
Oleh : Darwis Mohd Saleh
LSM pemerhati lingkungan
Hari Mangrove Sedunia yang diperingati setiap tanggal 26 juli merupakan momen sangat penting, mengingatkan bahwa betapa berharganya mangrove bagi kehidupan kita .
Indonesia memiliki luas mangrove terbesar di dunia dengan luasan 3,44 juta hektar atau 23 persen dari total mangrove global.
Ekosistim mangrove sebagai penyerap karbon alami dan pelindung masyarakat pesisir, dan area green ekonomi serta blue carbon dan berbagai manfaat lainnya.
Dumai masih kurang peka menghadapi tantangan dan dampak dari menurunnya mangrove akibat alih fungsi lahan, lebih parahnya lagi kegiatan pemulihan terkesan ecek-ecek akibat heporia seremoni buat bapak pejabat yang dielu-elu bapak para petinggi dari dunia usaha, berbuat hanya dgn pidato-pidato dan foto-foto bersama, seakan sudah berbuat dengan tepat. Padahal 0, 00 sekian persen digunakan dari laba perusahaan yang didiamkan tanpa tranfaransi dan tanpa pembinaan terhadap masyarakat pelaku yang sangat berbuat selama ini.
Di daerah industri di Dumai dengan keberadaan para dunia usaha adem-adem ayemm saja dengan labanya yang menjulang, bahkan hanya melahirkan dampak menyakiti pesisir dan laut dan pencemaran limbah, debu, serta suara kebisingan kendaraan . Ditambah di Dumai jalan menuju industri bisa dikatakan masih minjam (hanya istilah, pen) dari jalan umum punya masyarakat, sebab jalan yang ada tak semuanya sesuai izin dipakai industri yang telah banyak membunuh masyarakat lewat kecelakaan di jalan raya yg dilewati industri selama ini.

Dan tahun ini peringatan hari MANGROVE sedunia di tanda tangani oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia bapak Dr. Hanif Faisol Nuropiq lewat Surat Edaran nomor 08 tahun 2025 tentang Peringatan Hari Mangrove Sedunia tahun 2025 yang di tujukan kepada : Gubernur se-Indonesia, Bupati/Walikota se-Indonesia, Pimpinan Dunia Usaha, Ketua Komunitas Lingkungan se-Indonesia.
Namun sangat disayangkan sekali gema dan gairahnya tak diikuti di Dumai yang berjubal industri BUMN dan asing dari berbagai produk di pesisir kota Dumai.
Sudahlah mencuekin alam kota ini, daratan sekarat panas membara gambut terbubut api, laut sakit diracun limbah industri, udara selesma terpapar debu dan bunyi deru melebihi frekwensi desibel ketenangan pemukiman kota ini
“Salam lestari, konservasi tak bisa sendiri “(Darwis Mohd Saleh)