
F Ist. Sejumlah pihak yang terdiri dari Rimba Satwa Foundation (RSF) , BBKSDA Riau, dan PT PHR sedang melakukan pemasangan Global Positioning System (GPS) terhadap seekor gajah liar. Penggunaan perangkat canggih untuk memantau keberadaan hewan yang dilindungi itu .
* Agroforestri, Solusi Bernas Cegah Konflik Berkepanjangan ‘Petani Hutan’ versus Bani Adam
OLEH: HENDRI D
SUATU pagi pekan kedua di bulan Maret 2023 Suparto (pria ini lupa persis tanggal dan hari kejadian, red) tiba-tiba terkejut, dan sesaat pria kelahiran 8 Agustus 1972 ini menghentikan kegiatan membersihkan kebunnya di Kampung Bohorok yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya.
“Atuuu….kkk” Sayup-sayup terdengar suara itu. Namun ada suara lain menimpali. “Datuk!” .
“Saya kaget juga kok pagi-pagi sudah ada gajah melintas,” ujar Sunarto tertawa lepas saat temporiau.co mengunjungi kediamannya di Desa Pinggir, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Jumat (14/6) siang menjelang sore.
Tidak seperti lazimnya, lanjut pria yang hari itu mengenakan kaos biru telur asin berpadu dengan celana hijau dongker, biasanya ‘sang datuk atau Tuk –arti dari kata ‘kakek’ begitulah warga setempat menyebut atau memanggil gajah Sumatera liar konon sebagai bentuk penghormatan atau takzim, red- binatang yang memiliki nama ilmiah elephas maximus sumatranus ini biasanya melintas di wilayah itu malam atau dini hari.
Membicarakan gajah Sumatera rasanya tidak afdol jika tidak membahas ciri khas hewan besar itu. Karena di Indonesia gajah juga diketahui terdapat di pulau Kalimantan yang masih golongan elephas maximus indicus. Kendati begitu para pakar memasukan gajah ini sub spesies elephas maximus bornensis.
Yang terang selain d negeri yang terletak di zamrud khatulistiwa, dibeberapa Negara terdapat hewan besar itu sebut saja Thailand, Myanmar atau kawasan Indocina, India dan tentunya di benua Afrika.

F ist. Sumatera bernama Codet melintasi terowongan di bawah tol Pekanbaru-Dumai menuju Giam Siak Kecil untuk menemui gajah betina Seruni. Ini dilakukan pejantan itu ketika memasuki masa birahi (musth)
Lantas apa ciri khas gajah Sumatera?Adapun yang membedakan gajah yang berada di pulau Andalas ini dengan gajah lainnya dilangsir programs.wcs.org menyebutkan perbedaan secara umum
adalah sebagai berikut:
1. Bobot gajah sumatera sekitar 3-5 ton dengan tinggi 2-3 meter.
2. Kulitnya terlihat lebih terang dibanding gajah Asia lain dan dibagian kupingnya sering terlihat pigmentasi, terlihat seperti flek putih kemerahan.
3.Hanya gajah jantan yang memiliki gading yang panjang. Pada betina, kalaupun ada gadingnya pendek hampir tidak kelihatan. Berbeda dengan gajah Afrika dimana jantan dan betina sama-sama punya gading.
4.Ciri mencolok lainnya ada pada bagian atas kepala. Gajah sumatera memiliki dua tonjolan sedangkan gajah Afrika cenderung datar.
5.Kuping gajah sumatera lebih kecil dan berbentuk segitiga sedangkan gajah Afrika kupingnya besar dan berbentuk kotak.
6. Gajah sumatera memiliki 5 kuku di kaki bagian depan dan 4 kuku di kaki belakang.
7. Gajah sumatera hidup di hutan-hutan dataran rendah di bawah 300 meter. Tapi juga sering ditemukan merambah ke dataran yang lebih tinggi. Jenis hutan yang disukainya adalah kawasan rawa dan hutan gambut. Populasinya tersebar di 7 propinsi meliputi Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung.
Kembali ke cerita Suparto, maklum, “sang datuk” masuk dalam binatang nokturnal atau hewan giat malam adalah hewan yang tidur pada siang hari, dan aktif pada malam hari.
Ya, aktivitas yang merupakan kebalikan dari perilaku manusia (diurnal). Sebagai informasi hewan nokturnal umumnya memiliki kemampuan pendengaran dan penciuman serta penglihatan yang tajam.

F ist. BBKSDA Riau Seekor gajah betina Fuja (25) melahirkan anak gajah betina di Pusat Konservasi Gajah Sebanga Kabupaten Bengkalis, Riau. Ini menjadi kabar gembira bagi perkembangan hewan yang dilindungi itu.
Khusus untuk penciuman, binatang itu mempunyai memiliki indera penciuman yang tinggi dan dapat mendeteksi air dari jarak bermil-mil jauhnya.
Informasi lainnya menyebutkan bahwa untuk indera yang satu ini dilaporkan berkembang dengan sangat baik. Bahkan diprediksi hewan itu mempunyai 2000 sampai dengan 3000 gen reseptor penciuman atau lima kali lipat dari manusia.
Tidaklah berlebihan dengan tingginya indra penciuman membuat binatang itu sanggup
mendeteksi sumber makanan dari jarak bermil-mil jauhnya tanpa perlu mereka menghampiri sumber makanan.
Menariknya, mereka juga menggunakan indra penciumannya untuk mendeteksi pemangsa, menemukan sumber air, dan menentukan gajah mana yang menjadi bagian dari keluarga mereka. Selain itu, di alam bebas gajah juga diketahui menggunakan bau untuk memilih tanaman yang aman dan tidak aman untuk dikonsumsi.
Yang menjadi pertanyaan mengapa hewan bongsor berbelalai panjang ini kesiangan atau melintas diluar kebiasaannya? Suparto yang duduk bersila di ruang tamu hanya berkata, “Saya tidak tahu persis mengapa si atuk kesiangan melintas di daerah kami. Ya, tidak seperti hari-hari biasanya. Namun seperti sebelumnya hewan itu menuju hutan konservasi PT Kojo,” tukas Suparto dengan alis mengernyit ada nada setengah keheranan disuaranya itu mengingat apa sebabnya gajah itu kesiangan. .
Yang jelas, sambung pria yang juga sekretaris Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya Desa Pinggir ini, peristiwa terbilang langka menjadi tontonan warga.
Bahkan, masih kata Suparto, ada sebagian warga memanfaatkan momen itu untuk selfie atau swafoto seraya berkata “Hati-hati tuk ada mobil?” ujar Suparto tertawa terkekeh-kekeh sehingga kelihatan giginya masih genap tersusun rapi meski usianya sudah tidak muda lagi.
“Anak-anak juga ramai.Ya, menjadi tontonan warga,” kata Suparto melanjutkan saat berbincang-bincang dengan media temporiau.co, di ruang tamu kediamannya.
Beruntung, lanjut ayah dari dua putri ini menjelaskan, gajah yang kesiangan itu cuma satu ekor jantan besar “si codet” –sebutan untuk nama gajah liar yang memiliki codet di sekitar wajahnya, red- yang dikenal soliter atau gajah yang hidup sendiri keluar dari kelompoknya.

F Ist.
Kelompok Tani (Koptan) Hutan Alam Pusaka Jaya yang merupakan binaan RSF dan PT PHR melakukan penanaman pohon yang tidak disukai gajah yang merupakan bagian dari program agroforestry yang menjadi jalan tengah mengatasi konflih gajah dan masyarakat.
Khusus untuk nama gajah sangat menarik untuk ditelisik. Dari data yang ada, Codet, misalnya, nama itu disematkan karena terdapat bekas luka diwajah gegara berkelahi dengan gajah jantan lainnya. Tidak hanya meninggalkan luka khas gara-gara adu “bagak” alih-alih gading “sang datuk” pun diketahui patah.
Sementara Pongka karena kakinya pontong (bahasa tempatan untuk kaki terpotong, red). Sebaliknya Pongki kebalikannya yakni bagian kaki kiri ada yang terpotong atau buntung.
Begitupula dengan Gita, misalnya, konon nama itu diberikan karena hewan terbilang lucu itu kerap ditinggal kelompoknya gara-gara kakinya pincang membuat sulit berjalan.
Kendati bernasib malang karena kaki yang kurang sempurna, namun Dita bisa bernapas lega. Sebab gajah betina yang kerap berkeliaran di wilaya Semunai dan Duri alias Seruni sebagai ketua kelompok selalu setia mendampingi dan melindungi
Dita.
Menariknya Seruni memiliki anak jantan calon ‘penguasa’ kerap berada di wilayah Balai Raja maka dia diberi nama Bara.
Namun tidak semua nama gajah itu diberi nama karena kondisi fisik atau wilayah yang kerap didiami. Akan tetapi ada pula dilatarbelakangi sebuah peristiwa.
Gajah jantan Getar, misalnya, usut punya usut ee…ternyata saat hewan tambun itu sedang melintas ada seseorang menyelamatkan diri ke atas pohon dengan tubuh gemetar.
“Nah, akhirnya gajah itu diberi nama Getar karena ada seseorang yang gemetar saat di atas pohon ketika hewan itu melintas,” terang Manager Elephant Program Rimba Satwa Foundation (RSF) Git Fernando tertawa kecil seolah-olah melemparkan pria surut ke masa silam ke saat berbincang-bincang dengan temporiau.co beberapa waktu lalu.
Ya, Suparto datang ke Desa Pinggir sekitar tahun 1991 dari Medan.
Kedatangannya apalagi kalau tidak untuk mencari peruntungan di tanah rantau. Lelaki yang saat itu masih bujangan Putra Jawa Kelahiran Sumatera (lebih akrab disingkat menjadi “Pujakesuma”, red)
Masih segar dalam ingatan Suparto saat itu kondisi hutan terbilang luas dedaunan bewarna hijau mendominasi wilayah tersebut. Tak hanya itu pepohonan besar masih muda dijumpai.

F ist. Seorang pekerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan pawing melakukan interaksi dengan seekor gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak
“Kondisinya jauh berbeda dengan sekarang,” keluh Suparto seakan-akan pria itu memasuki mesin lorong waktu dan melemparkannya ke masa sekitar 35 tahun silam.
Kala itu, lanjut Suparto, kalau pun gajah melintas jumlahnya terbilang banyak belasan bahkan puluhan ekor. Namun seiring dengan pertumbuhan penduduk dan beralihfungsinya hutan membuat binatang itu melintas dengan jumlah relatif sedikit. Bahkan tidak jarang satu ekor.
Meski menuju rumah Suparto memasuki gang yang jalannya tidak begitu besar dan rapat antara satu rumah degan rumah lainnya. Namun sisa-sisa bahwa wilayah itu pernah menjadi hutan. Paling tidak dari kejauhan masih terlihat rerimbunan pepohonan.
Ya, puluhan tahun bersingungan dengan gajah karena daerah yang didiaminya termasuk pelintasan hewan itu membuat dia hapal dengan kebiasaan “sang datuk”.
Namun ada peristiwa terbilang sulit dilupakannya. Ya, karena terjadi saat kakinya baru menginjakan kaki yang terbilang asing bagi pria berambut lurus itu.
Suparto lupa hari dan tanggal persis peristiwa yang sempat membuat bulu kuduknya berdiri merinding. Namun pria itu masih ingat kejadian itu pada tahun 1991.
Suparto pun menuturkan bahwa saat itu wilayah Desa Pinggir menjadi pelintasan-1991 gajah bernama Narun, Tengker, Puntung dan lainnya.
Hari itu se-ekor gajah tunggal masuk ke kampung, dan warga pun mengepung bermaksud ingin dialihkan ke salah satu
tempat. Sayang, hewan itu bukan mengikuti keinginan warga namun berbalik arah menuju mereka.
“Gajah itu tidak menyerang, namun tidak mau diarahkan dan berbalik arah menuju warga,” papar Suparto.
Untuk mengetahui seputar gajah soliter (gajah jantan hidup sendirian meninggalkan kelompok, red) dan lain-lainnya temporiau.co.id, Jumat (14/6) malam berdiskusi dengan Tim Rimba Satwa Foundation (RTF) sebuah lembaga Non Governmental Organization (NGO) di kantor mereka yang berlokasi Jalan Kayangan, Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Sepintas tidak ada yang luar biasa di kantor NGO berlantai dua itu. Namun siapa sangka tatkala sudah berada lantai dua pemandangan layaknya di film-film spionase seperti James Bond agen rahasia 007 dari Inggris. Ya, di sisi kiri dan kanan terdapat berbagai peta dengan berbagai warna seperti ungu, hijau dan kuning notabene memiliki arti tersendiri.

F Ist.
Untuk menimbulkan rasa cinta kepada satwa dilindungi terlebih gajah maka sejumlah anak-anak diikutsertakan dalam program pengenalan terhadap hewan mamalia tersebut
Tak sampai disitu, meja dan bangku disusun sedemikian rupa dengan dilengkapi berbagai computer seperti laptop dan desk top. Selain berfungsi untuk bekerja bagi 18 personel juga memudahkan mereka mengelar rapat, diskusi dan sebagainya.
Terkait prilaku gajah jantan tunggal yang berbalik arah yang dituturkan Suparto, Founding RSF Zulhusni Syukri pun menjelaskan bahwa gajah jantan tunggal susah diprediksi tidak memikirkan resiko apa yang bakal dihadapinya atau sulit digiring.
“Gajah jantan yang sendirian berbeda dengan gajah betina yang berkelompok. Ibarat manusia gajah tunggal cendrung ‘slonong boy’ atau “semau gue” sulit diatur. Meski sifat dasar gajah berusaha untuk menghindari manusia,” terangnya.
Kendati begitu, penggiat gajah ini mengingatkan bahwa jalur pelintas gajah home range berbentuk seperti jam maka Husni – panggilan akrab Zulhusni Syukri, red- menyarankan tatkala gajah berjalan ke dari A ke titik Z ternyata ada hambatan di titik B arahkan ke titik C bukan ke A.
“Begitulah kebiasaanya , untuk mendorong lebih cepat makanya saat mereka ke perkebunan atau permukiman warga, sebaiknya digiring ke arah yang menjadi tujuannya. Bukan mengembalikan ke titik awal dia bergerak. Jika dipaksa akan terjadi konflik,” ingatnya.
Tak jarang masyarakat, lanjut dia, menilai gajah tersebut tersesat atau tertingal dari kelompoknya, sehingga harus dikembalikan ke kelompoknya. Akibatnya, terjadi konflik ketika sang gajah menolak atau melawan saat digiring.
Akibat pemahaman yang tidak tepat itu , tidak sedikit gajah jantan remaja yang keluar dari kelompoknya di Pulau Sumatera, ditangkap atau tewas berkonflik dengan warga, sehingga populasi gajah jantan berkurang. Disamping faktor lainnya.
Memang, di alam bebas kerap dijumpai gajah tunggal berjalan bersamaan sekitar
empat ekor. Namun peristiwa itu bisa dikatakan terbilang langka. Akan tetapi kerap ditemukan gajah tunggal atau satu ekor.
“Artinya, gajah tunggal dewasa tidak hidup dalam kelompok. Dia baru akan mencari kelompok gajah betina saat memasuki masa kawin atau birahi (must,red),” terang Husni.
Lebih jauh aktivis ini mewanti-wanti masyarakat berhadapan dengan gajah tunggal dalam masa birahi maka sebaiknya sangat hati-hati. Karena mereka cendrung agresif.

F BBKSDA Riau
Wartawan dari sejumlah media malkukan kunjungan ke PLG Minas di Kabupaten Siak. Kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye untuk menyelamatkan gajah.
Adapun tanda-tanda gajah memasuki masa birahi, lanjut Husni, yang paling umum yakni minyak keluar dari dahinya bahwa si jantan sedang berada pada masa musth (birahi, red)
“Tindakan menjauh dan membiarkannya jauh lebih aman. Sebab pada akhirnya dia akan pergi,” katanya seraya menambahkan memperlakukan gajah dengan niat baik notabene binatang lucu itu sebaliknya akan berlaku manis kepada manusia.
Ya, apa yang dikemukan Husni tidaklah berlebihan karena dirangkum dari berbagai data menyebutkan daya ingat binatang itu terkenal tajam. Kok bisa? Ya karena otak gajah terbilang paling besar dari semua hewan yang ada di daratan plus lebih komplek.
Bahkan dilaporkan berat otaknya mencapai 5 kilogram atau tiga kali lipat dari rata-rata otak manusia, bisa dibayangkan kecerdasan yang dimiliki hewan satu ini dibanding binatang lainnya .
Ternyata tak hanya ukuran otak, tetapi struktur dan rumitnya otak binatang itu membuat sejumlah kalangan terkesan dengan gajah dan semuanya diluar dugaan.
Betapa tidak? Otak hewan itu diketahui diliputi sekitar 300 miliar neuron, tiga kali lebih banyak dari bani Adam. Disisi lain, tekstur otaknya setara dengan binatang laut yang diketahui cerdas seperti lumba-lumba.
Nah untuk yang satu ini juga membuat para ahli takjub, ternyata otak gajah memiliki empat lobus. Sementara manusia diketahui memiliki tiga. Ini menjadi gambaran betapa komplek dan rumitnya otak hewan satu ini.
Ternyata ingatan gajah lebih dari sekadar mengenali wajah-wajah yang dikenalnya, karena ingatannya juga tampak luas dan beragam. Melalui indra dan ingatannya yang tajam, gajah dapat tetap waspada terhadap potensi bahaya yang tidak terlihat di lingkungannya.
Ingatan gajah penting untuk mengingat bahwa suara dan bau tertentu dapat mengeja bahaya, memungkinkan hewan untuk bertindak sesuai dan melindungi dirinya dari bahaya termasuk perlakukan yang tidak mengenakan yang menimpanya.
Secara keseluruhan, makhluk manis ini tidak diragukan lagi memiliki ingatan fenomenal ini membuat penggiat, ahli dan pecinta gajah untuk mengagumi kecantikan dan keajaiban mereka. Gajah adalah spesies yang luar biasa, dengan ingatan yang membangkitkan kekaguman dan takjub.
Soal tajamnya daya ingat hewan itu diakui Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV BBKSDA Riau Azmardi. Bahkan pria itu mewanti-wanti agar jangan memperlakukan buruk hewan bongsor itu.
‘’Ya, gajah hewan yang luar biasa, dia ingat wilayah dilaluinya. Oleh karena itu jangan pernah diperlakukan buruk. Kalau dulu pernah disakiti, dia akan balas dendam. Kalau dia marah, gading yang runcing dihentakannya, itu yang sangat berbahaya. Bisa tembus itu,” pungkasnya kepada awak media.
Itupula yang membuat ada ungkapan dalam bahasa Inggris menyebutkan “elephant never forget” atau gajah tidak pernah lupa adalah pepatah yang kerap didengar Apakah itu sekadar mitos atau fiksi belaka?
“Memang itu benar adanya,” tegas Husni.
Diketahui gajah mengandalkan bau untuk mendeteksi predator dan mencari makanan. Dalam hal membedakan manusia, gajah mampu mengingat aroma seseorang lama setelah orang tersebut meninggal.
Keahlian langka ini sangat penting bagi pemandu safari atau orang lain yang bersentuhan dengan gajah. Para peneliti telah menemukan bahwa gajah dapat mengingat aroma seseorang bahkan jika mereka tidak melihatnya selama beberapa tahun.
Lalu bagaimana menghadapi gajah tunggal ini? Ya cukup menggiringnya menjauh dari permukiman atau perkebunan.
“Caranya, mendorong ke arah yang akan dituju gajah, masuk ke habitat atau koridor jelajah. Bukan sebaliknya, seperti mengembalikan ke kelompoknya, yang sering dilakukan masyarakat. Hal ini dikarenakan warga memahami gajah tersebut tersesat atau tertinggal dari kelompoknya,” kata Husni.
Pertanyaan menarik lainnya pun muncul. Ya? Apa penyebab gajah jantan remaja berusia antara 8-10 tahun keluar dari kelompoknya?
Husni menjelaskan bahwa secara alami gajah jantan berusia sekitar 8 sampai dengan 10 tahun sudah berpisah dengan induknya.
Menariknya fakta yang jarang terungkap ke permukaan. Ibarat manusia, lanjut Husni, gajah bernama Bara dan Jose, misalnya, terbilang agresif karena mereka mengalami perubahan dari anak ke remaja.
“Bahkan sebelum mencapai umur 8 sampai 10 tahun atau sekitar 7 tahun, untuk gajah jantan mereka sudah belajar untuk mandiri dengan cara meninggalkan kelompok dalam waktu satu hari atau lebih. Selanjutnya mereka kembali. Sebelum memasuki usia 8 s/d 10 tahun maka sang induk akan mengajari gajah jantan muda bagaimana mencari makan, bertahan hidup dan sebagainya sebagai bekal,” papar Husni panjang lebar.
Ya, dibanding hewan lainnya binatang itu memiliki struktur sosial unik yang membedakan mereka dari kebanyakan hewan lainnya. Paling tidak dibandingkan spesies mamalia lainnya, kawanan gajah dipimpin betina tua yang dikenal sebagai matriarkal.
“Ya, kelompok gajah dipimpin oleh gajah betina dewasa, dan jantan akan lebih sering soliter atau berjalan sendiri, walaupun pada masa kawin jantan akan mengunjungi kelompok betina sesekali,” terang Husni.
Struktur matriarkal ini memiliki beberapa manfaat luar biasa bagi hewan itu? Ya, memang menakjubkan peran besar gajah betina tua yang kuat ini dalam kehidupan kelompoknya.
Seperti diketahui dengan kekerabatan matriarkal notabene otoritas dan kekuasaan tertinggi di tangan gajah betina tertua, dan dia memiliki tanggungjawab mengayomi, membimbing yang lainnya termasuk memastikan kebersamaan grup termasuk keamanan dan sebagainya.
“Pada dasarnya kelompok gajah akan di
bimbing oleh betina dewasa dalam setiap jalur yang mereka lewati,agar memastikan anggota kelompok aman dari ancaman,”katanya.
Dengan memiliki otoritas tertinggi dalam mengambil keputusan dalam kelompok membuat gajah betina tua bertanggungjawab atas pengambilan keputusan dalam grup, dan ini termasuk hal-hal seperti melindungi kelompok dari bahaya, menemukan makanan dan sumber daya, dan menavigasi kelompok ketika melalui daerah yang mereka nilai asing.
“Yang menarik dari gajah ini yaitu dalam kelompok ingatan mengenai lintasan mereka serta titik – titik mencari makan sudah diwarisi kepada gajah betina muda, agar saat gajah muda tersebut menjadi pemimpin dia tahu kawasan – kawasan yang akan menjadi tempat mereka bernaung serta aman dari ancaman, juga tak jarang dalam beberapa kali teman – teman tim melakukan patroli gajah betina yang memimpin akan menjadi sedikit waspada untuk antisipasi ancaman, serta gajah betina pemimpin akan banyak berperan dalam melindungi kelompok,” papar Husni panjang lebar.
“Inipula yang membuat gajah kelompok lebih muda ditangani, diatur dan sebagainya dibanding gajah jantan tunggal,” terangnya menambahkan.
Oleh karena itu Husni berpendapat bahwa gajah tunggal yang keluar dari kelompoknya bukan karena kalah bersaing dengan pejantan lain, misalnya, namun memang begitulah sifat alami binatang tambun itu.
“Kalau ibarat manusia gajah memiliki kekerabatan matrilineal. Artinya hanya anak gajah betina yang akan mengikuti selamanya sang induk. Sedangkan gajah jantan dalam waktu usia tertentu keluar dari kelompok untuk “merantau”,” tukas Husni tertawa kecil.
Karena dalam menjalankan kehidupan sendiri bukan berkelompok, lanjut Husni, maka saat memasuki perkebunan kehadiran gajah jantan tunggal kerap tidak diketahui warga.
“Tahu-tahu 10 sampai dengan 20 batang sawit warga hilang. Ya karena dia sendiri tentu tidak berisik. Namun yang terang saat mulai memisahkan diri dari kelompok serta mengenal birahi gajah jantan cukup agresif,” terangnya.
Bisa disimpulkan bahwa gajah berkelompok dipimpin gajah betina dewasa, betina tua, anak, termasuk gajah jantan yang usianya di bawah delapan tahun. Kelompok gajah ini memiliki jalur tradisional relatif tetap yang biasa disebut jalur utama.
“Ya, gajah jantan tunggal termasuk sulit untuk diarahkan,” kata Husni seolah-olah membuka rahasia mengapa gajah jantan tunggal kerap berkonflik dengan manusia disamping faktor lain, tentunya.
Lantas apa penyebabnya gajah jantan berusia sekitar 57 tahun Codet yang kesiangan masuk ke Desa Pinggir seperti penuturan Suparto? Husni menduga banyak penyebab mengapa hewan itu keluar dari kebiasaan.
Diantaranya, lanjut Husni, Codet sulit menyeberangi ruas jalan tol, karena terowongan banjir atau aktifitas kendaraan yang padat.
Dugaan lainnya, masih kata dia, aktifitas blokade masyarakat untuk mengamankan kebun menghambat pergerakan Codet.
“Bisa jadi dua faktor yang masih dugaan ini penyebab mengapa Codet kesiangan tidak seperti biasanya,” terangnya.
Memang Suparto tidak tahu persis apakah gajah tunggal yang kesiangan memasuki masa birahi atau tidak. Namun yang terang warga pahami gajah itu menunjukan perilaku baik dan bersahabat.
“Rasa was-was memang ada tapi kami menunjukan sikap bersahabat itupula yang mungkin membuat gajah itu bersikap
manis,” terang Suparto menduga-duga sikap manis yang ditunjukan si Codet.
Memang perilaku binatang yang tahun 2011 menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan status konservasi gajah sumatera ke dalam kategori Critically Endangered (CR) atau daftar merah notabene satwa ini berada diambang kepunahan.
Yang jelas pasca kejadian tahun 1991 yakni gajah jantan berbalik arah menuju warga saat dikepung memicu pandangan negatif warga terhadap gajah. Mereka menilai hewan bertelinga lebar itu tak ubahnya seperti hama.
Namun seiring perjalanan waktu perlahan tapi pasti pradigma itu pun berubah, Kok bisa? Ya tulisan selanjutnya menjadi penyumbang perubahan tersebut. Penasaran, kan?
Tiga Komponen Krusial
Kendati jumlah hewan liar yang dilindungi seperti harimau Sumatera, gajah, badak dan sebagainya mulai tergerus karena berbagai faktor. Namun kondisi itu bisa diselamatkan dengan jalan pemangku kebijakan, masyarakat, NGO, badan usaha besar swasta maupun milik Negara memiliki kepedulian terlebih mau berbagi ruang dengan hewan langka dan liar itu.
Ya, istilah hewan liar bukan barang asing di telinga publik di tanah air. Namun tidak jarang pula ada diantara mereka tidak mengetahui definisi istilah itu.
Definisi hewan liar secara global atau umum adalah hewan yang tidak dipelihara oleh manusia. Seperti diketahui habitat asli dari hewan liar ini berada di alam bebas, tanpa adanya kontak langsung dengan kegiatan manusia seperti hutan, misalnya.
Akan tetapi saat populasi manusia meningkat dengan pesat, keanekaragaman hayati justru sebaliknya mengalami penurunan bahkan tak jarang menuju kepunahan. Alih fungsi hutan menjadi perkebunan, pemukiman dan sebagai menjadi ancaman serius bagi hewan-hewan tersebut.
Menyadari akan ancaman itu berupa berkurangnya keanekaragaman hayati, konservasi mulai hadir untuk menyelamatkan satwa atau hewan-hewan yang sudah terancam punah agar tidak musnah dari muka bumi ini atau tinggal nama.
Ya, tidak seperti hewan peliharaan, hewan liar ini mempunyai kebutuhan yang cukup kompleks, yang bahkan pada ilmuwan juga masih berusaha untuk memahaminya.
Menurut Born Free UK, kebutuhan dasar dari hewan liar mencakup lingkungan yang memadai, pola makan yang tepat, kebebasan untuk melakukan perilaku normal, kebutuhan sosial yang seringkali terkesan sangat rumit, dan juga kebebasan dari rasa sakit, penyakit, atau terluka.
Yang terang pada akhirnya, semua usaha konservasi harus mengusahakan hewan-hewan ini tetap berada di habitat aslinya. Hewan liar memang sudah seharusnya hidup di alam liar, sebagaimana halnya
manusia yang hidup dengan sandang, pangan, dan papan, serta ikatan dengan manusia lainnya.
Terkini siapa sangka perubahan iklim juga ditengarai menjadi pemicu rumitnya konservasi hewan liar. Ya, mungkin 20 atau 30 tahun lalu hal tersebut kurang diperhitungkan.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan mengapa konservasi hewan tetap menjadi hal yang cukup menantang dan ranah yang masih perlu dieksplorasi.
Untuk mengetahui seputar hewan liar www.temoriau.co.id melakukan wawancara dengan Pendiri Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera (YPHS) Bastoni, Kamis (30/5).
Menurut Toni –sapaan akrab Bastoni, red- pada dasarnya hewan liar terlebih yang ada di pulau Sumatera seperti harimau, badak, gajah dan sebagainya memerlukan tiga komponen untuk mempertahankan hidup.
“Pada prinsipnya semuanya sama. Yang membedakan adalah pola hidup, karakter dan sebagainya yang menjadi bawaan mereka secara alami,” ungkap Toni di kantornya yang terletak di Jalan Hangtuah Kota Dumai, Provinsi Riau.
Jika Born Free UK (United Kingdom, red) berpendapat bahwa kebutuhan dasar dari hewan liar meliputi lingkungan yang memadai, pola makan yang tepat, kebebasan untuk melakukan perilaku normal, kebutuhan sosial yang seringkali terkesan sangat rumit, dan juga kebebasan dari rasa sakit, penyakit, atau terluka maka Toni menilai tiga komponen utama yang dibutuhkan hewan liar yaitu air, pakan dan habitat.
Untuk air, misalnya, Bastoni berpendapat bahwa semua mahluk hidup membutuhkan air. Hanya saja kebutuhan antara satu hewan dengan hewan lainnya dipengaruhi kondisi faal tubuh.
Tidak dapat dipungkiri manusia, hewan, dan tanaman sangat membutuhkan air. Mereka sulit akan bertahan hidup bila kehilangan komponen ini.
Memang, kegunaan antara manusia, hewan, dan tanaman berbeda. Namun Seluruh makhluk hidup membutuhkan air sebagai sumber kehidupan. Bisa dibayangkan ketika manusia, hewan, dan tanaman tidak mengonsumsi atau diberi air.
Khusus untuk gajah Sumatera termasuk binatang berdarah panas sehingga jika kondisi cuaca panas mereka akan bergerak mencari naungan (thermal cover) untuk menstabilkan suhu tubuhnya agar sesuai dengan lingkungannya.
Diketahui dalam sehari gajah membutuhkan air untuk untuk minum sekitar 160 liter. Disaat musim kemarau, misalnya, gajah Sumatera bisa menggali air di dasar sungai yang mengering hingga kedalaman satu meter.
Tidaklah mengherankan hewan berbelalai panjang itu kerap berprilaku tertentu untuk membantu mendinginkan tubuh mereka.
Salah satunya yang dilakukan gajah ketika udara panas, misalnya, binatang itu mencari tempat teduh atau berlindung di bawah
pohon untuk menghindari panas matahari langsung.
Dilain waktu, mereka kerap mandi atau menyiramkan air ke tubuh mereka, baik di sungai, danau, atau dengan menggunakan belalai mereka sendiri.
Ya, gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus), subspesies dari gajah Asia, memiliki mekanisme termoregulasi yang mirip dengan gajah lainnya, tetapi ada beberapa adaptasi yang lebih spesifik untuk lingkungan mereka di Sumatera. Berikut adalah mekanisme termoregulasi pada gajah Sumatera:
1. Telinga Besar
Telinga gajah Sumatera lebih kecil dibandingkan dengan gajah Afrika, tetapi tetap berperan penting dalam termoregulasi. Telinga mereka memiliki banyak pembuluh darah yang membantu dalam proses pendinginan. Saat gajah mengibas-ngibaskan telinganya, aliran udara membantu mendinginkan darah yang mengalir melalui telinga, yang kemudian menyebarkan suhu lebih rendah ke seluruh tubuh.
2. Perilaku Mencari Teduh
Gajah Sumatera sering mencari tempat teduh untuk berlindung dari panas matahari. Hutan hujan tropis di Sumatera memberikan banyak tempat teduh alami yang membantu gajah untuk tetap dingin.
3. Mandi dan Menyiramkan Air
Gajah Sumatera sering mandi di sungai, kolam, atau genangan air untuk menurunkan suhu tubuh. Mereka juga menggunakan belalai mereka untuk menyiramkan air ke tubuh, yang membantu dalam pendinginan evaporatif.
4. Mandi Lumpur
Gajah Sumatera juga menggunakan lumpur untuk membantu pendinginan. Lumpur yang menempel pada kulit membantu mengurangi penguapan air dari kulit dan memberikan efek pendinginan saat mengering. Selain itu, lumpur juga melindungi kulit dari sinar matahari dan gigitan serangga.
5. Distribusi Lemak dan Kulit
Gajah Sumatera memiliki lapisan lemak yang lebih tipis di bawah kulit mereka, yang membantu dalam disipasi panas. Kulit mereka yang tebal dan berkerut juga membantu dalam proses pendinginan dengan meningkatkan luas permukaan untuk penguapan keringat atau air.
6. Metabolisme Rendah
Seperti gajah lainnya, gajah Sumatera memiliki tingkat metabolisme basal yang relatif rendah, yang mengurangi produksi panas internal dan membantu mereka tetap dingin di lingkungan panas.
7. Kapasitas Panas Tinggi
Gajah Sumatera memiliki kapasitas panas spesifik yang tinggi, memungkinkan mereka untuk menyerap dan menyimpan panas dalam jumlah besar tanpa mengalami peningkatan suhu tubuh yang signifikan. Ini berguna saat mereka beraktivitas di bawah sinar matahari langsung.
8. Adaptasi Habitat
Gajah Sumatera tinggal di hutan hujan tropis yang lembab, yang memberikan lingkungan lebih teduh dan sumber air yang melimpah dibandingkan dengan sabana atau padang rumput. Ini membantu mereka dalam mengatur suhu tubuh secara alami.
Dengan menggunakan kombinasi mekanisme ini, gajah Sumatera dapat menjaga suhu tubuh mereka stabil meskipun hidup di lingkungan hutan hujan tropis yang panas dan lembab. Adaptasi ini sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka di habitat yang sering mengalami perubahan suhu yang ekstrem.
(Sumber: https://programs.wcs.org)
Sementara itu dari hasil pengamatan dan penelitian lainnya menyebutkan bahwa binatang berbelalai panjang itu mempunyai
sedikit kelenjar keringat, sehingga mereka tidak bergantung pada keringat untuk pendinginan seperti manusia.
Sebaliknya, mereka menggunakan kelenjar sebelah yang menghasilkan minyak untuk membantu menjaga kelembapan kulit mereka dan membantu dalam pendinginan eksploratif.
Kendati begitu tim peneliti yang terdiri dari Duke University, University of the Witwatersrand, dan Hunter College menemukan fakta baru yang cukup mengejutkan dari gajah.
Tim berhasil mengungkap, tulis kompas, jika gajah merupakan hewan darat yang paling banyak kehilangan kandungan air dalam tubuhnya setiap hari. Seperti dikutip dari Phys, Kamis (3/12) banyak hewan, seperti manusia, tetap sejuk dalam cuaca panas dengan berkeringat.
Sedangkan hewan lain seperti gajah, memiliki organ besar yang berfungsi sebagai sistem pendingin, misalnya telinga mereka.
Gajah juga memiliki kelenjar keringat, tetapi hanya kecil dan terletak di kaki. Selain itu, gajah dikenal banyak minum air, ratusan liter setiap hari. Jumlah air yang begitu besar membantu gajah tetap sejuk.
Namun menariknya, selama ini, belum diketahui seberapa banyak air yang hilang per harinya. Para peneliti dalam upaya baru ini berusaha mencari tahu. Akhirnya peneliti pun melakukan eksperimen yang dilakukan pada gajah penangkaran di North Carolina untuk mengukur berapa banyak air yang hilang.
Para peneliti menguji gajah secara berkala selama tiga tahun, termasuk hari-hari yang sangat panas. Hasilnya peneliti menyebut, jika gajah rata-rata kehilangan sebanyak 325 liter pada hari-hari dingin.
Sementara pada hari-hari panas, gajah akan kehilangan 427 liter dan bahkan bisa bertambah 10 persen pada hari tertentu. Jumlah tersebut lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Meminum banyak air dilakukan gajah untuk menggantikan air yang hilang melalui urin dan keringat, karena mereka dapat membuang hingga 20-40 galon per hari.
Mereka mengandalkan mulut dan belalainya untuk mengalirkan air ke mulutnya, karena belalainya dapat menampung hingga tujuh galon air sekaligus. Gajah menggunakan air untuk makanan dan juga untuk berendam dan berendam sebagai cara mandi.
Bahkan, gajah diketahui sering kembali ke kubangan air beberapa kali dalam sehari untuk mandi dan menyegarkan diri. Di daerah di mana air langka, gajah terlihat melahap buah-buahan matang sebagai cara untuk menghidrasi diri. Di musim kemarau, mereka sangat bergantung pada sisa kelembaban di bahan tanaman untuk hidrasi.
Tapi siapa sangka ketika suhu global meningkat, gajah liar membutuhkan lebih banyak air. Namun di sisi lain, air akan menjadi langka karena lubang-lubang yang menjadi penampung air mengering dan
tanaman kaya air menjadi langka.
Situasi ini dapat memperburuk konflik antara gajah liar dengan manusia untuk mendapatkan sumber daya. Ketika gajah menyerang tanaman atau menghancurkan infrastruktur air bawah tanah, konfrontasi dengan kekerasan bisa mematikan bagi keduanya.
Untuk mengetahui masalah seputar air dan suhu panas bagi gajah, Direktur Rimba Satwa Foundation (RSF) Zulhusni Syukri kepada temporiau.co mengatakan bahwa salah satu penyebab gajah tidak tahan panas karena hewan itu tidak memilik pori-pori.
“Itupula salah satu penyebab gajah melakukan aktivitas dimalam hari atau hewan nocturnal. Mereka tidur pada siang hari,”terangnya.
Lebih jauh Husni – sapaan akrab Zulhusni Syukri, red- menjelaskan untuk tiga kantong gajah di Riau yang menjadi konsep lembaga yang dipimpinnya meliputi Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja, Giam Siak Kecil (GSK) dan Petapahan (Kota Garu, red) memperlihatkan jalur lintasan gajah itu tidak jauh-jauh dari sungai maupun anak sungai.
“Bisa kita lihat lintasan gajah yang ada,” tukas Manager Elephant Program RSF Git Fernando kepada temporiau.co.id seraya memperlihatkan sejumlah peta yang di kantor mereka, Jumat (14/6) malam.
Masih kata dia, gajah Sumatera termasuk binatang berdarah panas sehingga jika kondisi cuaca panas mereka akan bergerak mencari naungan (thermal cover) untuk menstabilkan suhu tubuhnya agar sesuai dengan lingkungannya.
Lantas bagaimana saat musim kemarau tiba? Husni menjelaskan bahwa gajah akan mendatangi Sungai Mandau yang merupakan anak dari Sungai Siak.
“Kalau musim hujan mereka ke atas (menjauhi sungai, red) karena pasokan air mudah mereka peroleh,” pungkasnya.
Namun diluar ekspetasi orang bahwa binatang tambun itu piawai berenang di air? Ya, ternyata gajah adalah perenang yang luar biasa! Yang paling mengesankan tentang gajah berenang adalah mereka menggunakan keempat kakinya saat berada di dalam air.
Gerakannya terlihat seperti dayung doggy, dengan keempat kakinya yang besar mendorong mereka melewati air. Bagian dari apa yang membuat gajah menjadi perenang mahir adalah belalainya yang kuat, yang dapat mereka gunakan untuk stabilitas, keseimbangan, dan bahkan untuk bernapas.
Mereka bahkan dapat menggunakan belalainya seperti snorkel untuk tetap berada di bawah air selama beberapa menit! Gajah juga perenang yang cukup kuat dan dapat berenang dengan kecepatan 6 mil per jam, mengirimkan gelombang air ke depan mereka.
Berenang juga bisa menjadi terapi bagi gajah, karena memberi mereka kesempatan untuk menenangkan diri, bersantai, dan berinteraksi dengan gajah lainnya. Dipercayai bahwa inilah salah satu alasan mengapa begitu banyak gajah berkumpul selama musim kemarau untuk melakukan perjalanan jauh ke sungai atau danau.
Untuk masalah berenang ini, Husni menjelaskan bahwa ada kalanya gajah-gajah itu menyeberangi Sungai Siak yang alih-alihnya masuk ke areal pemukiman di Kota Pekanbaru.
“Beberapa waktu lalu, Kota Pekanbaru kan sempat heboh karena kawanan gajah memasuki satu kawasan pemukiman swarga. Ya, mereka menyeberang sungai hingga sampai di sana,” terangnya.
Jelas bahwa gajah menjadi binatang besar yang piawai dalam berenang merupakan informasi berharga. Paling tidak bagi ilmuwan dan penggiat gajah untuk
mempelajarinya lebih lanjut.
Yang terang pada waktu berendam di sungai, gajah minum dengan mulutnya. Sementara, pada waktu di sungai yang dangkal atau di rawa gajah menghisap dengan belalainya. Gajah mampu menghisap mencapai 9 liter air dalam satu kali isap.
Lantas apa dua komponen krusial lainnya yang disebut Bastoni terkait hewan liar?
Kiprah ‘Si Petani Hutan’
Seperti diketahui makhluk hidup yang ada di Bumi terdiri dari 3 yaitu manusia, tumbuhan, dan hewan yang memiliki ciri-ciri tertentu. Salah satunya adalah membutuhkan makanan. Lantas, mengapa makhluk hidup membutuhkan itu? Ya mereka juga membutuhkan makanan sebagai sumber energi. Tanpa makanan, makhluk hidup tak punya tenaga untuk bergerak, bahkan bisa mengalami kematian. Itulah alasan mengapa makhluk hidup membutuhkan makan tidak terkecuali gajah.
Untuk gajah Sumatera, misalnya, mereka membutuhkan makanan sekitar 5 sampai dengan 10 persen dari beratnya. Jika binatang itu memiliki berat sekitar 3 ton maka dibutuhkan sekitar 300 kilogram makanan dalam sehari. Wow…..
Sedangkan untuk minum dibutuhkan 160 liter air setiap hari. Di musim kemarau gajah sumatera bisa menggali air di dasar sungai yang mengering hingga kedalaman satu meter.
Ya, di alam lia, gajah Sumatra merupakan satwa yang berperan penting dalam menjaga ekologi habitatnya melalui perilaku makan. Mereka secara tidak langsung ikut menyebarkan benih-benih tumbuhan dan pepohonan di hutan. Bagaimana caranya?
Hal tersebut karena mereka memiliki kebiasaan membersihkan makanannya sebelum dimasukkan ke dalam mulut.
Ya, mereka terlebih dahulu akan mengibaskan makanan dengan belalainya hingga bersih. Sehingga ada biji-nya yang jatuh ke tanah. Setelah itu baru kemudian dimasukkan ke dalam mulut untuk dikunyah.
Dibagian lain efesiensi sistem pencernaan gajah terbilang buruk. Hewan ini bisa membuang fesesnya setiap satu jam sekali. Itupula yang mendorong mengapa gajah memerlukan makanan hingga 230 kg atau setara dengan 5-10 persen dari bobot tubuhnya.
“Karena pencernaan gajah tidak baik maka apa dia makan seperti semangka misalnya, maka biji akan keluar dari feses (kotoran, red),” terang Manager Elephant Program Rimba Satwa Foundation (RSF) Git Fernando kepada awak media ini di kantor NGO tersebut, Jumat (14/6) malam.
Lebih jauh aktivis pecinta alam itu melanjutkan karena gajah makan sambil terus berjalan maka secara tidak langsung binatang itu berperan dalam menebarkan benih-benih tumbuhan melalui feses yang di keluarkannya yang juga berfungsi sebagai pupuk.
“Itupula yang menyebabkan gajah disebut “petani hutan”,” terang Git Fernando yang diaminkan Direktur RSF Zulhusni yang duduknya tak jauh Git.
Masih kata dia, dalam ekosistem di kawasan hutan, keberadaan gajah sangat penting , binatang itu merupakan pembuka jalan di hutan belantara, dengan bobot dan fisik tubuhnya dia mampu menerobos pepohonan dan semak belukar.
“Dari patroli yang kami lakukan banyak jejak binatang lain dibelakang tapak kaki gajah. Ya, bisa dikatakan gajah pembuat infrastruktur di hutan. Dengan badannya yang besar maka memudahkan dia untuk menerobos semak belukar,” terangnya.
Tak hanya membuka infrastruktur bagi binatang lain untuk mencari makan di hutan belantara sambung Git Fernando, dengan bobot badan terbilang besar apalagi saat melintas binatang itu berkelompok
membuat tanah menjadi gembur.
Bukan hanya sebagai pembuka jalan di hutan, binatang itu sangat berperan dalam menjaga keberagaman tumbuhan termasuk pepohonan.
“Dari tanah yang gembur akibat diinjak gajah menjadi sumber makanan bagi binatang lain seperti babi, rusa dan sebagainya karena dijumpai cacing serta lainnya,” terangnya.
Dengan dijuluki “petani hutan”, lanjut pria berperawakan sedang itu, fungsi gajah di hutan bebas tidak hanya sebatas menyemai benih tapi sekaligus menyuburkan bibit itu.
“Feses atau kotoran yang keluar otomatis menjadi pupuk yang membuat tanaman subur,” katanya.
Oleh karena itu, kata Zulhusni yang sedari tadi memilih banyak diam ikut angkat suara mengatakan bahwa apabila di hutan ditemukan semangka, durian dan sebagainya maka bisa dipastikan itu pekerjaan “petani hutan”.
“Karena sistem pencernaannya tidak sempurna apa yang dimakannya seperti buah-buahan mengandung biji-bijian maka tidak hancur,” paparnya panjang lebar.
Ya, berbicara tentang gajah maka tidak jarang individu berpikiran sepihak dalam artian mereka melihat sisi kehidupan didasari atas azas kebutuhan dan nilai manfaat untuknya serta mengabaikan kebutuhan dan kelangsungan hidup mahluk lain diantaranya gajah Sumatera.
Ironisnya, sebagian pihak tidak tahu akan peran kehidupan dan manfaat gajah ini dalam memelihara lingkungannya. Seperti diketahui hewan herbivora itu hidup berkelompok dan merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari dalam sehari semalam terus bergerak bisa mencapai 20 km.
Bisa dibayangkan jalannya rombongan gajah nyaris tiap hari mereka melakukan perenggangan yakni membuka ruang sinar matahari tembus ke dasar hutan sehingga proses fotosintesis bisa berjalan dengan baik notabene tumbuhan akan tumbuh dengan baik.
Lantas apa makanan gajah Sumatera di alam bebas? Dari data yang ada gajah Sumatera memakan rumput-rumputan, daun, ranting, umbi-umbian dan kadang buah-buahan. Setidaknya terdapat 69 spesies tumbuhan yang bisa dijadikan pakan gajah.
Tumbuhan tersebut terdiri dari 29 kelompok rumput-rumputan dan 40 kelompok tanaman non rumput (buah-buahan, red) . Namun demikian binatang bertelinga lebar ini diketahui lebih menyukai rumput-rumputan.
Dibagian lain hasil penelitian para ahli sebut saja Riba’i (2013) diketahui gajah memakan lima bagian dari tumbuhan, yakni daun, batang, akar, buah, dan kulit.
Meski memakan lima bagian dari tumbuhan itu. Akan tetapi diketahui daun merupakan bagian yang paling disukai gajah. Beberapa jenis pakan alami gajah berdasarkan habitatnya antara lain ilalang, rumput gajah,
putri malu, rumput teki, jambu biji, benalu belimbing, paku merak, sawi langit, paku harta, teri rawa, mendong, lingi, polongan, gantungan. Sedangkan untuk jenis pepohonan antara lain senggani, jabon, rotan, sungkai, sonokeling dan sebagainya.
Ada yang menarik menyusul tergerusnya hutan akibat alih fungsi menjadi perkebunan skala besar, kecil maupun pemukiman masyarakat membuat pola makan gajah berubah.
Diketahui sebelumnya gajah tidak menyukai sawit. Akan tetapi perlahan tapi pasti mamalia itu mulai menyukai tumbuhan asal Afrika itu.
‘’Karena gajah butuh makan banyak, sementara ketersediaan kurang. Saat ini terjadi perubahan. Dia mulai suka sawit, umbut-umbut sawit yang kecil-kecil. Karena kebun sawit yang terus meluas, dia juga beradaptasi. Akibatnya interaksi negatif muncul. Satu sisi dianggap merusak kebun sawit masyarakat, lain sisi mereka perlu makan,’’ jelas Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV BBKSDA Riau Azmardi kepada awak media.
Menyusul perubahan menu gajah makan itu, founding Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera (YPHS) Bastoni menjelaskan hal tersebut tidak tertutup terjadi, mengingat hewan tersebut masuk ke dalam golongan herbivora.
“Karena gajah masuk ke dalam kelompok hewan herbivora selama itu tumbuhan maka hal itu bisa terjadi,” terangnya.
Mengutip kata mutiara tersohor dari tokoh dunia Mahatma Gandhi “Alam akan selalu mencukupi kebutuhan semua manusia (termasuk mahluk hidup lainnya, red) , namun tidak untuk memenuhi keserakahan satu manusia.”
Menurut Toni –panggilan akrab Bastoni, red- kehadiran gajah sangat penting bagi keseimbangan alam.
Seperti diketahui gajah yang memakan biji-bijian dan dengan daya jelajahnya yang luas. Hewan itu dengan cermat menebar benih-benih tersebut ke berbagai sudut hutan.
Alih-alih tumbuhan baru itu dibutuhkan binatang lain. Ya, dari situlah terbentuklah piramida atau rantai makanan sebagai penjaga ekosistem di hutan.
“Gajah itu hidup memang untuk makan dan selama manusia tidak ikut campur atau intervensi dalam bentuk hal-hal negatif seperti pengerusakan habitat dan sebagainya maka alam akan menyediakan segala kebutuhan mereka. Karena alam bekerja berdasarkan konsep keseimbangan,” pungkas Toni.
Selain menjadi “petani hutan”, lanjut Toni, maka fungsi lainnya kehadiran gajah yang tak kalah pentingnya, yakni hewan itu membersihkan gulma-gulma yang ada di hutan.
“Apapun yang diciptakan Tuhan yang ada di dunia ini pasti ada manfaatnya termasuk gajah. Apakah manusia mau membersihkan gulma-gulma dan sebagainya itu?” tukas Toni dengan nada sedikit meninggi menyusul kian tergerusnya hewan liar yang ada di Riau diantaranya harimau, gajah dan lainnya.
Lebih jauh Toni menjelaskan bahwa salah satu konflik yang terjadi antara gajah versus manusia dipicu masalah makan hewan tambun tersebut yang sudah sulit mereka peroleh karena tergerusnya hutan atau habitat mereka.
Jika gajah Sumatera di alam liar harus ‘kucing-kucingan’ dengan manusia untuk sekedar mengisi lambung tengah (baca: perut) mereka, lantas bagaimana nasib “kolega” mereka di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas?Ya, nasib mereka lebih baik ketimbang ‘saudara-saudara’ mereka nun di alam bebas sana.
Dikutip dari laman Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bahwa sejak tahun 1980 keberadaan gajah liar
sudah mulai menjadi permasalahan bagi masyarakat dan pihak-pihak terkait baik swasta maupun pemerintah.
Ya, agar tidak terganggunya program pembangunan di Indonesia maka dilaksanakan kegiatan penggiringan gajah besar-besaran ke habitat aslinya agar keberadaan gajah dapat lestari, operasi tersebut yang dikenal dengan nama operasi Ganesha dan tata liman.
Mengacu dari hasil upaya pencegahan terhadap gangguan gajah yang telah dilakukan tercetus gagasan untuk mendirikan Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebangga Duri-Riau pada bulan Oktober tahun 1988, maksud dan tujuan sebagai sarana untuk menumbuhkan dan mengembalikan kesan pada masyarakat bahwa gajah bukan sebagai satwa perusak yang harus dimusnahkan tetapi merupakan satwa yang bermanfaat bagi pembangunan Nasional.
Pada mulanya sasaran dari PLG untuk menangkap gajah-gajah pengganggu terhadap pertanian masyarakat, daerah pemukiman transmigrasi dan perkebunan, yang kemudian ditangkap dan dilatih untuk dimanfaatkan sebagai gajah tangkap, tunggang, atraksi, dan gajah patroli.
Dalam perkembangannya PLG Riau beberapa kali mengalami perpindahan lokasi, terakhir tahun 2001 ke Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim yang berlokasi di Kecamatan Minas sampai saat ini dengan 19 gajah binaan yang terdiri dari 12 ekor gajah jantan 6 ekor gajah betina.
Khusus untuk anggaran makan gajah di PLG Minas awak media ini melakukan konfirmasi kepada Manager CSR PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Pinto Budi Bowo Laksono menjelaskan bahwa gajah membutuhkan pakan sebanyak 10 persen dari berat badannya.
Oleh karena itu, lanjut dia, diperkiraan menghabiskan anggaran sekitar Rp 75 ribu dalam sehari untuk satu individu gajah jinak atau gajah latih.
“Ini yang digunakan untuk pembelian pakan tambahan seperti buah-buahan, puding gajah, pelepah sawit, batang pisang, rumput-rumputan, dan lain-lain. Pada intinya keragaman pakan sangat dibutuhkan untuk pemenuhan nutrisi pada gajah,” jelasnya pada awak media ini, Senin (1/7).
Dari data yang ada menyebutkan PT PHR mengalokasikan dana sebesar Rp25 miliar untuk 10 tahun bagi pakan gajah di LPG Minas dan sebagainya.
Untuk yang satu ini, Analyst Social Performance PT PHR Priawansyah kepada awak media ini, Kamis (30/5), mengatakan bahwa itu bentuk komitmen perusahaan plat merah itu terhadap keberadaan gajah di bumi lancang kuning.
“Dari tahun ini berarti ada Rp2,5 miliar. 15 persennya diperuntukkan juga untuk biaya operasional, bukan hanya pakan gajah. Kan perlu juga biaya untuk mahout dan petugas di sini, untuk pembinaan ke masyarakat, ada acara pelatihan atau edukasi lainnya, dananya juga kita tanggung. Yang jelas untuk pakan gajah tidak akan putus selama 10 tahun ke depan. Tiga tahun belakangan kami juga memberikan minimal Rp1,4 miliar per tahun yang di-handle oleh RSF untuk mengurusi 70 ekor gajah liar yang ada di kantong-kantong habitatnya,” terangnya.
Lebih jauh Priawansyah mengatakan bahwa peran PT PHR yang paling dominan itu adalah pakan. Ya, gajah setiap hari itu diuangkan sekitar Rp75 ribu per satu ekor gajah.
“Itu akan kita biayai selama 10 tahun ke depan. Nanti akan kita evaluasi lagi, tidak menutup kemungkinan bisa lebih dari 10 tahun dan bukan hanya gajah,” terangnya.
Ditambahkannya bahwa pembinaan dan bantuan kepada PLG Minas berkolaborasi dengan RSF dan BKSDA, merupakan wujud dari rasa tanggungjawab sebagai
korporasi yang bekerja berdampingan langsung dengan habitat para satwa.
Komitmen tersebut, sambung dia, telah dituangkan dalam Memorandum of Understanding untuk10 tahun. Ini dilakukan agar hewan tambun itu terpelihara dan terlindungi secara baik.
“Kita memahami adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi, membuka lahan, membuat habitatnya terganggu, Jadi konflik tak terelakan,’’ sebut Priawansyah.
Terkait dana yang digelontorkan miliaran rupiah itu, Priawansyah mengatakan hal itu tidak menjadi masalah. “Ini sudah menjadi komitmen. Asalkan mereka hidup layak, PT PHR akan dukung,’’ tandas Priawansyah.
Terkait komitmen besar PT PHR menyusul kepedulian mereka terhadap eksistensi gajah Sumatera, pemerhati lingkungan dan pembangunan Kota Dumai Irni menyambut positif. Sebaliknya, dia meminta kepedulian serupa juga diberikan perusahaan yang memiliki lahan konsesi berupa hutan dialih fungsikan menjadi perkebunan.
“Kita berharap kepedulian serupa dari perusahaan lainnya apakah skala besar dan menengah. Paling tidak ini sebagai bentuk tanggungjawab sosial mereka terhadap lingkungan ,” pungkasnya,
Sebagai informasi dari data yang ada menyebutkan bahwa hewan mamalia itu dalam alam bebas banyak melakukan pergerakan dalam wilayah jelajah yang luas notabene menggunakan lebih dari satu tipe habitat.
Ancaman Inbrinding
Seperti diketahui konflik gajah dengan manusia berawal banyak kawasan pelintasan gajah yang beralih fungsi menjadi perkebunan, pemukiman dan sebagainya.
Disisi lain, binatang bertubuh bongsor memiliki kebiasaan berjalan dari satu titik ke titik lain layaknya jarum jam ini dikenal dengan istilah home range.
Sambil berjalan dari titik A menuju Z, misalnya, maka mereka terus melakukan aktifitas makan, reproduksi. Namun dengan beralih fungsinya pelintasan tradisional mereka membuat mereka kesulitan untuk mencari makan. Disisi lain, memori otak hewan itu telah merekam jelas rute-rute yang biasa mereka lalui dari satu generasi ke generasi lain. Syahdan inipula yang ditengarai menjadi pemicu terjadi konflik.
Bahkan untuk di Riau sendiri mulai tahun 1980 keberadaan gajah liar sudah mulai menjadi permasalahan bagi masyarakat dan pihak-pihak terkait baik swasta maupun pemerintah.
Oleh karena pemangku kebijakan mengambil sejumlah langkah diantaranya penggiringan gajah besar-besaran kehabitat aslinya agar keberadaan gajah dapat lestari, operasi itu dinamai operasi ghanesa dan tata liman.
Berangkat dari sini kemudian pemerintah mendirikan Pusat Latihan Gajah (PLG). Awalnya lembaga ini untuk menangkap gajah-gajah pengganggu terhadap pertanian masyarakat, daerah pemukiman transmigrasi dan perkebunan, yang kemudian ditangkap dan dilatih untuk dimanfaatkan sebagai gajah tangkap, tunggang, atraksi, dan gajah patroli.
Namun dalam perkembangannya PLG Riau beberapa kali mengalami perpindahan lokasi, PLG Riau pertama kali didirikan di Sebanga-Duri pada tahun 1988, pada tahun 1991 lebih kurang tiga tahun PLG Sebanga berdiri terjadi pembakaran yang dilakukan oleh masyarakat sekitar PLG. Ini menjadi indikasi betapa predikat terbilang keliru berupa “hama” disematkan kepada binatang cerdas itu.
Ya, agar aktivitas pelatihan dan pengelolaan gajah tetap berjalan untuk sementara PLG dipindahkan ke Desa Pinggir yang berlokasi di Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja.
Pada tanggal 29 Juni 1992 keluarlah Surat
Keputusan Gubernur Kepala Daerah I Riau Nomor: KPTS.387/VI/1992 menunjuk lokasi Pusat Latihan di Desa Muara Basung Kecamatan Mandau Kebupaten Bengkalis Km 100 Pekanbaru-Duri dengan luas 5.000 Ha. Dengan adanya penetapan PLG Sebanga Riau melalui SK Gubernur besar harapan Pusat Latihan Gajah Sebanga Riau akan jauh lebih baik dari dari sebelumnya.
Akan tetapi asa itu tidak bertepi. Paling tidak tingginya konflik pembukaan hutan dan lahan di Pusat Latihan Gajah Sebanga, yang dilakukan oleh masyarakat setempat dan juga pendatang hal ini disebabkan kurang seriusnya penegakan hukum terhadap para pelaku perambah kawasan hutan dan lahan di lokasi Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga.
Alhasil sekitar tahun 2001 PLG Sebanga pindah ke Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim yang berlokasi di Kecamatan Minas sampai saat ini.
Aktifitas pelatihan gajah di PLG Sebanga tetap berjalan sampai saat ini ditengah ancaman konflik lahan di PLG yang kian tinggi dan tidak terkendali, sehingga mengakibat gajah binaan PLG Sebanga kesulitan dalam hal penambahan gajah dan juga pengembalaan dikarenakan lahan sebagai habitat telah berubah fungsi menjadi kebun.
Dari pemaparan itu bisa ditarik kesimpulan bahwa habitat gajah Sumatera kian terjepit. Ancaman terhadap hewan herbivora itu tidak sebatas alih fungsi hutan, tapi perburuan liar, racun dan jerat menjadi ancaman serius. Bahkan dikabarkan banyak binatang darat terbesar di daratan itu menemui ajal secara mengenaskan.
Kritisnya keberadaan gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) berdasarkan hasil survei World Wildlife Fund (WWF) Program Riau 2013 yang dikutip temporiau.co melaporkan dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, lima kantong gajah di wilayah Riau punah. Survei ini menunjukkan populasi gajah di Riau diperkirakan tersisa 330 ekor, semuanya tersebar di sembilan kantong habitat gajah di berbagai wilayah di Riau.
Dilaporkan juga jumlah gajah jauh berkurang dibanding pada 2003 lalu yang mencapai 450 ekor. Jadi, sejak sepuluh tahun terakhir, jumlah gajah yang mati mencapai 120 ekor. Pada 2003, terdapat 15 kantong habitat gajah di Riau. Namun, pada 2009 gajah dipastikan punah di lima kantong dengan kata lain tidak ada kelompok gajah tersisa.
Kelima kantong gajah itu terdapat di Hutan Siabu, Kampar Kiri, sebanyak dua kantong gajah; lalu di Hutan Kuntu, Kampar Kiri, ada dua kantong gajah; dan satu kantong di daerah Hutan Rambah Hilir, Rokan Hulu.
Sementara sembilan kantong gajah sisanya yakni di hutan lindung Mahato Rokan Hulu ada sekitar 15 gajah, dan Koto Tengah ada 15 gajah. Sedangkan di Balairaja, Bengkalis, terdapat 35 ekor gajah. Lalu di Petapahan, Kampar, ada 20 ekor gajah, di Giam Siak Kecil, Bengkalis, ada 20 ekor gajah, di Serangge, Taluk Kuantan ada 50 gajah, dan di Kemayangan ada 5 ekor. Sementara di kawasan Tesso Nilo utara dan tenggara terdapat 200 ekor gajah.
Pada tahun 2007 populasi gajah sumatera di alam liar diperkirakan sekitar 2400-2800 ekor. Turun separuhnya dibanding tahun 1985 sekitar 4800 ekor. Saat ini jumlahnya terus diperkirakan mengalami penyusutan. Karena habitat hidupnya terus menyempit. Terhitung 25 tahun terakhir, Pulau Sumatera telah kehilangan 70 persen luas hutan tropis yang menjadi habitat gajah. Belakangan dikabarkan bahwa tersisa 7 kantong di Riau. Duh….
Seperti diketahui gajah merupakan mamalia darat paling besar yang hidup pada zaman ini, sehingga membutuhkan wilayah jelajah yang sangat luas. Ukuran wilayah jelajah
Gajah Asia bervariasi antara 32,4 – 166,9 km2.
Wilayah jelajah unit-unit kelompok Gajah di hutan-hutan primer mempunyai ukuran dua kali lebih besar dibanding dengan wilayah jelajah di hutan-hutan sekunder. Ya, di habitat alamnya, gajah hidup berkelompok (Gregorius).
Perilaku berkelompok ini merupakan perilaku sosial yang sangat penting peranannya dalam melindungi anggota kelompoknya.
Besarnya anggota setiap kelompok sangat bervariasi tergantung pada musim dan kondisi sumber daya habitatnya terutama makanan dan luas wilayah jelajah yang tersedia.
Jumlah anggota satu kelompok Gajah Sumatera berkisar 20-35 ekor, atau berkisar 3-23 ekor. Setiap kelompok Gajah Sumatera dipimpin oleh induk betina yang paling besar, sementara yang jantan dewasa hanya tinggal pada periode tertentu untuk kawin dengan beberapa betina pada kelompok tersebut.
Secara alami Gajah melakukan penjelajahan dengan berkelompok mengikuti jalur tertentu yang tetap dalam satu tahun penjelajahan.
Jarak jelajah Gajah bisa mencapai 7 km dalam satu malam, bahkan pada musim kering atau musim buah-buahan di hutan mampu mencapai 15 km per hari.
Diketahui selama menjelajah, kawanan gajah melakukan komunikasi untuk menjaga keutuhan kelompoknya.
Itu sebabnya gajah itu termasuk binatang nokturnal yang aktif di malam hari. Hewan ini hanya membutuhkan waktu tidur selama 4 jam per hari dan terus bergerak selama 16 jam untuk menjelajah dan mencari makanan.
Selebihnya digunakan untuk berkubang dan bermain. Pergerakan gajah dalam sehari bisa mencapai areal seluas 20 km2. Idealnya kebutuhan luas areal untuk habitat gajah liar minimal 250 km2 berupa hamparan hutan yang tidak terputus.
Lantas berapa jumlah ideal lahan agar binatang darat terbesar di planet bumi itu melakukan penjelajahan sesuai sifat alaminya? Untuk hal ini temporiau.co.id mewawancarai Direktur Rimba Satwa Foundation (RSF), Zulhusni Syukri di Kantornya Jalan Kayangan, Duri, Jumat (14/6) malam.
Menurut dia tergantung jumlah gajah dalam kelompok itu. Untuk di Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja, sebut dia, sempat bertahan tiga ekor gajah dengan daya jelajah ruang gerak sekitar 40 ribu hektar bukan hutan tapi perkebunan masyarakat.
Mendengar perkebunan masyarakat awak media temporiau.co.id sempat terperangah “Iya? Di perkebunan,” pungkas Zulhusni singkat seola-olah tahu bahwa awak media bingung mendengar kalimat “perkebunan masyarakat”.
Kok bisa di perkebunan bukan di hutan? Manager Elephant Program RSF Git Fernando menjelaskan Balai Raja pada tahun 1986 ditunjuk sebagai Suaka
Margasatwa (SM) dengan alokasi luas 15343,95 hektar.
Sayang seribu kali sayang baru 27 tahun kemudian tepatnya tahun 2014 pemerintah baru menetapkannya.
“Jadi yang tersisa itu sekitar 350 hektar dengan perincian 250 hektar hutan dan sisanya sekitar 100 hektar lahan konservasi milik PT PHR,” terangnya.
Itupula yang membuat RSF, BBKSDA Riau, PT PHR dan stakeholder lainnya mati-matian menjaga 350 hektar lahan yang tersisa dari ribuan hektar yang awalnya diperuntukan bagi “tuk belalai”.
Adapun untuk menjaga “benteng terakhir” itu, sambung Zulhusni Syukri yakni melakukan patrol secara kontinyu. Tidak jarang mereka menemukan jerat.
“Ya, kita bersihkan termasuk memasukan kembali kayu yang sempat di bawa dan sebagainya,” pungkasnya.
Lantas bagaimana ada pihak tidak bertanggungjawab mencoba melalukan alih fungsi hutan yang tersisa itu dengan perkebunan sawit, misalnya?
“Ya, diam-diam kita cabut terkadang pucuknya kita kasih rondap (semacam racun tumbuhan, red),” katanya tersenyum.
Untuk Riau sendiri, lanjut Zulhusni Syukri, setakat ini tinggal 7 kantong populasi gajah. Tiga diantaranya menjadi konsentrasi lembaga itu, SM Balai Raja, Giam Siak Kecil (GSK) yang terdapat di dua kabupaten yaitu Bengkalis dan Siak terakhir Petapahan (Kota Garu, red) total didapati sekitar 72 ekor gajah meliputi 14 desa.
Masih kata dia, di SM Balai Raja tinggal 2 ekor gajah. Sebelumnya tiga individu Seruni, Dita, dan Bara. Namun belakangan Dita mati.
Parahnya habitat di Balai Raja, lanjut dia, diduga ada perusahaan yang sengaja membangun parit sebesar 5-6 meter ditengarai agar gajah tak bisa lewat.
Alhasil hanya gajah jantan Codet bisa bolak balik Balai Raja-Giam Siak Kecil saat memasuki masa birahi (musth) setiap 3 bulan sekali dengan melintasi terowongan gajah di tol Riau.
“Itulah kondisi yang ada,” terangnya sembari menunjuk sejumlah peta terkait kondisi hewan yang dilindungi itu.
Ya, kematian gajah apakah akibat perburuan liar, jerat maupun diracun layaknya sebuah siklus yang berulang.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkirakan populasi gajah Sumatera di Provinsi Riau tersisa hanya sekitar 179 ekor. Hewan yang biasa hidup liar ini terancam punah akibat dibunuh, diburu, hingga mengalami kerusakan habitat.
Ancaman punahnya gajah Sumatera ini tidak main-main. Bahkan sebaliknya nyata adanya karena itu hewan mamalia besar ini pada sejumlah referensi sudah masuk status terancam punah (critical endagred).
Bahkan pemerintah sudah menyatakan kondisi ini sejak 2002 lalu, diduga ini akibat masifnya pembalakan liar dan pembukaan
lahan hutan di wilayah Sumatera.
Peristiwa tragis ini bukan isapan jempol, namun didukung data peneliti dan pengamat bahwa isu lingkungan mempengaruhi habitat alami gajah. Soal kepunahan yang tinggal di depan mata jika semua pihak termasuk masyarakat kurang kondisi ini.
Kepunahan gajah itu tidak hanya disebabkan kian menyempitnya hutan tempat mereka hidup. Akan tetapi yang nyaris luput dari perhatian sebagian pihak yaitu ancaman inbreeding atau pada manusia dikenal dengan istilah inses (perkawinan sedarah, red).
Untuk masalah ini, Zulhusni Syukri mengaku fenomena itu sangat menarik dibahas. Meski belum ada hasil penelitian tentang hal itu. Namun tidak tertutup kemungkinan terjadi.
“Jika melihat kecendrungan menyusutnya populasi gajah hal itu bisa terjadi,” terangnya.
Masih kata dia, jika inbreeding dalam biologi diartikan sebagai perkawinan antara dua atau lebih individu yang masih memiliki kedekatan hubungan kekerabatan maka genetika ditengarai rusak.
“Ya hampir sama dengan manusia hasil kawin sedarah genetiknya rusak terjadi sekarang jantan sedikit kawin sedarah gajah bisa cacat, idiot punah. Kemungkinan itu ada karena gajah dominan sudah berkurang. Disisi lain mereka butuh kawin,” katanya.
Lantas apa solusinya, Husni –sapaan akran Zulhusni Syukri, red- populasi hewan harus dijaga dan dipertahankan.
“Soal inbriding penelitian genetika atau Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) telah dilakukan WWF pada tahun 2019,” terangnya.
Ya, sebagai informasi menyusul masalah inbreeding dari data yang ada bagaimana gajah melahirkan dan sebagainya.
Seperti diketahui gajah jantan memiliki periode musth atau masa birahi ketika masa produksi hormon testosterone mulai berfungsi. Musth menandakan bahwa gajah jantan sudah siap kawin.
Secara umum gajah jantan akan mengalami musth setelah berumur sekitar 12-15 tahun. Saat gajah jantan memasuki periode musth akan terjadi perubahan perilaku, nafsu makannya menurun, gerakannya lebih agresif dan suka mengendus-ngendus dengan belalainya. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti sering meneteskan urin, penis sering keluar dan dari dahinya mengeluarkan kelenjar berbau menyengat.
Namun proses perkawinan antara gajah jantan dan betina tidaklah seperti dibayangkan. Ternyata mereka membutuhkan suasana tenang notabene dengan kian tergerusnya habitat mereka oleh perkebunan dan pemukiman kondisi seperti itu relatif sulit untuk didapat.
Pun terjadi interaksi seksual antara gajah jantan dan betina maka alat reproduksi sang betina bisa berfungsi memasuki usia lebih 9 s/d10 tahun.
Selanjutnya usia kehamilan gajah terbilang lama yakni mencapai 22 bulan. Ya, termasuk mamalia dengan masa kehamilan paling lama. Gajah memiliki masa kehamilan terpanjang artinya dibutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk melahirkan bayi gajah.
Konon inipula kenapa manusia yang hamil diatas 9 bulan belum melahirkan diistilahkan hamil gajah.
Bayi gajah sumatera yang baru lahir memiliki bobot tubuh sekitar 40-80 kg dengan tinggi sekitar 75-100 cm. Bayi tersebut akan diasuh oleh induknya hingga berumur 18 bulan. Dalam satu kali kehamilan biasanya terdapat satu bayi. Akan tetapi dalam beberapa kasus didapati juga gajah melahirkan hingga dua bayi.
Dapat dikatakan jarak waktu antar kehamilan antara satu dengan berikutnya sekitar 4 sampai dengan 4,5 tahun. Karena diketahui anak gajah akan menyusu selama 2 tahun dan hidup dalam pengasuhan selama 3 tahun.
Soal kepunahan gajah dilihat dari masalah reproduksi hewan itu menurut Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV BBKSDA Riau Azmardi sangat beralasan dan tidak berlebihan.
Adapun alasannya, lanjut dia, terjadinya ketidakseimbangan populasi terlebih antara gajah yang mati dan hidup.
“Bayangkan, untuk lahirnya seekor gajah harus menunggu 6-7 tahun. Hamil 22 bulan, lalu menunggu tiga tahun membesarkan anak. Begitulah kondisinya. Inilah yang terus kita jaga di lokasi lapangan,’’
terangnya serius kepada awak media.
Dari pemaparan ini dapat dibayangkan, betapa mahalnya nilai konservasi bila ditemukan seekor gajah mati sia-sia seperti terkena jerat, sengaja diracun, perburuan liar. Karena untuk menunggu gajah betina mulai dari masa kehamilan hingga melahirkan membutuhkan waktu lama.
Apalagi lagi tidak ada jaminan bahwa anak gajah yang baru lahir itu bisa bertahan hidup hingga dewasa untuk selanjutnya berkembangbiak menyusul kian tergerusnya lahan tempat mencari makan kawanan hewan lucu tersebut.
Lantas timbul pertanyaan menggelitik bagaimana dengan status konservasi gajah Sumatera dalam sistem hukum di Indonesia? Ya termasuk satwa yang dilindungi oleh UU No.5 tahun 1990 dan PP 7/1999.
Sementara itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Peraturan Menteri (Permen) No.106/Menlhk/Setjen /Kum.1/12/2018 gajah ditetapkan sebagai satwa dilindungi.
Perlindungan diberikan karena ancaman terhadap kelangsungan hidupnya semakin besar. Ancaman terbesar datang karena rusaknya habitat karena berebut dengan lahan perkebunan dan pertanian. Sehingga sering kali terjadi konflik dengan manusia. Ancaman lain karena perburuan untuk diambil gadingnya.
Sayang beribu kali saying bak kata pepatah “Jauh panggang dari api” itupula dengan nasib gajah. Patut diduga lemahnya pelaksanaan hukum di lapangan membuat hutan sebagai habitat gajah terus tergerus.
Ditengarai ini menyusul meningkatnya pertumbuhan manusia, pembangunan dan pengalihan fungsi hutan menjadi perkebunan dan sebagainya.
Bukan Impian Semusim
Lantas timbul pertanyaan apakah konflik antara gajah versus manusia bisa berakhir. Paling tidak diminimalisir mengingat rusaknya habitat hewan tersebut? Atau sekedar mimpi semusim yang tiada bertepi?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut awak media ini mewawancarai sejumlah pihak yang dinilai berkompten serta memiliki korelasi dengan permasalahan terbilang menarik ini.
Sebagai nara sumber pertama www.temporiau.com melakukan wawancara dengan pendiri Riau Satwa Foundation (RSF) Zulhusni Syukri, Jumat (14/6) malam.
Menurut penggiat gajah ini salah satu pemicu terjadinya konflik antara manusia dengan gajah dipicu menyempit lahan tempat mencari makan hewan itu karena alih fungsi hutan menjadi perkebunan, pemukiman dan sebagainya.
“Disisi lain, gajah sudah terbiasa mencari makan di daerah pelintasannya yang sering disebut homerange. Nah saat lewat sudah beralih fungsi, disi lain mereka butuh makan,” terangnya.
Lantas apa solusi dari permasalahan itu? Selain menjaga lahan sekitar 350 hektar di
SM Balai Raja maka agroforestri merupakan solusi bernas mengatasi persoalan tersebut, karena mengingat begitu luasnya dan masif alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan pemukiman.
Istilah agroforestri sendiri berasal dari kata serapan bahasa inggris yakni agro berarti pertanian dan forestry berarti kehutanan.
Sistem agroforestri di Indonesia juga dikenal dengan istilah wanatani. Wanatani gabungan dari dua kata yakni “wana” dan “tani” yang berarti hutan tani.
Sistem agroforestri sudah banyak diterapkan di berbagai wilayah Indonesia dengan istilah lokal yang melekat padanya.
Khusus untuk penanganan konflik manusia dengan gajah maka agroforestri adalah solusi bernas.
Ya, sepanjang pelintasan jalan gajah yang berdekatan dengan perkebunan masyarakat maka ditanami pepohonan yang tidak disukai hewan itu sebut saja petai, jengkol, coklat, kopi , kemiri, cabe, nilam, gaharu dan sebagainya.
Sebaliknya di daerah peristirahatan hewan bongsor itu ditanami tumbuhan atau tanaman yang disukainya sebut saja pisang-pisangan, bambu, rerumputan dan sebagainya.
Semudah itu? Tentu tidak. Manager Elephant Program RSF Git Fernando kepada temporiau.co.id menjelaskan untuk mengetahui kebiasaan atau titik dimana gajah itu kerap beristirahat datanya diperoleh dari Global Positioning System (GPS) yakni sistem navigasi berbasis satelit yang terdiri dari setidaknya 24 satelit. GPS berfungsi dalam segala kondisi cuaca, di mana pun di dunia, 24 jam sehari.
Untuk gajah liar yang berada di katong-kantong yang dikontrol RSF meliputi SM Balai Raja, GSK dan Petapahan maka tujuh dipasang GPS diantaranya merupakan pemberian PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) yakni Codet, Seruni, Bara, Ambita, dan Nae.
“Dengan teknologi GPS kita dapat memantau pergerakan gajah-gajah liar ini dan dapat memperkirakan lokasi yang akan mereka tuju. Dari kebiasaan dimana mereka beristirahat maka kita jadikan titik penanaman tumbuhan yang disukainya,” pungkasnya.
Dengan data dari GPS, lanjutnya, dilakukan analisa titik gajah suka istirahat ketika mereka berjalan dari GSK ke SM Balai Raja.
“Lalu disepakati dengan masyarakat dimana titik pengayaan makan bagi pelintasan gajah dengan pertimbangkan jauh dari perkebunan masyarakat,” terangnya.
Menariknya, Git Fernando mengatakan pola itu ibarat rest area di jalan tol. Jadi ketika gajah melintas di sekitar perkebunan masyarakat dipastikan hewan itu tidak merusak karena ditanami tumbuhan yang tidak disukainya.
Lantas bagaimana gajah itu untuk segera ketitik lokasi peristirahatannya? Git Fernando menjelaskan disekitar titik itu digali tanah dan dicampur dengan 200 kilogram garam dengan 2 kilogram mineral.
Melalui penciuman yang terbilang tajam
gajah terus berjalan untuk menghampiri adukan tersebut, karena binantang besar ini diketahui sangat menyukai garam untuk menguatkan gading, tulang dan sebagainya.
“Untuk mendorong agar gajah lebih cepat ke tempat peristirahatannya maka campuran 200 kg garam dan mineral itu sangat efektif. Dengan sendirinya hewan tidak memiliki kesempatan untuk mencari makan di areal perkebunan warga sudah ditanami tanaman yang tidak disukainya sementara campuran garam tadi segera mengundangnya ke tempat peristirahatan yang menjadi tempat kesukaannya,” papar Git Fernando.
Terkait kesukaannya terhadap garam, Direktur RSF Zulhusni Syukri menjelaskan hewan tambun itu diketahui menyukai minyak, beras dan yang tidak diduga suka dengan mie instan.
“Jadi, kalau ada kabar bahwa pondok petani dirusak, gajah itu sebenarnya itu mencari garam, minyak atau beras yang ada di dalam pondok. Karena badannya besar maka mau tidak mau merusak bangunan,” terangnya tertawa kecil.
Dalam sejumlah pertemuan dengan warga, dia dan sejumlah kru RSF mengingatkan kepada warga untuk menutup rapat-rapat beras, minyak dan garam dengan plastik. Sementara kemasan mi instan jangan dibuang sembarangan.
“Ya, karena penciumannya sangat tajam dan suka terhadap barang-barang itu maka kami mengingatkan warga untuk menempatkan atau menyimpan ketempat yang tidak tercium gajah,” terangnya tersenyum.
Saat wawancara dengan www.temporiau.co kedua pentolan Rimba Satwa Rimba Foundation (RSF) berganti-gantian notabene suasana terbilang cair karena sesekali diselingi joke-joke segar dan yang tidak kalah penting informasi yang diperoleh sangat beragam.
Kembali ke Git Fernando, dia menjelaskan bahwa -di daerah pelintasan di lahan hutan konservasi PT Kojo ditanami makanan kesukaannya seperi pisang-pisang, bambu, nangka, rumput odot (pennisetum purpureum) yang diketahui Selain untuk perbaikan habitat, penanaman rumput juga berfungsi untuk menambah volume tumbuhan yang menjadi pakan gajah. dan sebagainya.
“Ini sudah terbukti di makan gajah dan hewan tidak keluar dari jalur biasanya saat menuju hutan konservasi PT Kojo,” tambahnya.
Ya, seperti dikemukakan tadi konsep ini nyaris seperti rest area jalan tol. Paling tidak ketika gajah istirahat di hutan konservasi PT Kojo dan menuju ke hutan Talang notabene diketahui ada wilayah tempat dia beristirahat namanya Sungai Manding.
“Disana juga melakukan hal yang sama yakni mencampur garam dan mineral yang berfungsi sebagai pendorong agar gajah segera menuju tempat peristirahatan. Jadi tidak ada kesempatan mereka untuk memasuki perkebunan masyarakat,” terangnya.
Sementara dari wilayah Muara Basung di Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis menuju Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil (GSK) lazimnya seperti rest area jalan tol hanya saja ini lokasi istirahat gajah juga dibuat.
“Saat ini baru ada empat titik. Ke depan tidak tertutup kita tambah lagi,” terangnya.
Lantas seberapa efektif program agroforestri yang diaplikasikan seperti model rest area jalan tol itu? Untuk menjawab pertanyaan itu www.temporiau.com melayangkan konfirmasi tertulis kepada Manager CSR PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan Pinto Budi Bowo Laksono.
Menurut Pinto –sapaan akrab Budi Bowo Laksono, red- gajah diketahui memiliki sejumlah pohon atau tanaman yang tidak disukainya notabene ini bisa dijadikan sebagai penghambat atau pencegah binatang itu ke perkampungan.
Selanjutnya tanaman atau pohon jenis yang tidak disukai gajah itu disosialisasikan ke masyarakat.
Tanaman itu, lanjut Pinto, difungsikan untuk menghambat atau menjadi barrier yaitu tanaman berduri seperti jeruk dan lemon yang ditanam cukup rapat.
Namun hal ini belum dilaksanakan, dan sejauh ini hanya tanaman yang tidak disukai atau tidak dirusak oleh gajah yang sudah ditanam bersama masyarakat diantaranya tanaman jengkol, petai, durian, dan gaharu.
“Hal ini sudah disosialisasikan kepada
masyarakat, dan telah dilakukan penanaman seluas 225 hektar dengan jumlah bibit sebanyak 32.500 batang,” terang Pinto kepada media ini, Senin (1/7).
Masih kata dia, program agroforestri itu program dimana mengkombinasikan antara tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian yang mendukung program pemerintah dalam pengembangan program kehutanan di dalam kawasan hutan atau dalam konteks di area non hutan.
“Dari sisi pemerhati gajah, sistem ini diharapkan sebagai alternatif masyarakat dalam meningkatkan ekonomi secara berkelanjutan, memperkuat strategi ketahanan pangan dan memperkuat aspek mitigasi konflik gajah – manusia dengan menggunakan jenis tanaman yang tidak disukai gajah,” paparnya.
Dalam mengimplementasikan program ini terlebih untuk gajah Sumatra, lanjut dia, bekerjasama dengan Rimba Satwa Foundation (RSF) sejak 2020 dan lembaga itu termasuk pioner untuk kegiatan tersebut.
Oleh karena itu, kata Pinto, basis dari program agroforestri pengembangan pola ruang gajah – manusia yang menghasilkan peta zona pengelolaan yang disepakati semua pihak dari pemerintah, perusahaan dan masyarakat.
“Mereka tanda tangan kesepakatan itu di peta lalu diimplementasikan. Zona netral atau area yang memang diperuntukkan untuk jenis tanaman yang tidak disukai gajah, ditanam di area itu bersama-sama dengan petani masyarakat memalui sistem agroforestri,” terangnya.
Lalu apa kekuatan program itu? Pinto pun menjelaskan bahwa masyarakat masih relatif konsisten untuk strategi ini. Jika ini berhasil, strategi mitigasi konflik dimana mendorong gajah terkonsentrasi di area-area yang banyak sumber dayanya seperti makanan dan kebutuhannya akan berhasil dengan mengkombinasikan antara pembinaan habitat di area-area peruntukan gajah, dan area atau zona netral.
“Dengan sendirinya diharapkan gajah tidak banyak aktivitas di area itu dengan mengurangi penggunaan barrier fisik,” terangnya.
Lebih jauh Pinto menjelaskan bahwa program tersebut sudah diaplikasikan di Desa Pinggir, Desa Semunai, Desa Buluh Manis, Kelurahan Balairaja dan Kelurahan Pematang Pudu. Masyarakat diberi bibit dan pupuk, serta penyuluhan teknik agroforestri.
Keunggulan lain program itu, lanjut Pinto, yakni mengkombinasikan pembinaan habitat gajah notabene agroforestri perlu dikembangkan di semua area kerja PT PHR secara baik, ini selain membantu program kehutanan di area kawasan hutan.
“Program ini juga mendorong peningkatan penyerapan karbon selain pengurangan konflik gajah – manusia, sebagai media untuk strategi koeksistensi yang smooth dan pastinya akan meningkatkan ketahanan pangan melalui diversifikasi produk,”
ingatnya.
Ya, Pinto berharap program-program konservasi yang dilaksanakan PT PHR dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
“Sebagai bentuk komitmen nyata, PHR bersama BBKSDA dan RSF telah memasang 5 unit GPS Collar untuk mengantisipasi konflik antara gajah dan manusia. Selain itu, lebih dari 32.500 pohon agroforestri ditanam di area perlintasan gajah seluas 225 hektar di Provinsi Riau,” katanya.
Pinto menambahkan, bahwa upaya pemantauan yang dilakukan PHR dapat mengetahui pergerakan gajah secara real time, melalui sabuk GPS collar yang dikalungkan tersebut.
Dengan demikian potensi konflik gajah dan manusia dapat dimitigasi lebih dini. Sementara itu, kamera pengintai dipasang di sejumlah titik di kawasan perlintasan gajah guna memberikan informasi visual.
“Upaya yang kami lakukan pada intinya untuk menggugah dan mengajak partisipasi masyarakat untuk berbagi pola ruang terhadap satwa yang dilindungi tersebut,” ujar Pinto.
Sebelumnya Corporate Secretary PT PHR Rudi Ariffianto kepada sejumlah media termasuk www.temporiau.co mengatakan, program agroforestri itu dilakukan di lahan seluas 234,5 hektar yang meliputi 32 desa di dua kantong populasi gajah di hutan Giam Siak Kecil, Kabupaten Siak dan Balairaja Kabupaten Bengkalis. Sekitar 75 KK warga pemilik lahan di lokasi-lokasi tersebut ikut ambil bagian karena sadar akan pentingnya konservasi itu.
Ia menambahkan, inisiatif program agroforestri memiliki manfaat yang multi dimensi. Selain mendukung pengurangan jejak karbon melalui penanaman pohon, menjaga keanekaragaman hayati, memberdayakan ekonomi masyarakat, juga memperbesar ruang di mana gajah dapat diterima oleh masyarakat.
Secara luas, kata dia, program agroforestri merupakan implementasi kerjasama PHR dengan Rimba Satwa Foundation (RSF) untuk mengembangkan pembibitan pohon-pohon yang bernilai ekonomi tinggi namun rendah gangguan gajah. Antara lain alpukat, durian, petai, jengkol, matoa dan kakao. Sedangkan jenis tanaman untuk pakan gajah antara lain rumput odot, pohon-pohon ini ditanam di area home range atau perlintasan gajah.
Lantas bagaimana dengan dukungan masyarakat terhadap program itu? Dijelaskannya masyarakat sangat mendukung terlebih yang memiliki lahan di perlintasan gajah.
“Dengan demikian ruang-ruang yang berpotensi konflik akan mengecil,” ingatnya.
Diketahui 32 desa menjadi bagian dari kepedulian terhadap gajah Sumatera. Ya, program Agroforestri menjadi salah satu ‘penengah’ konflik gajah dan manusia.
Bisa dikatakan masyarakat telah memahami apa itu konsep konservasi gajah kolaborasi PT PHR, BBKSDA Riau dan RSF dengan jalan ikut menjaga pelestarian alam dan hewan dilindungi yang eksistensinya diambang kepunahan.
Dijelaskannya, diketahui terdapat sekitar 75 individu gajah sumatera di tiga kantong populasi yang bersinggungan langsung dengan daerah operasional PT Pertamina Hulu Rokan, diantaranya kantong populasi Balairaja, Giam Siak Kecil dan Minas-Petapahan dengan cakupan area seluas lebih 195.322 hektar.
“Dengan program yang dimulai 2021 ini maka wilayah areal perusahaan dan masyarakat tidak terusik. Disisi lain kelestarian gajah terjaga,” pungkasnya.
Oleh karena itu, salah satu upaya dilakukan PT PHR bekerjasama dengan pihak ketiga
diantaranya Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan Rimba Satwa Foundation (RSF) dalam penanganan konservasi gajah dan pencegahan konflik antara gajah dan manusia.
Dibagian lain Manager CSR PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan Pinto Budi Bowo Laksono mengatakan selain program agroforestri maka salah satu kiat meminimalisir konflik gajah dengan manusia salah satunya pemasangan Global Positioning System (GPS) Collar -informasi diterima media ini dari berbagai sumber menyebutkan harga satu kalung GPS mencapai 5.000 Dollar AS, red-
Melakukan pemasangan GPS Collar pada gajah liar, lanjut dia, sebagai sistem peringatan dini kepada masyarakat upaya mitigasi konflik antara gajah dan manusia termasuk melakukan patroli.
“Pemasangan GPS collar bertujuan untuk memudahkan penanganan konflik, dan membantu mendeteksi dini peluang interaksi negatif untuk masyarakat yang tinggal dan berada di sekitar jalur pergerakan gajah,” terangnya.
Masih kata dia, alat tersebut merupakan pelacak berbasis sistem navigasi satelit yang dapat memantau pergerakan gajah. Biasanya dipasangkan pada gajah liar seperti induk gajah betina pemimpin kelompok, gajah jantan dewasa, dan gajah translokasi akibat konflik atau menyimpang jalur.
Lalu seberapa efektif data-data yang dihasilkan GPS Collar yang telah dipasang sebanyak 5 unit kepada gajah? Ya data itu, jelas Pinto Budi Bowo Laksono, selanjutnya dianalisis sebagai perencanaan kedepan.
“Dengan adanya peringatan dini, setidaknya 156 konflik teratasi dari 178 konflik yang terjadi selama ini,” terangnya.
Masih kata dia, imbas positif dari program konservasi gajah dengan pendekatan agroforestri ini berhasil mengatasi setidaknya 352 interaksi negatif gajah dengan manusia, mendata dan memusnahkan 193 jerat dan melakukan penanaman 34.020 tanaman agroforestri di lanskap koridor Balairaja dan Giam Siak Kecil yang membentang dari Kabupaten Siak hingga Bengkalis.
Sementara itu direktur RSF Zulhusni Syukri menjelaskan pemasangan tiga GPS itu, dilakukan sejak 21 Januari 2023 hingga 2 Februari 2023. Namun, sebelum dipasang, pihaknya terlebih dahulu melakukan beberapa tahapan seperti sosialisasi dan edukasi manfaat GPS Collar kepada perwakilan para pihak dan masyarakat yang sering dilalui gajah liar.
Melengkapi tiga unit yang sebelumnya sudah ada dua unit (operator lama, red) maka terpasang 18 unit kamera pengintai (camera trap).
Kedua piranti canggih memiliki fungsi berbeda, kalung GPS yang dipasangkan di leher gajah, misalnya, berfungsi untuk memonitor pergerakan kawanan gajah melalui satelit. Sehingga potensi konflik dengan manusia dapat dimitigasi secara dini.
Selain itu, alat tersebut dapat memberikan data awal sebagai dasar penghitungan perkiraan berat badan gajah.
Lalu apa fungsi kamera pengintai? Ya teknologi muhtahir ini dipasang di kawasan perlintasan gajah berguna memberi informasi secara visual. Sehingga berperan penting dalam menganalisa data di lapangan notabene bisa mengambil keputusan yang cepat dan tepat.
Dengan adanya dua alat canggih itu penanganan konflik gajah dan warga semakin membaik terlebih didua kantong Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja dan Giam Siak Kecil (GSK).
Paling tidak, kata Zulhusni Syukri, sebelum dipasang GPS Collar terkadang mereka kecolongan, kok bisa? Ya tatkala berjaga hingga malam bahkan dini hari ternyata kehadiran hewan tambun itu subuh hari.
Namun dengan menggunakan GPS Collar maka alat itu per 2 jam akan mengirimkan signal penentu kordinat notabene ketika kawanan hewan tambun itu akan melintas masyarakat sudah bersiap siaga dan menjauhkan dari pemukiman atau perkebunan.
Ya, posisi gajah yang diperoleh melalui GPS , diinformasikan melalui media sosial (Medsos) diantaranya via WhatsApp Grup (WAG). Berangkat dari sini informasi pun sambung menyambung dari satu individu ke lainnya.
Dengan adanya GPS ini, sambung Zulhusni, konflik gajah versus manusia menurun drastis, hingga 90 persen. Setidaknya, masyarakat bisa bernapas lega terlebih saat meninggalkan kebun atau hendak keluar kota.
Ibarat peribahasa sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui itupula dirasakan RSF. Disatu sisi konflik gajah dan manusia turun disisi lain masyarakat terlebih di wilayah pelintasan gajah kian mempercayai dan menerima lembaga itu.
Lalu solusi macam apa agar konflik gajah dan manusia diminimalisir selain dengan program agroforestri dan pemasangan GPS Collar? Zulhusni Syukri berpendapat maka berbagi ruang adalah solusi lainnya agar tercipta harmonisasi itu.
“Kita ketahui gajah terlebih dahulu ada atau menempati hutan-hutan yang kini beralih fungsi menjadi perkebunan atau pemukiman maka hutan yang tersisa kita jaga bersama-sama,” ingatnya.
Rusaknya habitat gajah itu, lanjut Zulhusni Syukri, selain berdampak terhadap ancaman kepunahan gajah juga mempengaruhi pola kebiasaan atau habit hewan itu.
“Yang tadinya biasa melintas empat bulan sekali karena pelintasan tradisional mereka sudah berubah maka waktu lewat atau home range seperti jam itu terganggu. Ini disebabkan mereka mengindari beberapa titik sebelum ke wilayah tujuan,” terang Zulhusni Syukri sembari menambahkan bahwa banyak diantara masyarakat membeli lahan di wilayah pelintasan gajah. “Baru tahu kalau sudah ada kejadian,” terangnya.
Kendati begitu Zulhasni Syukri menjelaskan, usaha memulihkan kondisi hutan mendekati kondisi awalnya atau restorasi dengan strategi agroforestri disupport masyarakat.
“Kita optimis program agroforestri memiliki harapan besar dapat membantu ekonomi masyarakat yang telah terlanjur hidup di perlintasan gajah sumatera. Disisi lain bisa mengurangi konflik,” terangnya.
Setali tiga uang, pendiri Yayasan Pelestarian Harimau Sumatera (YPHS) Bastoni mengatakan berbagi ruang adalah solusi terbaik untuk menengahi konflik antara gajah dengan manusia.
“Gajah sebagi hewan liar maka mereka hanya butuh tiga komponen dasar yakni air, makanan fan habitat. Dari ketiga ini hanya yang terakhir bisa dimodifikasi. Salah satunya melalui mau berbagi ruang,” pungkasnya kepada awak media ini.
Manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, sambung pria yang telah puluh tahun menghabiskan usianya pelestarian hewan liar itu mengingatkan, manusia yang bisa memikirkan hal itu karena dilengkapi empati, perasaan, akal, hati dan empati, hati.
“Kehadiran gajah dan lain-lainya berguna dan manfaat bagi manusia sebagai khalifah (pemimpin atau utusan, red) Tuhan di muka bumi. Jadi semuanya ada di tangan kita,” tegasnya.
Bastoni juga mengingatkan kesadaran kolektif sangat penting dalam kerangka menjaga gajah dari kepunahan.
“Masih adanya hutan yang tersisa maka dioptimalkan dengan jalan siap berbagi ruang dengan gajah terlebih bagi perusahaan yang memiliki lahan konservasi besar. Sebab, kalau dirunut, kan, gajah duluan yang berada di hutan?” katanya setengah bertanya.
Dapat dikatakan hidup harmoni antara gajah dengan manusia bukan sebuah mimpi yang tiada bertepi. Namun bisa terwujud andai saja manusia arif bijaksana dan memahami perannya bahwa mereka adalah mahluk paling mulia yang ada di kolong jagat. Karena gajah dan hewan lainnya hidup untuk makan, tak lebih? Ya, semua inisiatif ada di tangan bani Adam.
Berbuah Manis
Seperti dikemukan tadi Suparto –mungkin- masyarakat lainnya menganggap gajah tak lebih hama ata momok menakutkan bagi mereka gara-gara merusak kebun bahkan rumah. Entah berapa kerugian yang mereka derita akibat datangnya tamu tak diundang berbelalai panjang itu.
Namun perlahan tapi pasti mindset pria yang juga sekretaris Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya Desa Pinggir dan warga lainnya berubah 180 derajat. Kini sebaliknya mereka berusaha agar populasi gajah tidak punah dan menjaga kelestarian alam. Disisi lain lahan pertanian mereka sebagai menyambung hidup tetap terjaga tentu ini sangat menarik ditelusuri
Adalah Suparto kepada awak media ini menuturkan bahwa kali pertama bersentuhan dengan RSF melalui diskusi, pertemuan dan sebagainya saat berada di kebun memiliki rasa kuatir jika kebun milik mereka akan dijadikan hutan kembali.
“Ya, ada ras was-was juga, apalagi dalam diskusi dibicarakan masalah gajah dan sebagainya,” ujar ayah dua putri ini dibalik telpon selulernya, Jumat (26/7).
Namun kekuatiran itu tidak beralasan. Pasalnya, sambung pria itu, perlahan tapi pasti dalam penyuluhan dirinya menyimpulkan bagaimana gajah tetap hidup. Disisi lain mereka (baca: warga) bisa menjalankan kehidupan sehari-hari secara normal tanpa was-was kebun mereka dirusak gajah.
Belakangan, sambung Suparto, mereka baru mengetahui bahwa yang ditawarkan RSF dan PT PHR adalah program agroforestri. Namun agar lebih efektif mereka disarakan untuk membentuk kelompok tani hutan.
“Karena sering mendapat penyuluhan dan sebagainya, ya, akhirnya saran RSF untuk membentuk kelompok tani kami ikuti. Apalagi itu untuk kebaikan kami. Sekitar 25 Januari 2021 Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya dengan beranggotakan 13 Kepala Keluarga (KK),” terang Suparto seraya menambahkan bahwa kebun miliknya seluas 2 hektar terletak di Kampung Bohorok, Desa Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
“Kini kebun kami ditanami pohon atau tumbuhan yang tidak disukai gajah seperti petai, jengkol, gaharu, matoa, coklat dan durian melalui tumpang siri dengan karet.
Sementara untuk pakan gajah kami melakukan pembudidayaan rumput odot selanjutnya kami pindahkan atau tanam disekitar pelintasan gajah yang titik-titik sudah ditentukan,” tambahnya.
Namun program yang paling berkesan dari sentuhan dengan RSF dan PT PHR, kata Suparto, adalah timbulnya kesadaran bahwa pada dasarnya gajah bukanlah hama. Namun sebaliknya penyeimbang ekosistem alam agar tetap lestari dan terjaga.
“Waktu kami berpendapat bahwa gajah itu hama para petugas malah sebaliknya bertanya siapa yang lebih dulu manusia atau gajah? Setelah terus dilakukan pertemuan. Ya akhirnya kami sadar bahwa pendapat itu tidak benar,” terangnya.
Alih-alih kesadaran kolektif timbul pada diri mereka bahwa warga tidak ingin suatu saat anak cucu mereka tahu gajah dari gambar atau cerita dari mulut ke mulut pengantar sebelum tidur.
“Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi kepada generasi selanjutnya. Apalagi gajah di Sumatera hanya terbatas tentu harus kita jaga kelestariannya,” ungkap Suparto arif.
Kesadaran kolektif yang dirasakan Suparto dan kelompok taninya bersama warga lainnya tidak semudah telapak tangan. Paling tidak banyak onak yang yang harus ditempuh RSF saat melakukan edukasi.
Bagaimana jalan terjal yang harus ditempuh dituturkan Direktur Rimba Satwa Foundation (RSF) Zulhusni Syukri kepada awak media termasuk temporiau.co saat mengunjungi kantornya, Jumat (14/6) malam di Jalan Kayangan, Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.
Penolakan itu, kata Husni – panggilan akrab Zulhusni Syukri, red- sebagain besar warga menuding lembaga yang dipimpinnya hanya mempedulikan gajah dengan mengabaikan kebun mereka. Disisi lain mereka perlu makan atau hidup.
“Ketika melakukan edukasi ke warga atau masyarakat banyak mendapat penolakan. Ya, karena dianggap lebih memperhatikan gajah yang mereka anggap hama. Sedangkan warga dengan segala permasalahannya diabaikan. Padahal, kan tidak. Yang kita harapkan adalah berbagi ruang antara gajah dan manusia salah satunya melalui program agroforestri,” ingatnya.
Masih kata dia, penolakan itu datang dari pemilik lahan, masyarakat desa di perlintasan gajah termasuk penjaga lahan kebun sawit.
Lantas apa alasan melakukan penolakan? Ya salah satu alasan penolakan itu mereka trauma gara-gara sebelumnya ada sejumlah orang mendatangi mereka hanya mengambil foto tanpa memberi solusi menyusul hewan tambun yang lalu lalang di lahan atau areal pemukiman mereka.
Penolakan itu tidak hanya sebatas pengusiran, puncaknya salah satu diantara penggiat gajah diikat bahkan mobil mereka nyaris dibakar.
“Pernah diikat bahkan mobil nyaris dibakar. Bahkan dibawa parang (senjata tajam pajang yang biasa dibawa petani ke kebun, red). Meski mendapat perlakukan kurang menyenangkan bahkan bisa dikatakan mencekam tapi kita tetap melakukan. Bahkan sebaliknya yang dulu antipati kini mendukung penuh program,” ungkap Manager Elephant Program RSF Git Fernando angkat bicara tersenyum kecil mengingat peristiwa di luar dugaan mereka.
Dapat disimpulkan untuk melakukan kesadaran kolektif kepada publik www.temporiau.co menilai seolah-olah ada pembagian edukasi terhadap masyarakat antara RSF, PT PHR dan BBKSDA Riau.
Jika RSF melakukan dedukasi kepada warga di wilayah pelintasan gajah lalu bagaimana dengan PT Pertamina Hulu
Rokan (PHR)?
Manager CSR PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan Pinto Budi Bowo Laksono kepada awak media ini menjelaskan bahwa melalui Rimba Satwa Foundation (RSF), pemberian pemahaman telah dilakukan dengan cara penyuluhan dan pendampingan masyarakat yang tinggal di sekitar jalur perlintasan gajah oleh tim patroli gajah.
“Kemudian kita melakukan penyuluhan terhadap karyawan-karyawan PT PHR terutama yang bekerja di area operasional yang bersinggungan langsung dengan area perlintasan gajah, serta melakukan penyadaran ke sekolah-sekolah dalam program conservation goes to school,” katanya.
Khusus program conservation goes to school, lanjut Pinto Budi Bowo Laksono, bertujuan memberi edukasi dikalangan pelajar pentingnya menjaga kelestarian alam termasuk gajah.
Apa yang dilakukan PT PHR itu diaminkan Direktur Direktur Rimba Satwa Foundation (RSF) Zulhusni Syukri bahkan dalam momen-momen tertentu lembaga yang dipimpinnya bersama sponsor atau pihak ketiga menggelar acara pengenalan kepada calon generasi penerus bangsa menyusul pentingnya menjaga lingkungan terlebih kelestarian gajah.
“Ya, sikap peduli dan cinta terhadap lingkungan hidup termasuk pelestarian terhadap gajah seyogianya ditanam dari usia dini. Sehingga ketika tumbuh kembang dan beranjak dewasa sikap itu mewarnai pola pikir mereka bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan hidup termasuk hewan yang dilindungi adalah penting,” tegasnya.
Sementara Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas dibawah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau merupakan tempat yang strategis untuk dikembangkan menjadi objek wisata khususnya untuk wisata edukasi gajah. Karena PLG Minas Mempunyai jarak tempuh yang cukup dekat dengan pusat kota Pekanbaru yakni 60 Km.
Dengan lokasi yang strategis ini diharapakan PLG Minas menjadi salah satu objek wisata yang berbasis alam di Riau.
Sejumlah kalangan menilai keberadaan PLG Minas sangat penting untuk mengetahui pola hidup dan karakter gajah. Disisi lain dengan adanya pengenalan terhadap hewan yang dilindungi itu diharapkan akan menimbulkan rasa sayang yang berujung kepada kepedulian publik terhadap gajah.
Kolaborasi antara PT PHR, RSF dan BBKSDA Riau disambut positif oleh pemerhati lingkungan dan pembangunan Kota Dumai Syahrul Adli, menurut aktifis ini sudah saatnya NGO, dunia swasta terlebih BUMN dan pemerintah termasuk masyarakat bahu membahu mengatasi persoalan gajah.
“Kedepan kita harapkan lebih banyak yang terlibat, karena habitat gajah tergerus atau beralih fungsi terbilang kritis maka semua pihak bahu membahu mengatasinya. Sebab, gajah adalah warisan dunia untuk generasi mendatang,” ingatnya.
Seperti kata orang bijak “man jadda wa jadda: menegaskan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. Ya, atas prakarsa dan kepedulian PT PHR menyusul konservasi gajah dan turunannya sejumlah kalangan memberikan apresiasi kepada perusahaan plat merah yang lahir 20 Desember 2018. Penghargaan itu pun datang dari lokal maupun internasional.
Untuk lokal, misalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis melalui Wakil Bupati (Wabup) Bagus Santoso menganugerahkan penghargaan berupa CSR Award 2023 karena perusahaan itu dinilai berhasil dalam bidang pemberdayaan dan
pelestarian ekosistem endemik pemulihan habitat gajah di wilayah operasinya.
“Kita memberikan apresiasi kepada PT PHR atas program pemberdayaan dan pelestarian ekosistem endemik pemulihan habitat gajah di wilayah operasinya. Oleh karena itu bersama kita bangun serta ciptakan perubahan positif yang lebih besar dalam masyarakat kita, serta memastikan kepada masyarakat bahwa warisan yang kita tinggalkan adalah warisan kebaikan,” kata Wabup Dr H Bagus Santoso MP Senin (6/11/2023).
Sedangkan untuk nasional, Wakil Menteri KLHK Alue Dohong memberikan apresiasi saat mengunjungi booth PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) bersama Rimba Satwa Foundation (RSF) di Pekan Keanekaragaman Hayati atau World Species Congress 2024 2024, Gedung Manggala Wanabakti KLHK, 15-17 Mei 2024 di Jakarta.
PT PHR dan RSF memamerkan program-program konservasi yang sukses dilaksanakan di area operasi WK Rokan.
Beberapa program yang diunggulkan termasuk program konservasi gajah seperti, agroforestri dan pemantauan gajah berbasis satelit. Saat pameran tersebut, booth PHR-RSF dikunjungi oleh Wakil Menteri (Wamen) KLHK Alue Dohong Phd.
Ia sempat berdialog dan mengapresiasi upaya konservasi lingkungan yang dilaksanakan PHR-RSF. Wamen KLHK kagum akan program mitigasi konflik gajah dan manusia berbasis satelit serta bagaimana PHR memobilisasi masyarakat melalui pelaksanaan program agroforestri di Provinsi Riau.
“Bagus sekali program konservasinya. Saya sampaikan terima kasih atas support dan kerja sama PHR dan RSF untuk menyelamatkan gajah di Riau,” ujar Alue Dohong.
Direktur RSF Zulhusni Syukri mengatakan, bahwa kerja sama yang dilaksanakan RSF bersama PHR merupakan komitmen bersama untuk menyelamatkan habitat gajah Sumatera. “Kami yakin dengan kolaborasi, kita dapat mengatasi konflik antara gajah dan manusia, serta memulihkan fungsi hutan lewat program agroforestri. Kami bangga bisa turut berpartisipasi dalam Pekan Keanekaragaman Hayati 2024 dengan dukungan PHR, agar bisa terus berinovasi dan berkontribusi untuk lingkungan,” ujarnya.
Partisipasi PT PHR dalam Pekan Keanekaragaman Hayati 2024 tersebut merupakan bukti nyata komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia.
Selain kalung GPS, PT PHR juga menyumbangkan 18 unit kamera pengintai (camera trap) yang diletakkan di berbagai lokasi strategis di habitat gajah. Kalung GPS yang dipasangkan di leher gajah berfungsi untuk memonitor pergerakan kawanan gajah melalui satelit dan memberikan data lokasi keberadaan kelompok gajah.
Corporate Secretary PHR WK Rokan Rudi Ariffianto mengatakan bahwa PT PHR berkomitmen untuk terus menjalankan program-program pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
“Apresiasi dan penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kinerja dan komitmen dalam menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Ditambahkannya PT PHR yakin bahwa sinergi dan kerjasama dengan semua stakeholder menjadi kunci untuk mencapai tujuan mulia ini.
“Kami berharap dukungan dari semua pihak akan terus mengalir sehingga PHR dapat terus berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi sekarang dan masa depan,” pungkasnya.
Sebelumnya PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menorehkan prestasi gemilang dan membanggakan di kancah internasional. Program Konservasi Gajah Sumatera yang dijalankan PT PHR meraih penghargaan bergengsi Green World Environment Awards 2024 sebagai Global Winner untuk kategori Fuel, Power & Energy/Conservation & Wildlife Projects.
Pencapaian global tersebut diraih PT PHR berkat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berfokus pada pelestarian habitat gajah dan mengatasi konflik terhadap manusia.
Pencapaian ini merupakan bukti nyata komitmen PHR dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya melindungi gajah Sumatera yang terancam punah. PHR WK Rokan merupakan satu dari 25 perusahaan penerima penghargaan dari total 500 kompetitor lain dalam penghargaan untuk praktik terbaik lingkungan dari seluruh dunia.
Penganugerahan tersebut diserahkan CEO The Green Organization Robert Wolen dan diterima oleh Manager Corporate Social Responsibility (CSR) PT PHR WK Rokan Pinto Budi Bowo Laksono di Sao Paolo, Brasil, Senin (25/3/2024).
“Kami bersyukur atas pencapaian ini, penghargaan Green World Environment Awards yang kami diterima PHR dapat memotivasi kami untuk berkontribusi lebih baik lagi pada konservasi lingkungan di mana PT Pertamina Hulu Rokan beroperasi,” kata Pinto.
Masih kata dia, penghargaan kelas dunia ini diraih PHR dalam program konservasi gajah di Provinsi Riau. PHR bersama mitranya Rimba Satwa Foundation (RSF) dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau telah memasang GPS Collar sebanyak 5 unit untuk kelompok gajah di alam liar.
Upaya pemantauan yang dilakukan PHR dapat mengetahui pergerakan gajah secara real time, melalui sabuk GPS collar yang dikalungkan tersebut.
Selain kalung GPS, PHR juga menyumbangkan 18 unit kamera pengintai (camera trap) yang diletakkan di berbagai lokasi strategis di habitat gajah. Kalung GPS yang dipasangkan di leher gajah berfungsi untuk memonitor pergerakan kawanan gajah melalui satelit dan memberikan data lokasi keberadaan kelompok gajah.
“Dengan demikian potensi konflik gajah dan manusia dapat dimitigasi lebih dini. Sementara itu, kamera pengintai dipasang di sejumlah titik di kawasan perlintasan gajah guna memberikan informasi visual,” terangnya.
Sebagai informasi penghargaan Green World Environment Awards 2024 diberikan kepada perusahaan maupun organisasi dari seluruh dunia yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan melalui beragam kreativitas dan berjasa besar bagi lingkungan. Untuk kategori Fuel, Power & Energy/Conservation & Wildlife Projects PT PHR merupakan satu-satunya perusahaan
dari Indonesia yang menerima penghargaan ini.
Bisa dikatakan keberhasilan ini menjadi bukti nyata komitmen PT PHR dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup, khususnya melindungi populasi Gajah Sumatera di habitatnya. Program konservasi ini diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi habitat dan kelangsungan hidup Gajah Sumatera.
-“Upaya yang kami lakukan pada intinya untuk menggugah dan mengajak partisipasi masyarakat untuk berbagi pola ruang terhadap satwa yang dilindungi tersebut,” ujar Pinto.
Dibagian lain Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut Rikky Rahmat Firdaus mengapresiasi capaian yang diraih PT PHR.
Menurutnya PHR tidak hanya berfokus pada ketahanan energi, namun juga memberikan efek berganda bagi masyarakat dan lingkungan.
“Sebagai pengawas di industri hulu migas, kami bangga PHR menjadi salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang memberi kontribusi penting dalam mencapai salah satu target dalam rencana dan strategi (Renstra) Indonesia Oil and Gas 4.0 (IOG 4.0) yaitu menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Rikky.
Selanjutnya, Rikky menambahkan bahwa industri hulu Migas berkepentingan untuk terus berkontribusi dalam menjaga ekosistem lingkungan mengingat industri ini sebagian besar berada di bentangan perkebunan, hutan dan lautan.
“SKK Migas konsisten mendorong KKKS untuk menjalankan program lingkungan dengan identifikasi potensi dan inovasi yang berbasis pada kearifan lokal dan sumber daya alam. Program Konservasi Gajah Sumatra PHR adalah bukti nyata dari komitmen industri hulu migas tersebut dan telah berhasil diakui dunia,” pungkas Rikky.
Ya, Program konservasi gajah sumatera yang dijalankan PT PHR meraih penghargaan bergengsi Green World Environment Awards 2024 sebagai Global Winner untuk kategori Fuel, Power & Energy/Conservation & Wildlife Projects.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kembalinya Blok Rokan disambut suka cita oleh negeri yang didiami lebih dari 250 juta jiwa itu. Bahkan ada yang menyebut momen alih kelola tak ubahnya kembalinya ‘si anak hilang’.
Karena kembalinya Blok Rokan ke ibu pertiwi mengandung banyak makna mulai dari rasa nasionalisme, kebanggaan, pertaruhan anak negeri dibidang teknologi tinggi terlebih dalam dunia minyak dan gas atau Migas serta lainnya.
Khusus untuk pelestarian gajah Sumatera peran kiprah “si anak (pernah) hilang” terbilang habis-habisan, apakah itu dana, tenaga maupun pikiran demi menyelamatkan “sang datuk” dari kepunahan.
Ya, dari uraian panjang di atas dapat ditarik benang merah bahwa program agroforestri, pemasangan GPS, kamera trap dan sebagainya merupakan salah upaya
menyelamatkan gajah dari kepunahan akibat tergerusnya hutan melalui alih fungsi maka pada hakekatnya semua kalangan menyadari bahwa gajah yang masih tersisa merupakan titipan anak cucu kepada generasi sekarang. Siapkah kita dihakimi dan dihukum mereka ketika “sang datuk” tinggal cerita pengantar tidur ? ***