bermental baja dengan seribu macam ide atau inovasi. Perempuan tangguh itu kembali tidak mati akal dia pun mendatangi sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ada di Kota Duri terlebih yang memiliki jurusan tata busana.

Dia pun bertanya kepada pihak sekolah apakah ada alumni sekolah yang belum memiliki pekerjaan? Namun terlebih dahulu Suci menjelaskan kedatangan dan misinya.
Ya, setelah mendengar penjelasan bahwa alumni yang belum bekerja itu akan dilibatkannya untuk menyelesaikan pesanan perusahaan berupa wearpack sebanyak 80 pieces.

Setelah mendengar penjelasan sontak para guru memberikan sejumlah nomor handphone berikut WhatsApp (WA) alumni yang mereka ketahui belum bekerja.
Tanpa membuang waktu, Suci pun menghubungi mereka. Beberapa diantara alumni itu mentatakan siap untuk bergabung untuk menuntaskan pesanan wearpack tersebut.
Menuntut ilmu tiga tahun di lembaga pendidikan resmi atau formal tentu membuat wearpack bukan permasalahan sulit bagi alumni SMK yang didominasi perempuan dan berstatus lajang ini.

Selanjutnya Suci pun mengeluarkan mall atau pola pakaian wearpack yang diperolehnya meminjam dari rekan, kolega mau pun kenalan sang suami.
Bisa ditebak tidaklah sukar bagi para perempuan muda yang baru lulusan sekolah itu untuk menyelesaikan wearpack sesuai perjanjian.
Ternyata banyak keuntungan yang diperoleh Suci melibatkan alumni SMK untuk mengerjakan pesanannya. Diantaranya dia sudah memperoleh keuntungan mengingat upah bagi para alumni masuk ke dalam kategori konveksi. Untuk yang satu ini, Suci pun memanfaatkan google melakukan survei ke sejumlah konveksi disejumlah wilayah di pulau Sumatera termasuk kota besar di pulau Jawa berapa upah membuat wearpack, coverall yang merupakan Alat Pelindung Diri (APD) bagi pekerja lapangan perusahaan Migas.

Setelah mendapatkan sejumlah harga upah untuk kategori konveksi Suci pun memutuskan upah mereka. Kendati begitu dia melebihkan jumlah nominal dengan pertimbangan biar para alumni itu senang berkerja ditempatnya.
Selain menyangkut materi, Suci pun memperoleh keuntungan lain yakni dia bisa belajar dengan para gadis belia itu seputar menjahit. Ya, terjadilah simbiosis mutualisme antara dirinya dengan para alumni.

Ternyata memanfaatkan jasa alumni SMK itu kelak akan menjadi salah satu penyumbang majunya Kelompok Usaha Bersama (KUB) Rumah Jahit Lestari (RJL).

Selain bermental baja pantang menyerah, ternyata Suci pun ‘kaya’ akan inovasi dan sentuhan yang juga ikut berperan dan meraih kemajuan KUB RJL.
Paling tidak setiap keuntungan, misalnya, dia mengposkan atau mealokasikan sesuai keperluan. Dengan tertib admistrasi. Perlahan tapi pasti usahanya maju dan berkembang.
Sebagai contoh, ketika dia bisa meraup keuntungan sebesar Rp80 ribu dari 1 pieces jahitan maka Suci membagi empat keuntungan sehinga menjadi Rp20 ribu (keuntungan berapa pun dia tetap membagi empat, red).

Selanjutnya dari Rp20 ribu hasil keuntungan dibagi empat itu maka berikut ini rinciannya:

-Pertama : Rp20 ribu merupakan bagian dia dan suaminya.

-Kedua : Rp20 ribu sebagai saving digunakan untuk pembayaran sewa Ruko, listrik, pajak dan sebagainya.

-Ketiga : Rp20 ribu untuk gaji kru bukan penjahit. Seperti tim media sosial (Medsos) yang terdiri dari tiga orang juga termasuk Tim IT dan admin mereka menerima upah bulanan plus termasuk yang mamasang kancing.

-Keempat : Rp 20 ribu untuk Tim Marketing yang terdiri 20 orang lebih.
Menariknya Rp10 ribu dari Rp20 ribu disimpan admistrasi. Dan ini digunakan untuk membeli bahan bakar roda dua, makan dan jalan.

Puluhan orang yang tergabung dalam Tim Marketing pagi hari mereka sudah jalan menawari kontrak atau PO keperusahaan yang ada di Kota Duri.
Agar tepat sasaran Suci memiliki data sekitar 400 perusahaan yang ada di Kota Duri dan terhubung degan Disnaker setempat. Artinya perempuan paruh baya itu tahu persis kapan kontrak perusahaan itu berakhir atau diperpanjang. Jumlah 400 perusahaan itu belum termasuk lembaga pendidikan dan pemerintah tentu ini merupakan pangsa pasar potensial dan menjanjikan.

Selanjutnya puluhan orang itu dibagi menjadi 5 sampai dengan 6 orang mendatangi perusahaan yang memperpanjang atau mendapat kontrak baru dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) sebagai mitra mereka.

Sebelum berangkat mereka dibekali profil perusahaan, penawaran kontrak dan sebagainya. Seterusnya sekitar pukul 12.00 WIB mereka kembali ke kantor untuk melaporkan hasil penawaran yang mereka lakukan.
Pertanyaan menggoda pun menyeruak ke permukaan apa yang menjadi alasan melakukan penawaran lebih dari tiga orang?
Suci pun menjelaskan dari pengalaman yang ada terasa sulit ‘gol’ jika hanya sendiri atau berdua.

Dengan 5 sampai 6 orang membuat manajemen perusahaan akan berpikir ulang kalau menganggap mereka sebelah mata. Untuk itu dalam melakukan penawaran ‘tema besar’ yang dikemukakan perberdayaan masyarakat tempatan. Ya, mulai dari Tim Marketing, penjahit dan sebagainya adalah warga Kota Duri atau warga tempatan.

Lantas bagaimana pembagian pendapatan menyusul saat melakukan penawaran terdiri dari 5 s/d 6 orang? Suci pun menerangkan jika mereka mendapatkan Purchase Order (PO) sebanyak 300 piecies maka dikalikan Rp10 ribu. Selanjutnya Rp3 juta dibagi anggota tim yang meakukan penawaran ke perusahaan.

Lalu mengapa Tim Marketing itu tidak memperoleh gaji bulanan seperti divisi lainnya? Suci menjelaskan langkah ini diambil agar mereka tetap semangat. Dengan kata lain untuk mendapatkan penghasilan besar atau banyak tentu mereka harus proaktif melakukan penawaran dan sebagainya kesejumlah perusahaan termasuk lembaga pendidikan, pemerintahaan dan organisasi masyarakat (Ormas) untuk mendapatkan PO.

Menariknya dua tim lainnya sayang untuk dilewatkan yakni media sosial (Medsos) dan Tim Informatika Teknologi (IT).
Untuk Tim Medsos, misalnya, Suci menuturkan bahwa tim itu dibentuk menyusul kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Dumai dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Pancasila di Kota Dumai, Sabtu (1/6/24).
Tujuannya untuk meningkatkan brainding RJL di dunia maya melalui sejumlah aplikasi seperti facebook, instagram, tiktok, X (d/h twitter), youtube dan sebagainya.

Selain meningkatkan brainding RJL memaksimalkan Medsos juga sebagai bentuk antisipasi kemajuan teknologi terutama digital dan turunannya.
Ya, kehadiran orang nomor satu Indonesia itu ke bumi lancang kuning menjadi berkah sendiri bagi Suci dan RJL. Paling tidak mereka menerima pesanan 16 piecies rompi dari Pertamina.

Selain dikenakan Jokowi para menteri yang ikut menemani mantan Walikota Solo itu juga mengenakan rompi produksi RJL.
Suci mengaku awalnya dia tidak percaya menyusul pesanan rompi untuk VVIP. Namun ternyata benar adanya. Selain menjadi kebanggaan tersendiri pembuatan rompi itu terbilang mendadak yakni harus selasai dalam waktu satu hari. Alih-alih dia meminta kepada seluruh penjahit untuk stanby dan terus bekerja hingga pukul 24.00 WIB.

Sementara Tim IT bertugas menyelasaikan masalah perijinan atau birokrasi melalui online seperti pajak, Standar Nasional Indonesia (SNI) dan sebagainya.
Dengan dua ujung tombak melalui Tim Medsos dan Tim IT maka Suci dan RJL benar-benar memaksimalkan transaksi melalui media online yang menurut sebagian orang menjadi salah satu ciri masyarakat di era modern.

Kata orang bijak hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Begitu juga yang terjadi kepada Suci dan RJL. Saat ini diketahui RJL telah memiliki sebanyak 84 orang pekerja dan untuk membayar gaji para karyawan Suci Sustari setiap bulan mengalokasikan anggaran tidak sedikit. Ya, ini berbanding lurus dengan jumlah pesanan, semakin banyak pesanan selain banyak meraih keuntungan otomatis pengeluaran untuk membayar upah juga terbilang besar.

Besarnya jumlah anggaran payroll yang disiapkan sesuai dengan ouput atau hasil produksi RJL yang setiap satu bulannya diprediksi menghasilkan uang mliaran rupiah. Sebagai informasi untuk baju lapangan tahan api yang bahannya telah memiliki sertifikat dari National Fire Protection Association (NFPA) yang berkantor di Singapura. Sementara baju lapangan tahan api itu dihargai sekitar Rp1,2 juta bisa dibayangkan dipesan 1000 piecies. Belum lagi pakaian jenis lainnya.

Meski begitu dalam kurun waktu satu tahun itu pesanan ramai hanya dibulan-bulan tertentu seperti Januari, April, Juli dan September. Ini dipengaruhi perpanjangan kontrak baru mitra PT PHR. Sedangkan bulan Juli terkait Penerimaan Siswa Baru (PSB). Di luar bulan itu pesanan tetap ada. Yang terang sekitar 150 perusahaan melakukan kontrak atau kerjasama untuk membuat berbagai jenis dan macam baju kerja skala atau kategori konveksi ke PT RJL.
Hebatnya RJL tidak hanya mengandalkan pangsa pasar lokal. Akan tetapi mulai merambah ke luar Provinsi Riau. Sebut saja Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Sumatera Utara (Sumut), Jambi sebagian pulau Jawa, Sulawesi bahkan sampai ke pulau Cendrawasih, Papua.

Kerjasama dengan sejulah perusahaan besar dan merambah ke luar Provinsi Riau berdampak positif kepada RJL. Paling tidak yang awal berdiri berstatus Kelompok Usaha Bersama (KUB) kini berubah menjadi Perseroan Terbatas atau PT. Apa yang dilakukan Suci dengan mengubah status KUB menjadi PT tentu memudahkan mereka dalam bergerak apakah itu masalah perijinan dan sebagainya.
Dengan berkembang pesatnya PT RJL, sekitar awal tahun 2022 PT RJL yang sebelumnya berlokasi persis di depan Simpang Ponpes Al Jauhar Ikatan Keluarga Haji Duri (IKHD) Jalan Asrama Tribrata, Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, atau jalan menuju TPU Jambon, pindah ke Jalan Hangtuah, No 4 dan 10 Desa Tambusai Batang Dui, Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis.

Adapun pindahnya selain mempertimbangkan kian banyak orderan dimana salah satu Ruko dijadikan tempat bekerja penjahit, dengan komposisi bagian atas perempuan dan bawah pria.
Sedangkan satu Ruko lainnya digunakan untuk memotong dan display atau tempat hasil produk dipamerkan termasuk melayani pesanan.
Di dinding Ruko itu Suci mencantumkan semua nama perusahaan termasuk lembaga pendidikan dan sebagainya yang memesan jumah besar kepada PT RJL yakni sebanyak 104 institusi . Ditengarai ini cara cerdas perempuan tangguh itu meyakinkan konsumen bahwa mereka tidak salah memilih PT RJL untuk mengerjakan pesanan aneka baju, busana, seragam dan sebagainya. Paling tidak dengan memiliki ratusan pelanggan menjadi bukti bahwa kualitas PT RJL tidak ‘kaleng-kaleng’.
Pertimbangan lainnya Jalan Hangtuah termasuk jalan utama atau protokol di Kota Duri memudahkan konsumen mencarinya. Disamping meningkatkan prestise atau brainding perusahaan. Yang terang sewa satu Ruko Suci harus merogoh kocek sebesar Rp30 juta.

Buka Lapangan Kerja, Selalu Siap Berbagi
Seperti dipaparkan diatas Suci dan RJL pernah mengalami masa-masa krusial disaat dia harus menyelesaikan pesanan tanpa keterampilan menjahit memadai dan sebagainya.
Lantas apa yang dilakukan Suci disaat masa terbilang sulit itu berlalu terlebih untuk memajukan RJL yang baru seumur jagung?
Ya, perlahan tapi pasti impian Suci mulai terwujud, misal, keinginannya agar para ibu rumah tangga memiliki keterampilan yang memadai untuk menopang ekonomi keluarga mulai terealisasi.
Paling tidak, sejumlah Ibu Rumah Tangga (IRT) mulai bekerja bersamanya di Kelompok Usaha Bersama (KUB) Rumah Jahit Lestari. Akan tetapi sebelum terjun mereka terlebih dahulu mengikuti kursus menjahit gratis.
Tak hanya IRT, Suci melalui RJL menyasar anak-anak putus sekolah terlebih kaum hawa agar mereka memiliki keterampilan terlebih menjahit.

Bukan rahasia umum bahwa setiap lowongan pekerjaan formal maupun informal maka pertanyaan ijazah atau tamatan pendidikan kerap menjadi pertanyaan pemberi pekerjaan. Disisi lain menjadi momok menakutkan bagi seseorag yang tidak memiliki ijazah. Namun dengan memiliki keahlian menjahit bisa ditebak maka tidak ada hubungan dengan ijazah.

Suci memang perempuan tangguh bermental baja, dia hanya butuh waktu sekitar 17 bulan untuk menggapai mimpinya itu pasca mendapatkan hibah lima unit mesin jahit dari operator lama pengelola Blok Rokan.
Hasil kerja keras, dedikasi dan lainnya tidak hanya dinikmatinya. Akan tetapi bagi puluhan tenaga kerja lokal yaitu anak-anak perempuan putus sekolah terlebih IRT bergabung di KUB RJL.
Tidak hanya memberi lapangan pekerjaan dan keahlian bagi puluhan orang. Namun dari belasan bulan usaha RJL yang dirintis bersama sang suami Suci pun menyewa tiga deret Ruko (masih di Jalan Jalan Asrama Tribrata, red) .

Paling tidak itu RJL sudah memiliki tenaga kerja 41 orang, terdiri dari 7 tukang jahit (tinggal di Ruko), 14 orang IRT yang membawa jahitan ke rumah masing-masing, 3 orang tukang setrika, 11 orang anak-anak putus sekolah di bagian finishing, 4 orang tukang potong kain dan 2 orang bertugas sebagai kualiti kontrol.

Kian majunya RJL tidak hanya membawa berkah bagi IRT atau remaja putri yang putus sekolah. Akan tetapi Zul (67) seorang pria lanjut usia (Lansia) juga merasakan keberadaan usaha yang dirintis Suci. Paling tidak di usia senja dia masih berkarya atau tetap produktif.
Setali tiga uang, kondisi serupa juga dirasakan remaja penderita disabilitas Jauri (19). Meski terdapat kekurangan, namun dia tetap semangat menatap masa depan. Setidaknya melalui RJL lelaki muda itu bisa menghasilkan rupiah demi rupiah sebagai bekal hidup.
Seperti diketahui diantara anak magang di RJL, terdapat calon generasi penerus bangsa yang tak tamat sekolah. Mereka mengambil paket C. Selanjutnya mereka ditampung dan dilatih menjahit.

Alih-alih mereka pun bekerja tanpa perlu ijazah. Dengan sendirinya nawaitu awal Suci membantu anak-anak putus sekolah mendapatkan keahlian terlebih menjahit terpenuhi.
Selain mulai menyerap lapangan kerja, disisi lain RJL mulai berkembang dan banyak mendapat orderan. Bahkan dalam tempo satu tahun pasca berdiri RJL mendapat pesanan sebanyak 1.000 wearpack.
RJL tidak sebatas melayani perusahaan di Kota Duri. Namun mereka mulai melayani pesanan dari provinsi tetangga sebut saja Provinsi Jambi, Sumatera Selatan (Sumsel) dan beberapa wilayah lainnya di pulau Andalas.

Awalnya ibu-ibu yang membantu Suci hanya empat orang. Akan tetapi, Selasa (27/09/22) order RJL sudah mencapai sekitar 1.300 wearpack otomatis membutuhkan pekerja banyak.
Adapun rinciannya sebagai berikut PT Adhi Karya 1000 piecies, PT Sucofindo 132 piecies, PT PP, PT Karya Andalas Multi, PT Urawa termasuk lembaga pendidikan.
Ya, secara manajemen RJL diawasi Politeknik Bengkalis. Ini merupakan bentuk program CSR PT PHR ke Politeknik Bengkalis sebelum ke Suci.
Tidak hanya jumlah tenaga kerja yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Akan tetapi jumlah mesin jahit juga mengalami penambahan dari 17 unit jadi sekitar 51 unit.

Kondisi ini otomatis meningkatkan produksi RJL. Untuk wearpack, misalnya, dalam satu hari produksi dalam kisaran 30-40 pieces.
Ada yang menarik dari seorang Suci, yakni ketika dia membeli kain ke Pekanbaru, misalnya, entah dorongan dari mana dia melebihkan stok kain. Dan ini tidak diketahui sang suami.
Seiring perjalanan tepatnya menjelang Idul Fitri Ramadhan 1444 H atau 2022 M, Suci pun mengecek kain yang distoknya. Ya, hitung punya hitung jumlah kainnya bisa dibuat untuk 80 pieces pakaian. Alih-alih dia punya ide untuk membuat baju lebaran bagi anak yatim.

Sayang seribu kali sayang jumlah anak yatim di Panti Asuhan (PA) Al Jauhar berjumlah 91 anak asuh. Alhasil kekurangan yang ada ditambah Suci. Bisa ditebak 40 perempuan (baju gamis) dan 51 laki-laki (baju koko putih, celana hitam) tersenyum bahagia menerima sagu hati di hari bahagia nan fitra itu.
Dilain waktu mitra binaan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan, Rumah Jahit Lestari (RJL) berbagi inspirasi dengan kelompok mitra binaan PT PHR lainnya. RJL mengajarkan kelompok masyarakat Pembeda Berdaya Program Rumah Kreatif binaan PHR Zona 1 Rantau Field untuk menjahit dan memproduksi pakaian coverall (baju kerja lapangan, red).
Kegiatan pembelajaran tersebut dipusatkan di Rumah Jahit Lestari (RJL) di Duri, Kabupaten Bengkalis, selama 2 pekan, mulai 17 sampai 31 Juli 2023.

Kelompok masyarakat tersebut berasal dari Aceh, yang mana terdapat 3 orang yang punya potensi untuk diberikan pembinaan. Dari 3 orang tersebut, 1 merupakan penyandang disabilitas.
Untuk yang satu ini, Suci tidak terbilang ‘pelit’ berbagi ilmu. Dia pun tidak segan-segan memberikan apa yang dimilikinya seputar menjahit. Selama dua pekan dia dan RJL memberikan pelatihan kepada Masyarakat binaan CSR PT Pertamina Hulu Rokan Zona 1 di Aceh, Provinsi Nanggroe Aceh Darusallam (NAD)
Adapun materi yang diberikan meliputi membuat baju coverall untuk wilayah operasi Migas di Aceh termasuk berbagi pengalaman plus marketing.
Menurut Suci, selain mengajarkan materi pihaknya juga berbagi inspirasi dan pengalaman agar dapat diterapkan untuk kemandirian ekonomi, seperti yang sudah dialaminya bersama tim RJL selama menjadi binaan PT PHR WK Rokan.

Dilain waktu Suci pun menunjukan tingginya sifat bebagi atau kedermawanannya. Paling tidak potongan kain yang tidak terpakai atau perca dimanfaatkannya dibuat berbagai macam barang seperti dompet, sapu tangan, tanjak (topi khas Melayu, red), bantal leher dan sebagainya.
Dalam waktu tertentu Suci dan anggota RJL melakukan gotong royong atau membersihkan lingkungan. Program peduli lingkungan rutin digelar sekali dalam sepekan dengan turun ke jalan-jalan membersihkan sampah dan sebagainya. Selanjutnya mereka memberikan souvenir dari kain perca kepada masyarakat umum cuma-cuma. Tampaknya ada kebahagian tersendiri bagi perempuan itu disaat bisa berbagi.
Keberuntungan terus menaungi Suci tepatnya sekitar bulan September 2021 (pasca alih kelola Wilayah Kerja (WK) Blok Rokan dari operator kepada PT PHR).

Kru operator WK yang sarat sejarah itu pun terkaget-kaget ketika mengunjungi RJL yang kala itu masih mengontrak Ruko di Jalan Asrama Tribharata.
Ya, saat itu anak putus sekolah, ibu-bu, remaja putri dan lainnya sedang belajar menjahit gratis. Bahkan ada juga diantara mereka sedang bekerja menyelesaikan pesanan RJL.
Melihat ramainya kegiatan di Ruko itu serta setiap hari kondisi berlangsung membuat bagian CSR PT PHR pun semangat. Selanjutnya mereka menanyakan kepada Suci apa yang bisa dibantu RJL agar semakin berkembang dan besar. Namun dengan catatan bantuan dieksekusi tahun depan atau 2022 karena di 2021 sudah direalisasi operator lama.
Ini wajar mengingat perkembangkan dan kemajuan KUB RJL menunjunkan trend mengembirakan dari waktu ke waktu.

Kendati kala itu Rumah Jahit Lestari (RJL) belum memiliki mesin konveksi sendiri, namun tidak membuat Suci mengeluh. Dia pun memaksimalkan tenaga penjahit dari luar.
Asa Suci untuk memiliki mesin konveksi bertepi, tepatnya, Selasa (24/5/22) PT PHR memberikan sejumlah bantuan berupa 12 unit mesin jahit baru terdiri dari 7 unit mesin jahit (konveksi) besar, 1 unit mesin obras besar, 1 unit mesin Neci, 1 unit mesin pasang kancing, 1 unit mesin jahit kaos dan 1 unit mesin potong besar.
Penambahan mesin-mesin ini membuat Suci mendatangkan sejumlah pekerja dalam kerangka meningkatkan produksi. Untuk menjalankan mesin baru itu mereka dibagi berikut penambahan 14 IRT mengerjakan wearpack di rumah mereka.
Cara ini tidak menghalangi ibu-ibu itu menopang ekonomi keluarga dengan tetap mengerjakan urusan rumah tangga. Penghasilan yang mereka peroleh tidak berbeda dengan pekerja di Ruko. Ya, karena listrik mereka tanggung.

Kegigihan dan keuletan Suci mendapat apresiasi dari Analist Social Performance PT PHR Priawansyah, Perwira (adalah singkatan dari Pertamina Wira sebutan untuk pekerja Pertamina, red) itu mengaku terkejut menyusul kemajuan pesat KUB RJL.
Keterkejutan Priawansyah sangat beralasan mengingat awal Suci menjalankan RJL dia menyewa satu Ruko. Hanya butuh waktu 17 bulan perempuan tangguh itu menambah 2 Ruko lagi untuk disewa. Ya, total 3 Ruko dioperasikan untuk menunjang aktivitas RJL. Ini belum termasuk mempekerjakan 41 orang tenaga kerja lokal yang sebagian besar anak-anak putus sekolah dan IRT.

Priawansyah masih ingat bagaimana Suci tanpa putus asa terus menghubungi bagian CSR (masih operator lama, red). Berbekal 5 unit mesin jahit dan dia tidak pandai menjahit belajar melalui youtube.
Perwira PT PHR ini mengaku yang membuat dirinya salut kepada Suci, perempun itu mau cost sharing termasuk kegigihannya mencari orderan ke perusahaan-perusahaan mitra bisnis PT PHR tanpa rekomendasi dari perusahaan plat merah itu.
Kelebihan lain Suci dimata Priwansyah yaitu perempuan tangguh itu selalu siap berbagi dengan sesama. Diantaranya merekrut anak-anak putus sekolah terlebih perempuan. Selanjutnya dilatih dan diberdayakan dengan jalan bergabung diusaha yang dijalankannya.
Alih-alih Priawansyah menilai KUB RJL ini salah satu binaan UMKM PT PHR yang mengalami perkembangan luar biasa.

Sebelumnya Corporate Secretary PT PHR WK Rokan Rudi Ariffianto mengatakan, bahwa selain berfokus pada operasi yang andal dan selamat PHR juga turut memberdayakan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Rudi mengaku bangga melihat perkembangan KUB RJL binaan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL) PT PHR yang telah berhasil dan mampu menularkan semangatnya kepada masyarakat secara luas.
Seperti diketahui Rumah Jahit Lestari (RJL) merupakan program TJSL PT Pertamina Hulu Rokan di bidang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Selain bidang tersebut, TJSL juga berfokus pada bidang pendidikan, lingkungan hidup, kesehatan, dan bantuan pasca bencana.
Apapun yang diperoleh Suci saat ini menjadi bukti bahwa sebuah keberhasilan dan kesuksesan membutuhkan proses panjang yang harus dilalui seseorang berikut onak dan tantangan yang menghadang, tidaklah instan.

Bahkan Suci sempat rubuh atau tumbang sekitar bulan Juni dan Juli 2021 akibat vertigo yang dideritanya. Ya semua harus dipikirkannya agar KUB RJL yang baru berdiri tetap tumbuh dan berkembang serta memberi manfaat banyak bagi orang.
Ya, berkat sentuhan humanis ala PT PHR perempuan bermental baja itu menggapai mimpi yang tidak semua orang bisa meraihnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *